• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Author Archive Septian Nugraha

PIB dan Bappeda Inisiasi Kemandirian Ekonomi Berbasis Desa

Sigit Team Leader PIB memaparkan potensi usaha yang dikembangkan, bisa menjadi kemandirian di desa

Sigit Team Leader PIB, memaparkan potensi ekonomi di desa dan upaya membangun kemandirian ekonomi berbasis desa.

Program Inkubasi Bisnis (PIB) bersama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menjalin inisiasi kemandirian ekonomi berbasis desa. Hal ini disampaikan Kamis, (11/08) melalui lokakarya bersama di Aula Angling Dharmo Pemkab. Bojonegoro.

Team Leader PIB Sigit Agustiyono memaparkan, kemandirian ekonomi berbasis desa intinya memastikan desa tidak bergantung dengan bantuan dari pihak manapun. Desa harus mampu mengelola potensi-potensi ekonomi yang tersedia untuk kesejahteraan masyarakat desa itu sendiri. Strateginya dengan melalui pengembangan usaha produktif masyarakat yang terhubung dengan lembaga ekonomi masyarakat di tingkat desa.

Menurutnya, wacana yang sudah disepakati menunjukkan komitmen sinergi antar semua stake holder yang ada. Fokusnya adalah mengindentifikasi semua potensi ekonomi tersedia, kemudian mendorong peningkatan kemampuan masyarakat untuk memulai usaha produktif berbasis potensi lokal.

“Untuk kegiatanya, dalam bentuk pelatihan-pelatihan teknis produksi atau budidaya sesuai yang berkembang di masyarakat. Lalu tahap berikutnya, mulai di inisiasi lembaga ekonomi yang dibentuk dan dimiliki oleh masyarakat dalam rangka mendukung pengembangan usaha produktif masyarakat” ujar Sigit.

Selain itu, Sigit menambahkan, lembaga ini harus mampu memainkan peran akses permodalan, input produksi hingga perluasan jaringan. Kedepannya, ada integrasi antara usaha produktif masyarakat dengan lembaga ekonomi yang akan dibangun. “Bisa bentuknya Bumdes, Koperasi atau yang lainnya,” tambah Sigit.

Sementara itu, Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Bojonegoro mengatakan, program PIB dapat direplikasi untuk diterapkan dilevel desa disemua kecamatan. Program ini menarik karena melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

“Yang terpenting adalah desa mampu mengkonsolidasikan potensi modal, jaringan dan peningkatan keterampilan masyarakat, yang bermuara pada pengembangan usaha produktif dan terhubung dengan lembaga ekonomi masyarakat desa. Ditahap awal mungkin akan kita tentukan beberapa desa sebagai pilot project bersama,” pungkas Eryan Dewi.

Bersama Pemkab Bojonegoro, PIB gelar Lokakarya Membangun Kemandirian Ekonomi Berbasis Desa

Kegiatan lokakarya membangun kemandirian ekonomi berbasis desa di Aula Angling Dharmo Pemkab. Bojonegoro.

Kegiatan lokakarya membangun kemandirian ekonomi berbasis desa di Aula Angling Dharmo Pemkab. Bojonegoro.

Dalam rangka membangun kemandirian ekonomi berbasis desa, Pusat Inkubasi Bisnis (PIB) bersama Pemkab. Bojonegoro menggelar kegiatan lokakarya di Aula Angling Dharmo, Kamis (11/08) di Bojonegoro.

Lokakarya dibuka oleh Wakil Bupati Bojonegoro Setya Hartono. Dalam sambutannya, Setya meminta lokakarya benar-benar menjadi sumber inspirasi yang harus dilakukan oleh pemerintah bersama-sama dengan pihak swasta dan NGO.

“saya minta seluruh camat untuk mengidentifikasi potensi apa saja yang dapat dikembangkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi angka pengangguran. Memang benar, saat potensi sudah ditemukan tetapi tidak semua memiliki pemahaman bagaimana cara memaksimalkan potensi yang tersedia” tutur Setya.

Dalam kesempatan itu, Team Leader PIB Sigit Agustiyono memaparkan, kemandirian ekonomi berbasis desa intinya memastikan desa tidak bergantung dengan bantuan dari pihak manapun. Desa harus mampu mengelola potensi-potensi ekonomi yang tersedia untuk kesejahteraan masyarakat desa itu sendiri. Strateginya dengan melalui pengembangan usaha produktif masyarakat yang terhubung dengan lembaga ekonomi masyarakat di tingkat desa.

Menurutnya, wacana yang sudah disepakati menunjukkan komitmen sinergi antar semua stake holder yang ada. Fokusnya adalah mengindentifikasi semua potensi ekonomi tersedia, kemudian mendorong peningkatan kemampuan masyarakat untuk memulai usaha produktif berbasis potensi lokal.

Kegiatan lokakarya dihadiri juga oleh, delapan Kepala Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD), seluruh camat dan Kepala Seksi PMD (Pembangunan Masyarakat Desa) serta para pendamping Bumdes dan Pendamping Desa program Kemendes.

Kolaborasi Pengolahan Sampah Anorganik Bersama Kemenko Kemaritiman

Pelatihan pengolahan-sampah anorganik di rumah Si Pitung

Pelatihan pengolahan-sampah anorganik di rumah Si Pitung

Melalui Gerakan Budaya Bersih dan Senyum (GBBS), Marunda Urban Resilience In Action Alliance (MURIA) bersama Kemenko Kemaritiman menggagas pelatihan pengolahan sampah anorganik bertempat di rumah Si Pitung, Marunda.

Pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat keterampilan kelompok terkait pemanfaatan sampah anorganik. Hal ini sejalan dengan bank sampah yang dibentuk sejak April 2016, dijalankan dan dikembangkan oleh kelompok. Kegiatan diiukti sejumlah 35 peserta dari anggota-anggota kelompok dampingan MURIA.

Program MURIA adalah upaya untuk membangun kolaborasi kapasitas dengan berbagai pihak, salah satunya dengan pemerintah yakni  Kemenko Kemaritiman

Lokasi GBBS dilaksanakan di 10 wilayah dan Marunda menjadi lokasi pencanangan, karena dinilai merupakan lokasi ideal dimulainya kegiatan. Selain itu, Marunda sebagai lokasi pariwisata, sehingga perlunya untuk menyadarkan masyarakat pentingnya kebersihan dan keramahan lingkungan pariwisata.

Salina: Belajar di Bina Swadaya untuk Timor Leste

Rarahana Salina

Rarahana Salina

Ketika lepas sambut direktur Bina Swadaya Konsultan (BSK), tampak Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya Bambang Ismawan dan istri hadir bersama sosok perempuan muda eksotis berambut panjang berbaju hitam. Ia duduk berdampingan satu meja dan begitu terlihat akrab.

Tatkala rangkaian kegiatan sampai di penghujung acara, barulah Pak Bambang mengenalkannya. “Namanya Rarahana Salina dari Timor Leste, sedang belajar (magang) bersama kita selama 2 bulan”, ucap Pak Bambang sambil meminta Salina kedepan untuk cerita kegiatannya.

Perempuan yang biasa dipanggil Salina ini, mengenal Bina Swadaya ketika aktif kegiatan pemberdayaan. “Pengalaman saya paling banyak di pemberdayaan masyarakat saat di Oxfam selama 5 tahun. Kemudian mengenal nama Bina Swadaya, dan mendapat informasi dari Romo Eduardo, Kepala Sekolah Kolese Kanisius Jakarta” cerita Salina.

Ia menjelaskan, tujuannya belajar di Bina Swadaya adalah konsepnya yang sesuai dengan visi misi dan keinginannya dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, untuk dikembangkan di negaranya Timor Leste.

“Waktu baca profil Bina Swadaya, saya rasa banyak kesamaan dengan visi misi saya sebagai aktifis pemberdayaan”, tuturnya.  Selain itu, ingin belajar di Bina Swadaya, karena Ia sebagai bagian dari masyarakat, mau mengabdi dan bermanfaat untuk negaranya,

Menurutnya, di Bina Swadaya ada satu konsep yang ditekankan dalam kegiatan pemberdayaan adalah masyarakat bisa mandiri dan kesadaran sosialnya di bangun. Hal ini yang sangat dibutuhkan untuk masyarakat di Timor Leste.

“Pengalaman setelah Timor Leste merdeka dan mengalami proses berkembang, hanyalah bersifat politis. Tidak ada kebijakan terkait, bagaimana berkembangnya potensi masyarakat disana,” ucap perempuan yang menempuh studi Sosiologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini.

Ia menambahkan, kebanyakan program atau proyek 80 % berasal dari perusahaan asing. Dana dari pemerintah pun semuanya terserap ke fisik atau infrastruktur, sehingga potensi masyarakat di Timor Leste kurang berkembang.

Lebih lanjut, masalah lain pun muncul. Kebanyakan pemuda-pemudi ke luar Timor Leste untuk kerja, ke Eropa semua. Akhirnya perhatian pada masyarakat sendiri untuk membangun desa yang lebih makmur dan lebih baik kedepannya, ini menjadi isu utama di Timor Leste.

“Ini akibat, tidak adanya konsep yang jelas bagaimana membangun Timor Leste yang lebih baik”, tuturnya.

Menurutnya, ini menjadi tantangan bagi Timor Leste yang hadir di tahun millennium, diwaktu yang penuh kerumitan, dengan system ekonomi yang sangat kapitalis serta orientasi negara baru merdeka yang ingin mengembangkan potensi rakyatnya, menjadi suatu kendala yang besar sekali.

Belajar di Bina Swadaya, baginya menjadi tempat untuk belajar menghadapi berbagi tantangan-tantangan itu. Kemudian, belajar bagaimana cara mengabdi pada masyarakat, dan bagaimana turut membangun suatu negara yang idealis. “Kongkritnya, saya akan banyak belajar di lapangan nanti”, katanya.

Harapannya, setelah banyak belajar di Bina Swadaya, Salina akan share ke teman-temannya di Timor Leste. “Setelah di Bina Swadaya, saya akan banyak informasi untuk teman-teman dan komunitas di sana”, harapnya.

Akhir sambutannya, Salina merasa senang bisa saling berbagi wawasan, dan terima kasih untuk kesediaan Pak Bambang dan teman-teman di Bina Swadaya yang banyak memberikan motivasi dan pengetahuan, bagaimana mengembangkan memberdayakan masyarakat yang berkelanjutan, membangun solidaritas dan kesadaran sosial.

Septian Ginanjar

BSK Siap Hadapi Tantangan Kedepan

Lepas Sambut Direktur BSK

Foto bersama Lepas Sambut Direktur Bina Swadaya Konsultan

Saat memberi sambutan lepas sambut Direktur, Ari Primantoro menjelaskan, tantangan yang harus dihadapi Bina Swadaya Konsultan (BSK) kedepan adalah dana-dana donor sudah mulai susah dan jarang serta kegiatan corporate berupa tanggung jawab sosial pun berkurang.

“Saya melihat, baca-baca dan mengamati kondisi sekarang, dana CSR mulai turun, kegiatan pertambangan mulai lesu. Ini menjadi tantangan untuk direktur baru Bu Frida, karena kita tidak bisa berharap banyak dari corporate”, kata Ari.

Lebih lanjut ia menuturkan, tantangan inipun sepertinya sudah terjawab dan mulai diimplementasikan, yakni dengan mengembangkan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) sebagai produk yang bisa dikembangkan, “jika sudah banyak pengalaman dan punya model bisa kita konseptualisasi, dan menjadi acuan yang full pastisipatif”, tuturnya.

Pembina Yayasan Bina Swadaya Bambang Ismawan menilai, BUMDes menjadi kesempatan bagus bagi kita untuk mentransformasikan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) ke dalam kegiatan lembaga bernama BUMDes.

“kita akan beri penguatan lembaga di desa (capacity building), sehingga desa menjadi maju dan mandiri. Indonesia ini ibarat pohon, dan desa menjadi akarnya. Jika desa-desanya maju, produktif, mandiri dan makmur, maka Indonesia menjadi kuat dan kokoh”, ungkap Bambang Ismawan.

Rinistisan BUMDes yang dilaksanakan di Kab. Batang, menurutnya telah membuat ketertarikan di daerah-daerah lain, sehingga tantangan kita kedepan, bagaimana mendapatkan tenaga-tenaga yang mampu melakukan fungsi sesuai visi misi Bina Swadaya.

Komisaris BSK M. Suryo Dwianto Agung Nugroho menambahkan, tantangan kedepan bagi BSK lainnya adalah dengan tetap mengembangkan Bisnis Bersama Masyarakat (BBM). Kegiatan kewirausahaan sosial berupa BBM, akan menjadi alternatif kegiatan pemberdayaan masyarakat.

“Kita tidak akan tergantung pada proyek-proyek, tapi program pengembangan BBM yang kita lakukan bisa lebih solid. Seperti mengembangkan Griya Cerdas Bina Swadaya yang di Jogja supaya lebih hidup”, ucap Agung.

Komisaris berharap, dengan soliditas BSK, kita bisa memenuhi harapan, bahwa kita bisa membuat program BSK lebih kuat dan sustain dalam setiap pelaksanaannya.

Sertijab BSK, Kini Frida Widuratmi Menjabat Direktur

Lepas Sambut Ari Primantoro kepada Direktur BSK yang Baru Frida Widuratmi

Lepas sambut Ari Primantoro kepada Direktur BSK yang baru Frida Widuratmi

Selasa (8/9) pagi, Bina Swadaya Konsultan (BSK) menggelar lepas sambut atau serah terima jabatan (Sertijab) Direktur, antara Ari Primantoro dan Frida Widuratmi yang kini melanjutkan kepemimpinan BSK.

Frida Widuratmi yang sebelumnya menjabat Manajer Communication & External Relation, menyampaikan terima kasih atas kepercayaan keluarga Bina Swadaya, dan akan melanjutkan kesuksesan yang telah diukir sebelumnya oleh Direktur Ari Primantoro.

“Saya ucapkan terima kasih, dan saya akan melanjutkan tongkat estapet dari kesuksesan Pak Ari. Kedepannya, kita akan meningkatkan program kinerja BSK”, ucapnya.

Terkait program kerja, Frida menuturkan, setiap kegiatan pemberdayaan kita di masyarakat, jangan hanya mengejar finansial saja, tapi ada dorongan hati kita untuk berbuat yang terbaik bagi masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Ari Primantoro mengucapkan terima kasih atas pembelajarannya selama kurang lebih 26 tahun ia mengabdi di Bina Swadaya hingga jadi Direktur BSK.

“Dari tahun 1990 saya gabung di Bina Swadaya hingga kini, banyak pembelajaran yang saya terima ketika saya di Pusdiklat maupun di BSK, termasuk inspirasi yang saya dapat dari Pak Bambang Ismawan”, tuturnya.

Dalam sambuatnnya, Ari Primantoro berharap kedepannya BSK bisa lebih maju dan sukses dibawah arahan Direktur baru.  Kemudian, dapat menjalin kebersamaan yang baik untuk pelayanan kita pada masyarakat

Sertijab dihadiri oleh, Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya Bambang Ismawan beserta istri, Ketua Pengurus Paulus Wirutomo, Anggota Dewan Pembina Koeswandi, Komisaris BSK M. Suryo Dwianto Agung Nugroho dan Otok S. Pamuji beserta jajaran direksi dan karyawan BSK.

 

Bupati Yoyok Ajak Warga Desa Berinovasi Mendirikan Badan Usaha Milik Desa

dok. binaswadaya.org

Kabupaten Batang kini sedang merintis pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di seluruh desa. Inisiatif tersebut merupakan strategi Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo untuk mendorong partisipasi dan inovasi warga desa agar lebih mandiri.

“UU Desa akan membawa banyak uang ke desa. Sayang sekali jika tidak digunakan untuk membangun sesuatu yang memiliki dampak ekonomi berkelanjutan. Seluruh warga dapat menikmati. Warga harus mampu melangkah bersama selesaikan masalah perut dan kantong,” ujar Yoyok Riyo Sudibyo dalam keterangannya, Minggu (7/8/2016).

Ia menjelaskan, Konsep BUMDes yang sedang sangat fokus pada partisipasi warga. Dengan modal yang dimiliki, setiap BUMDes bisa mengelola proyek-proyek pembangunan desa. Selain itu, warga juga dapat memanfaatkan pinjaman modal dengan bunga ringan. Yoyok yakin strategi ini dapat mengurangi ketergantungan masyarakat desa pada rentenir, bahkan perbankan.

“Lembaga ini harus lahir dari masyarakat. Kalau satu dari seribu warga desa menyetor Rp 10 ribu per minggu saja, setiap BUMDes sudah punya simpanan Rp 40 juta setiap bulan,” lanjut Yoyok Riyo.

Tidak hanya sampai di situ, Yoyok juga sudah membangun komunikasi dengan beberapa perusahaan start-up untuk membantu pemasaran produk masyarakat desa. Kerja sama ini juga nantinya akan jadi bagian dari sistem yang sedang dibangun.

“Untuk membuat perut warga kenyang, kita tidak bisa hanya mengandalkan investasi dari korporasi besar dan menempatkan warga sebagai pekerja yang pasrah menunggu gaji bulanan. Warga hingga tingkat terkecil harus terus dibantu berinovasi,” pungkas Yoyok Riyo.

Ia menambahkan, model serupa bisa diterapkan di kelurahan di kota-kota besar, terutama di perkampungan miskin.

“Coba bayangkan kalau sistem itu diterapkan di setiap kelurahan di kota besar. Ada berapa banyak usaha kecil yang dapat lebih terangkat,” tutup peraih Bung Hatta Anti-Corruption Award itu.

Kendati demikian, Yoyok mengingatkan bahwa elemen penting dari pendirian BUMDes adalah transparansi. Pasalnya apabila tradisi transparansi tidak dibangun, maka BUMDes akan bernasib sama dengan jutaan Koperasi Unit Desa (KUD) di Indonesia, yang bangkrut akibat praktik korupsi dan spekulasi. (news.detik.com)

Pelatihan Kepemimpinan Bagi Perempuan Marunda

Suasana pelatihan penguatan kapasitas kepemimpinan bagi perempuan Marunda

Suasana pelatihan penguatan kapasitas kepemimpinan bagi perempuan Marunda

Dalam rangka mendorong penguatan kapasitas masyarakat RW 07 Marunda, khususnya kapasitas kepemimpinan perempuan, Tim Marunda Urban Resilience in Action (MURIA) bersama Care Indonesia selenggarakan pelatihan penguatan kapasitas kepemimpinan bagi perempuan Marunda.

Pelatihan yang dilaksanakan di Wisma Hijau Cimanggis Depok Jawa Barat ini, bertajuk “Perempuan Hebat Punye Cerite”. Peserta yang hadir sejumlah 20 perempuan mewakili tiap RT di wilayah RW 7 Marunda.

Saat pelatihan, Tim Care menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk penguatan kapasitas dan keterampilan kepemimpinan perempuan dalam berkomunikasi, menyusun rencana, penyelesaian masalah, dan pengambilan keputusan.

Pelatihan Calon Pelatih CARE-MURIA

Selanjutnya, peserta yang telah dilatih, nantinya akan menjadi pelatih/kader di komunitas sekitarnya, guna menyebarkan dan berbagi informasi, pengetahuan dan keterampilan yang telah didapatkannya selama pelatihan.

Dalam mempersiapkan para trainer ini, dilakukanlah coaching (pendampingan) pada para kader sebelum terjun ke masyarakat sebagai pelatih. Hal ini dilakukan, untuk memperdalam materi-materi yang akan disampaikan pada saat melatih. Training oleh para kader kepada komunitas lingkungannya ini akan dilakukan pada Juli – Agustus.

Kedepannya, akan ada pelatihan lanjutan untuk perempuan yakni, materi melek keuangan (financial literacy), manajemen stres dan target. Agenda pelatihan lanjutan ini rencananya akan dilaksanakan September 2016.

HOT Beri Pengembangan Wawasan OpenStreetMap

Wulansari mempresentasikan cara penggunaan OpenStreetMap

Wulansari mempresentasikan cara penggunaan OpenStreetMap

Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) bersama Bina Swadaya Konsultan (BSK) gelar pengembangan wawasan tentang OpenStreetMap (OSM), Rabu (27/7) di Gedung Wisma Janakarya, Jl. Gunung Sahari 3, Jakarta Pusat.

Training Officer HOT Wulansari Khairunisa menjelaskan, bedanya OSM sebagai peta online dengan peta umun lainnya adalah semua orang bisa akses, modifikasi dan kontribusi asalkan punya account OSM.

“OSM itu peta berbasis online yang punya kelebihan terbuka, bebas, gratis, bisa diedit dan semua orang bisa berkontribusi, dan tentunya sangat mudah dipakai” ucap Wulan.

Menurutnya, kita bisa membuat proses pemetaan untuk komunitas salah satunya yang dilakukan di program MURIA Marunda. Prosesnya adalah tentukan daerahnya yang dipetakan, lalu persiapan survei dengan bawa GPS untuk merekam titik koordinat dan jalur treking kita. Kemudian pengumpulan data (survei lapangan), input data survei, download area, edit peta OSM , upload perubahannya, dan lihat hasil perubahan di web OSM.

Wulan menceritakan, untuk program MURIA pelatihan berlangsung selama tiga hari. Kemudian, kurang lebih tiga minggu kelompok pemuda berlatih cara menambahkan objek di OSM dan survei lapangan menggunakan OSMTracker, peta cetak dan form survei.

Direktur BSK Frida Widuratmi berharap, OSM yang diterapkan di MURIA bisa mengispirasi kegiatan program BSK lainnya. Hal inipun diamini Manager Program Ikasari, kedepannya dengan menerapkan OSM kita dapat memetakan segala kegiatan kita.

Inspirasi dari Lembah Kemuning

Sudarmoko

Sudarmoko

Daerah yang subur sudah pasti masyarakatnya makmur. Begitulah padangan banyak orang tatkala melintas di pedesaan subur dan masyarakatnya mampu membangun daerahnya serta pandai memanfaatkan alam sekitar.

Tampak landscape Gunung Ciremai mempersembahkan keindahan panorama alam pegunungannya, serta memberi sumber penghidupan bagi masyarakat, termasuk Desa Cigugur yang berdad di bawah kaki sang gunung terbesar di Jawa Barat ini.

Desa Cigugur terlihat ramai dikunjungi. Karena disinilah tersedia Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) yang dijadikan education tourism dan diminati banyak orang.

Disinilah kita bisa belajar pertanian dan perkebunan. Kemudian peternakan sapi serta produksi susu sapi murni pun banyak dihasilkan. Tempat inipun menjadi tujuan kami untuk belajar banyak hal, terutama pada sang empunya yakni Pak Sudarmoko, atau sering di panggil Pak Moko.

Tahun 2007, Pak Moko membeli lahan di desa Cigugur lalu perlahan dan pasti membangun Lembah Kamuning Farm (LKF). Ketertarikannya pada usaha ternak sapi, hanya karena berpapasan dengan truk pembawa sapi melewati jalan desa. Kemudian Pak Moko telusuri, dan tampak rongrongan tengkulak yang membawa kesengsaraan untuk peternak sapi. Pembayaran yang tidak benar serta pengelolaan ternak selama di perjalanan sangat merugikan. Peternak hanya menerima sekitar 50% hasil penjualan, sedangkan yang tidak laku dikembalikan.

Diskusi bersama Pak Sudarmoko di lokasi training

Diskusi bersama Pak Sudarmoko di lokasi training

Pak Moko memulai usaha ternak sapi. Walaupun selama 6 tahun (2006 – 2013), sempat ditinggalkan untuk bekerja di Counterra New Zealand sebagai direktur koperasi peternak susu sapi perah. Setelah pensiun dari Counterra, mulailah serius usaha ternaknya dan membangun fasilitas yang diperlukan seperti bangunan pendingin susu, maupun sarana penelitian.

Selama perjalanan membangun ternak sapi, Pak Moko menginisiasi berdirinya Koperasi Gapura Sehat (Gabungan Pelindung Usaha Rakyat Sing Eling Hirup Ayak Tutugna). Sekarang anggota koperasi sudah ada sekitar 200 orang. Jumlah sapi yang ada sekitar 1200 ekor.

Peternakan sapi yang dibangunnya, tidak hanya sekedar peternakan sapi biasa, melainkan menggunakan pendekatan integrated mix farming seperti, 1) produk susu sapinya untuk dijual, 2) Kotorannya untuk pupuk (feces dan kencing), 3) Produk olahan susu seperti yogurt dan sabun, 4) Menyediakan pakan ternak sendiri dan 5) Membuat pusat penelitian: pupuk cair untuk tanaman, udang, jahe merah

Untuk pusat penelitian LKF bekerjasama dengan IPB. Hasil penelitian pupuk cair dikembangkan di Sulawesi untuk tanaman coklat, di Tumpang untuk budidaya udang, tanaman padi dan lain-lain. Bekerjasama juga dengan East West Seed (EWS) untuk supervise.

Saat ini LKF menjadi pusat pelatihan swakarsa untuk integrated mix farming. Di sekitar lokasi ada peternakan sapi, bio flog untuk lele, pengolahan produk olahan susu. Banyak tamu yang datang dan belajar baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Hasil kunjungan kami di LKF, banyak yang dapat kami saksikan secara langsung bagaimana dari seekor sapi dapat menghasilkan berbagai manfaat seperti; susu dan daging untuk dikonsumsi, kotoran dan air seni digunakan sebagai pupuk maupun bahan bakar keperluan memasak dan lain-lain, sehingga sangatlah tepat jika Lembah Kemuning dijadikan wisata agro dan edukasi di Kabupaten Kuningan.

Ana Budi Rahayu

(Kegiatan Pembelajaran di Lembah Kamuning Farm, Desa Cigugur- Kuningan-Jawa Barat)