• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Author Archive Septian Nugraha

Berkebun di Kantor, Urban Farming ala BSK

Ana Budi Rahayu menikmati kegiatan urban farming di kantor BSK

Ana Budi Rahayu menikmati kegiatan urban farming di kantor BSK

Kegiatan berkebun di perkotaan (urban farming) menjadikan berkebun bisa dilakukan di mana saja dan oleh siapa saja. Ketersediaan lahan terbatas bukanlah suatu halangan untuk patahkan semangat ingin berkebun.

Selama ada keinginan dan kemauan keras, dimanapun tempatnya bisa digunakan untuk berkebun.  Salah satunya memanfaatkan lahan kantor, seperti yang dilakukan Ana Budi Rahayu di kantor Bina Swadaya Konsultan (BSK) lantai 4 Gedung Wisma Janakarya Jakarta Pusat.

Ide berkebun di kantor menurut Ana, berawal memanfaatkan waktu luang dari rutinitas kerja. “Biar gak monoton urusin kerja terus, senang bisa sambil berkebun, yang penting kerjaan kan beres” tutur Ana penuh semangat.  Kemudian adanya ruang hijau kantor enak dipandang dan bisa membantu menjaga produktifitas kerja kita.

Ana menambahkan, berkebun itu tidak hanya penghias saja, tentunya memiliki manfaat. “Ini bisa jadi alternatif penghilang kepenatan saya dan teman- teman lainnya dari menatap layar komputer selama berjam-jam saat pekerjaan kantor menumpuk” tambah Ana.

Selain itu, berkebun di kantor bisa menyuplai udara segar nan sejuk, serta tidak ketinggalan yakni memperindah kantor menjadi lebih hijau, membuatnya menjadi lebih asri dan nyaman.

Meski baru mengawali, Ana yang di bantu Pak Herman tampak semangat dan senang melakoni kegiatan barunya ditengah rutinitas pekerjaan. Toko Trubus pun ia sambangi bolak-balik buat cari kebutuhan berkebun, seperti beli tanah, polybag, benih untuk penyemaian, sekop, dan lainnya. Tidak lupa biourine disiapkan sebagai nutrisi tanaman dari proses biogas urin sapi yang difermentasi, di dapat langsung dari Ciomas Bogor.

Saat ini, tanaman sawi yang di tanam akhir tahun lalu sudah berapa kali panen dan kini tersedia banyak di beberapa pot dan polybag dengan tumbuh dan mekar. Selanjutnya, rencana kedepan beberapa sayuran disiapkan seperti kangkung, cabe, terong dan lainnya. Hasil panen dari kegiatan berkebun di kantor bisa dinikmati oleh seluruh karyawan.

Apa yang dilakukan Ana, mencoba ikut andil dengan memberikan kontribusi untuk lingkungan, yang diwujudkan dengan memanfaatkan lahan di kantor. Ana mewujudkan aksi hijaunya dengan membuat suasana yang lebih nyaman dan enak di pandang. Selain itu, untuk menyebarkan semangat positif peduli lingkungan di perkotaan dengan program urban farming yang juga bisa diterapkan di perkantoran.

Berkebun selain mengasyikkan, juga membantu memberikan ruang terbuka hijau dan ketahanan pangan. Untuk saat ini, berkebun bukan hanya pekerjaan petani yang konvensional saja, tetapi bisa menjadi budaya baru bagi karyawan kantoran yang tak hanya bermanfaat secara ekologi tetapi punya nilai ekonomi dan estetika.

Berkebun di kantor tidak hanya soal tren semata, melainkan menjadi kesadaran untuk mewujudkan budaya baru yang ramah lingkungan.

Septian Ginanjar

Sinergi Bank Sampah dan Urban Farming

Urban Farming dan Bank Sampah

Kegiatan bank sampah dan urban farming yang di galakan warga RW 7 Marunda, ternyata dilakukan secara bersinergi. Artinya saling berkolaborasi dan memberi manfaat satu sama lain diantara kedua kegiatan yang dilakukan.

Ibu Sari dari Marunda Kepu menceritakan, kegiatan pemilahan bank sampah dapat menghasilkan sampah anorganik yang bermanfaat, seperti ember, kaleng, botol, gelas yang bekas untuk dijadikan media tanam di lahan yang sempit.

Selain itu, sampah organik yang dikumpulkan bisa membuat kompos dan pupuk cair guna memenuhi kebutuhan penanaman yang dilakukan kelompok kegiatan urban farming.

Kelompok Tulip di rusun C1 bahkan berinisiatif membuat kompos secara mandiri menggunakan bahan-bahan yang didapat dari sampah organik di lingkungan sekitar. Kompos yang dibuat dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan media tanam di lahan pekarangan rusun.

Kegiatan urban farming yang lebih dulu berjalan, sudah merasakan hasilnya walaupun masih untuk kebutuhan pemenuhan gizi keluarga. Bank sampah yang baru berjalan pun, telah memberi manfaat bagi warga, sehingga sampah tidak lagi berserakan mengotori lingkungan sekitar, serta warga semakin peduli terhadap kebersihan di Marunda

Kegiatan bank sampah dan urban farming merupakan kegiatan yang bermanfaat dan tentu bisa saling terintegrasi satu sama lain.

Semangat Gerakan Bank Sampah di Marunda

Anggota Kelompok Bank Sampah berkumpul untuk melakukan penimbangan sampah

Anggota Kelompok Bank Sampah berkumpul untuk melakukan penimbangan sampah

Kini, warga RW 7 Marunda semangat dalam mengkembangkan bank sampah di tiga wilayah yakni, Marunda Kongsi, Marunda Kepu, dan rumah susun cluster C1, C2, dan C4.

Kiki selaku tim MURIA (Marunda Urban Resilience in Action) dan fasilitator kegiatan menuturkan, telah tersusun kelompok bank sampah yaitu, Kelompok Srikandi di Marunda Kongsi (RT 4,5,6), Kelompok Kartini di Marunda Kepu (RT 8,9), dan di rumah susun Kelompok Tulip, Mahoni dan Teratai (C1, C2, dan C4).

Adapaun kegiatan ini dilakukan April 2016. Prosesnya mulai sosialisasi, pembentukan pengurus bank sampah, pelatihan membuat kompos organik dari dapur rumah tangga dan kegiatan pengumpulan sampah anorganik.

Menurutnya, pemilahan sampah organik dan anorganik dimulai dengan mendorong inisiatif pemilahan dari rumah tangga. Bank sampah akan menerima sampah anorganik yang bersih, sehingga akan mempermudah pengurus dalam pengumpulan dan pemilahan (sortir).

Kegiatan bank sampah ini sesuai dengan harapan warga guna menanggulangi polusi sampah yang banyak berserakan dan mengotori lingkungan. Tentunya, kegiatan ini pun dapat menumbuhkan potensi ekonomi bagi warga Marunda.

Mewakili PIB, Ifa Ikuti Forum CIF 2016

Kegiatan Ifa Jumrotun Naimah saat merawat kroto.

Kegiatan Ifa Jumrotun Naimah saat merawat kroto.

Mengutip dari beberapa media, Ifa Jumrotun Naimah (34) beserta dua perempuan tangguh lainnya yakni Rofiah Nur Aidah guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Desa Begadon dan Nur Afidatul Muawanah perajin batik terpilih untuk ikut CeweQuat Internationale Forum (CIF) 2016, Jumat (15/4) di Jakarta.

Ifa, biasa dipanggil adalah anggota PIB (Pusat Inkubasi Bojonegoro) pengusaha sukses ternak kroto atau semut rangrang dan bendahara Asosiasi Rangrang Abang di Desa Sudu, yang  beranggotakan 30 orang dari empat desa yaitu Desa Katur, Begadon, Sudu dan Ngraho di Kabupaten Bojonegoro.

Asosiasi untuk Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos) Indonesia yang memfasilitasi ke tiga perempuan tersebut untuk ikut acara CIF.

Menurut Ketua Ademos Indonesia, Moh. Kundori, memberdayakan dan mengembangkan potensi perempuan di era digital, memiliki tantangan tersendiri. Meski begitu, ada banyak peluang emas yang bisa diambil para wanita untuk berkembang dan meraih kesuksesannya. “Maka dari itulah, Ademos mengirim ketiga perempuan tangguh itu,” ucapnya.

Bertempat di Ballroom Kuningan City, CIF 2016 akan menghadirkan experts yang mampu memberikan inspirasi kepada para wanita dalam karir maupun pengembangan diri. Seperti Betty Alisjahbana (Former CEO IBM Indonesia, Founder & Commissioner PT. Quantum Business International, 1 dari 9 srikandi yang dipilih Presiden Joko Widodo untuk menjadi panitia seleksi ketua KPK), Petty S. Fatimah (Chief Editor dan Chief Community Officer Femina), Adrianna Tan (Founder Wobe, Singapore), dan Wulan Tilaar (Vice Chairwoman Martha Tilaar Group) dan Shannon Kalayanamitr (Group CMO of ORAMI, Thailand).

Di sesi Meet The Mentors, peserta nantinya akan belajar dari para Mentor CeweQuat yaitu Ollie (book author, CCO Zetta Media Networks), Hanifa Ambadar (Founder & CEO Female Daily Network), Nilam Sari (Owner & Marketing Director Babarafi Enterprise), Imelda Fransisca Miss Indonesia 2005, book author & VP Olympic Development.

Kemendes Bangun Gerakan Pangan Lokal Berbasis Desa

Tanam padi organik sistem SRI Jajar Legowo untuk mendukung swasembada pangan lokal di Gayam Bojonegoro

Kegiatan tanam padi organik sistem SRI Jajar Legowo untuk mendukung swasembada pangan lokal di Gayam Bojonegoro

Pertanian desa merupakan basis terpenting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Karena itu, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) terus melakukan berbagai program penguatan pertanian lokal desa.

“Kalau bicara ketahanan pangan nasional, maka desa adalah penyedia utama sumber pokok pangan nasional. Makanya kita lakukan berbagai program yang memperkuat petani desa,” ujar Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kemendes PDTT Ahmad Erani Yustika dalam Temu Penggerak Pangan Lokal oleh Petani Desa, di Jakarta, Senin (30/5).

Erani menjelaskan, Kemendes PDTT membuat tiga pilar Matra Pembangunan Desa dalam memperkuat kemandirian pangan desa. Pertama, menguatkan Jaringan Komunitas Wiradesa di tingkat petani dengan meningkatkan kapabilitas dan kapasitas petani sebagai subjek pengolahan sumber daya pertanian.

Kedua, mewujudkan kemandirian ekonomi desa melalui redistribusi kepemilikan aset produktif, seperti lahan, modal, dan sebagainya secara berkeadilan. Sedangkan, yang ketiga adalah mendorong partisipasi dan kerja sama masyarakat dalam memuliakan pangan khas lokal sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan dan dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat.

“Desa memiliki prospek yang sangat besar bagi perwujudan kedaulatan pangan nasional. Sedangkan, komoditas hasil pertanian desa merupakan bahan baku utama dalam industri pengolahan makanan dan energi baru ramah lingkungan. Memang sangat strategis sekali posisi pertanian desa ini,” tandas Erani.

Acara Temu Penggerak Pangan Lokal oleh Petani Desa yang digelar Direktur Pelayanan Sosial Dasar (PSD) Ditjen PPMD Kemendes PDTT menghadirkan praktisi dan aktivis desa. Di antaranya Bambang Ismawan (Yayasan Bina Swadaya), Maria Loretha (Penggerak Petani Sorghum), Sudarmoko (Integrated Farming Lembah Kamuning Cigugur), Nissa Wargadipura (Pesantren Ekologi At-Thariq Garut), Hira Jamthani (penulis buku Lumbung Indonesia), Benito Lopulala (Gerakan Ekonomi Solidaritas Indonesia), Riza Damanik (Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia), serta sejumlah aktivis desa lainnya.

Direktur Pelayanan Sosial Dasar pada Ditjen PPMD Hanibal Hamidi mengatakan, pihaknya telah menggagas roadmap Gerakan Pangan Lokal Berbasis Desa. Langkahnya pun telah disiapkan, meliputi pemetaan terhadap jenis-jenis pangan khas Indonesia, baik per kecamatan, per kabupaten, maupun per provinsi.

“Kemudian perlu dilakukan sinkronisasi regulasi melibatkan kementerian/lembaga terkait lain. Meliputi pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, kelautan, dan yang lainnya,” ujar Hanibal.

Ia menambahkan, Gerakan Pangan Lokal Berbasis Desa tentunya mendukung perwujudan konsep Nawacita ketiga, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran. Dengan pertanian yang kuat, kesempatan desa untuk bangkit dan berkembang akan semakin cepat. Apalagi, gerakan ini juga menekankan pembangunan pertanian dari sisi sosial, ekonomi, dan ekologi. “Kita berupaya memaksimalkan keragaman hayati dan budaya desa sebagai kekuatan bangsa,” jelasnya.

Pendiri Pesantren Ekologi At-Thariq Garut, Nissa Wargadipura mengatakan, Gerakan Pangan Lokal Berbasis Desa yang digagas Kemendes PDTT memang sangat penting lantaran pertanian desa saat ini dikepung oleh sistem agroekonomi yang merusak. Petani desa bukan hanya lemah dalam penguasaan sumber daya, tetapi juga dihadapkan pada kenyataan pola tanaman yang merusak dengan pestisida.

“Makanya kami membuat terobosan agroekologi dan agroekosistem. Kami membuat kebun pekarangan dengan 450 jenis tanaman pangan dalam area lahan seluas 7.500 meter persegi. Hasil pertanian desa pun semakin asli dan tidak merusak,” ujarnya.

Dia menambahkan, kelestarian dan keaslian karakter desa pun tidak hilang. Malah kembali lestari seperti sediakala. Masih ada banyak kupu-kupu dengan berbagi pada malam hari banyak ada kunang-kunang mengelipkan cahaya. “Lalu gerombolan capung juga beterbangan sebagai tanda adanya air yang cukup segar di daerah kami,” tutur Nissa. (kemendesa.co.id)

Pengembangan BUMDes Kab. Batang Dalam Rangka Kewirausahaan Sosial

dok. binaswadaya.org

dok. binaswadaya.org

Kegiatan BUMDes di Kabupaten Batang Jawa Tengah akan dikembangkan dalam rangka kewirausaaan sosial, sebagai perwujudan keinginan Pemda Batang mengharapkan berkembangnya potensi di desa.

Keterlibatan Bina Swadaya yang memiliki pengalaman 4 dekade dalam pendampingan, penguatan kelompok masyarakat, evaluasi kinerja pendampingan dan peningkatan kapasitas personil pendamping, dapat mengoptimalkan peran KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) sebagai pelaku utama. Sehingga mampu mengakselerasikan tercapainya orientasi BUMDes dalam rangka kewirausahaan sosial.

Dalam pelaksanaan kurang lebih 8 bulan, akan dilaksanakan serangkaian kegiatan berupa, pemahaman tantangan dan potensi setempat, peningkatan kapasitas para pelaku, menumbuh-kembangan layanan keuangan mikro, kegiatan kewirausahaan, pengenalan dan pemanfaatan Teknologi Tepat Guna (TTG), membangun kemitraan dengan para pihak dan lainnya.

Sasaran kegiatan di 10 desa dan direncanakan sejumlah 2.500 Kepala Keluarga (KK) yang tergabung dalam 100 KSM dengan anggota 25 KK setiap kelompok.

Hasil yang diharapkan adalah berfungsinya KSM sebagai wadah kegiatan usaha produktif, BUMDes sebagai badan wirausaha sosial, sebagai layanan keuangan mikro, dan tumbuhnya usaha produktif di masyarakat.

Sebelumnya, Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo antusias menyambut gagasan Bina Swadaya.  Ia menyatakan mendukung penuh gagasan itu dan akan segara menerapkan gagasan BUMDes dalam waktu dekat. Yoyok juga sangat optimistis dengan dampak yang dihasilkan program tersebut bagi masyarakat perdesaan.

Peran Aktif Pemuda Membangun Peta Digital

capture - OpenStreetMap MURIA

capture – OpenStreetMap MURIA

Salah satu sasaran program Marunda Urban Resilience in Action (MURIA) adalah melibatkan pemuda untuk aktif membangun ketahanan masyarakat di wilayah RW 7 Marunda.  Kemudian dibentuklah kelompok pemuda yang terfokus pada pelatihan pemetaan lapangan.

Mengutip dari Humanitarian OpenStreetMap Indonesia (HOT) sebagai fasilitator kelompok pemuda menjelaskan, pemetaan lapangan ini untuk mengumpulkan data dan membuat peta daerah, agar masyarakat dapat mengetahui kondisi wilayah mereka, objek-objek dan potensi apa saja yang ada di Marunda.

Peserta pelatihan berasal dari warga RW 07 yang berjumlah 5 orang. Dengan terlibatnya warga lokal dalam pembuatan peta diharapkan informasi peta yang dikumpulkan akan lebih baik dan valid, karena warga lokal lebih mengetahui wilayah mereka. Selain itu, diharapkan hasilnya akan menjadi peta yang berasal dari komunitas itu sendiri.

Selanjutnya, Pelatihan pemetaan ini dibagi 2 tahap, yaitu pengumpulan data menggunakan OpenSteetMap dan pengolahan data dengan QGIS dan InaSAFE.

Pelatihan OpenStreetMap difokuskan untuk pengumpulan data lapangan di RW 07. Adapun objek yang dipetakan diantaranya fasilitas umum, jalan dan rumah penduduk (per KK). Kemudian, mereka juga mengumpulkan informasi mengenai kondisi sosialnya dan mengenai riwayat ancaman banjir yang kerap melanda Marunda, khususnya ketika musim penghujan datang. Pelatihan ini dilakukan selama 3 hari.

Selang 9 hari, berlanjut pada tahap pelatihan data dengan QGIS dan InaSAFE. Kelompok mengolah data tersebut hingga menghasilkan beberapa peta diantaranya peta fasilitas ekonomi, fasilitas pendidikan dan kesehatan, fasilitas sosial, peta sanitasi dan sumber air. Selain itu, mereka juga memanfaatkan InaSAFE untuk membuat peta bangunan terdampak banjir.

Menurut kelompok pemuda hasil kegiatan pemetaan tersebut memuaskan. Peta-peta RT hasil kegiatan dicetak ukuran A2 dan ditampilkan saat expo di Rumah Si Pitung.  Selain ditampilkan di ekspo, peta juga dicetak dan ditaruh di lokasi-lokasi strategis tempat dimana warga senang berkumpul.

Kini peta digital RW 07 Marunda yang detail sudah dapat diakses oleh siapa saja, mulai dari masyarakat, pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya. Diharapkan dari hasil pemetaan ini dapat menyatukan dan memberikan informasi kepada para pemangku kepentingan dalam membangun ketahanan masyarakat perkotaan.

Silahkan kunjungi karya kelompok pemuda Marunda di http://openstreetmap.id/muria/.

 

Urban Farming Perkuat Ketahanan Pangan di Marunda

Tim MURIA

Tim MURIA

Program urban farming diyakini mampu memperkuat posisi ketahanan pangan nasional. Upaya ini sebagai solusi atas semakin sulitnya mengupayakan lahan yang sempit di perkotaan.

Saat pameran “Marunda Berbagi : Festival Belajar Orang Marunda”, di Rumah si Pitung, Project Manager East West Seed Indonesia M. Hariyadi Setiawan mengatakan, keikutsertaan kegiatan pendampingan program Marunda Urban Resilience In Action Alliance (MURIA) sebagai bentuk kontribusi meningkatkan ketahanan masyarakat di Marunda.

“Kami tergerak untuk aktif terlibat di program MURIA guna meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan dasar, ataupun sebagai alternatif penghidupan bagi warga di Marunda” ucapnya.

Salah satunya adalah mendukung kegiatan urban farming dengan memberi benih yang berkualitas, terlibat pembuatan kompos dan belajar bersama cara bertanam agar mendapat hasil yang baik.

Sementara itu, menurut Direktur Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS) Edwin Saragih menuturkan, dilihat dari perkembangannya, ini bisa jadi motivasi masyarakat dalam meningkatkan nutrisi keluarga. “Seperti diketahui konsumsi sayuran di Indonesia masih terbilang rendah dibanding negara lain. Dengan urban farming, diharapkan dapat meningkatkan konsumsi sayuran dan memperoleh keuntungan ekonomi dari penjualannya” tuturnya.

Pameran kegiatan MURIA ini adalah kali kedua dan tampak lebih meriah, menunjukkan masyarakat sudah mulai kompak dalam melakukan beberapa upaya untuk perubahan yang lebih baik lagi.

Warga Marunda Unjuk Kebolehan

Kelompok urban farming memperlihatkan cara pembuatan kompos secara alami

Kelompok urban farming memperlihatkan cara pembuatan kompos secara alami

Dalam rangka ekspo bertajuk “Marunda Berbagi : Festival Belajar Orang Marunda”, warga Marunda dari RW 7 unjuk kebolehan hasil karyanya di Rumah si Pitung, Kelurahan Marunda, Jakarta Utara, Kamis (2/4).

Project Manager Ikasari menuturkan, acara tersebut untuk menampilkan karya dan pembelajaran tentang pertanian perkotaan (urban farming) yang sensitif terhadap ancaman bencana lokal sebagai upaya peningkatan gizi keluarga, alternatif usaha produktif, dan upaya pelestarian lingkungan.

Selain itu, kegiatan ini bertujuan guna mengkampanyekan inisiatif pengelolaan sampah organik dan anorganik melalui kelompok usaha sampah di komunitas. Menurutnya, tidak kalah penting adalah mensosialisasikan ikon seni budaya Marunda dan peta digital yang diakses secara online untuk wilayah RW 07 Kelurahan Marunda.

Menyiapkan presentasi peta digital RW 7 Marunda oleh Kelompok Pemuda

Kelompok pemuda sedang menyiapkan presentasi peta digital RW 7 Marunda

Selama ini, upaya meningkatkan ketangguhan masyarakat di wilayah Marunda, telah dilakukan melalui berbagai kegiatan program MURIA (Marunda Urban Resilience In Action Alliance) seperti, penguatan kapasitas kelompok dan kelembagaan oleh Bina Swadaya Konsultan

(BSK), pembentukan tim siaga dan penyusunan rencana kontigensi banjir di RW 07 bersama Forum Pengurangan Bencana (FPRB) DKI Jakarta,

Selanjutnya, kegiatan pendampingan usaha urban farming bersama Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS) dan East West Seed Indonesia serta penyusunan peta digital oleh kelompok pemuda RW 07 bersama Humanitarian Openstreetmap Team (HOT).

menjual sayuran organik hasil program urban farming

Kelompok urban farming menjual hasil panen sayuran organik

Program MURIA adalah bentuk kemitraan dalam upaya meningkatkan ketangguhan masyarakat perkotaan di Marunda meliputi kompleksnya persoalan urban dan terbatasnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah setempat, dan dunia usaha.

Pemkot Jakarta Utara Apresiasi Program Ketangguhan Masyarakat di Marunda

Audiensi BSK dengan Pemerintah Kota Jakarta Utara terkait pengembangan ketangguhan masyarakat di kawasan Marunda

Audiensi BSK dengan Pemerintah Kota Jakarta Utara terkait pengembangan ketangguhan masyarakat perkotaan di kawasan Marunda

Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara mengapresiasi langkah Bina Swadaya Konsultan (BSK) dalam membangun ketangguhan masyarakat perkotaan di kawasan Marunda. Hal itu diutarakan Wakil Walikota Wahyu Haryadi ketika melakukan audiensi di Ruang VIP, Kantor Walikota Jakarta Utara.

“Apa yang telah dilakukan BSK dalam penataan dan pemberdayaan masyarakat di RW 07 Kelurahan Marunda patut diapresiasi. Bagaimana kita bersama-sama peduli dan bersinergi dalam meningkatkan sosial ekonomi masyarakat. Apalagi di Marunda termasuk lokasi 12 jalur destinasi wisata pesisir yang bisa menarik pengunjung,” ungkap Wahyu Haryadi.

Sementara itu, Manajer Program BSK Ikasari menyatakan, terpilihnya RW 07 Marunda sebagai pilot project program membangun ketangguhan masyarakat perkotaan dikarenakan kawasan itu memiliki potensi komunitas yang bisa dikembangkan.

“Melalui audiensi ini, kami mengharapkan adanya masukan dan arahan dari Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara dalam mengembangkan progam di kawasan Marunda,” ujar Ika.

Di kawasan Marunda yang dulunya terpinggirkan kini menjadi pusat perhatian pemerintah ataupun swasta. Tak hanya pembangunan infrastruktur saja melainkan bagaimana mengubah cara pandang masyarakat dalam menata masa depan yang lebih baik.

Jika berjalan beriringan maka kawasan Marunda tak lagi terpinggirkan tapi terpandang yang didukung dengan masyarakat yang berkualitas dan mandiri. (Kominfomas Jakarta Utara)