• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Author Archive Septian Nugraha

Perlu Ditumbuhkan Kesadaran Masyarakat Manfaatkan Dana Desa

BUMDES/ilustrasi

BUMDES/ilustrasi

Dana desa yang berjumlah triliunan rupiah akan memberikan dampak besar bagi masyarakat. Namun, masyarakat juga harus siap untuk menerima dan memanfaatkan dana tersebut.

Paulus Wirutomo, Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia, mengatakan kesiapan dan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan dana desa tersebut sangat penting untuk didorong, agar dana desa memiliki manfaat yang merata. Paulus menawarkan model-model pemberdayaan desa melalui penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

“Pemerintah daerah harus menjadikan BUMDes sebagai motor pembangunan desa yang modern dan menguntungkan, agar semua masyarakat desa mendapatkan manfaat,” katanya di Jakarta, Senin (21/03).

Bagi Paulus, Kabupaten Batang sudah memiliki modal dasar untuk menguatkan BUMDes karena memiliki alam yang produktif. “Kami juga ingin menggandeng kepala daerah yang inovatif untuk mencapai target program ini,” katanya.

Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo antusias menyambut gagasan Paulus dan Lembaga Bina Swadaya.  Ia menyatakan mendukung penuh gagasan tersebut  Ia mengatakan akan segara menerapkan gagasan BUMDes n dalam waktu dekat. Yoyok juga sangat optimistis dengan dampak yang dihasilkan program tersebut.

“Jika program penguatan BUMDes ini berhasil, Nawa cita yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo akan memberikan dampak yang luas bagi masyarakat pedesaan di Indonesia,” tutup Yoyok. (www.republika.co.id)

Pembekalan Lingkungan Sehat untuk Motivasi SDN 6 Mekarsari Raih Adiwiyata

Siswa SDN 6 Mekarsari diberi pemahaman tentang pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat

Siswa SDN 6 Mekarsari diberi pemahaman tentang pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat

Selain memberikan pelatihan Pengurangan Risiko Bencana (PRB), Tim Emergency Response (ER) Bina Swadaya pun memberi pembekalan tentang lingkungan sehat. Materi tambahan ini pun disampaikan sebagai motivasi dan dukungan terhadap SDN 6 Mekarsari yang mengikuti lomba Adiwiyata.

Dian ketua pelaksana kegiatan PRB menjelaskan, sesuai informasi bahwa SDN 6 Mekarsari termasuk salah satu sekolah yang diusulkan dalam program Adiwiyata. Untuk itulah, ER Bina Swadaya memberi materi tambahan tentang lingkungan sehat, ini sebagai dukungan agar SDN 6 Mekarsari bisa meraih predikat Sekolah Adiwiyata.

Menurutnya, materi yang disampaikan tentang menjaga lingkungan bersih, hijau, dan pencegahan banjir. Kemudian menjaga kesehatan tubuh dari penyakit diare dan demam berdarah. “kita bersama sekolah mendorong untuk budaya lingkungan bersih dan sehat, dan harapannya kita bisa menjaga kelestarian lingkungan di sekolah” harap Dian.

Kedepan, pihak SDN 6 Mekarsari mengharapkan agar Bina Swadaya selalu berkontribusi untuk sekolah dalam mendukung program lingkungan yang bersih dan sehat.

Mengutip dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), program Adiwiyata adalah salah satu program KLH  dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam program ini diharapkan setiap warga sekolah ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat serta menghindari dampak lingkungan yang negatif.

Tujuannya adalah menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah, sehingga dikemudian hari warga sekolah dapat turut bertanggungjawab dalam upaya-upaya penyelamatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan utama program Adiwiyata adalah mewujudkan kelembagaan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan bagi sekolah di Indonesia.

ER Bina Swadaya Beri Pelatihan PRB di SDN 6 Mekarsari

Diskusi kelompok hasil school watching, untuk selanjutnya dipresentasikan oleh siswa SDN 6 Mekarsari

Diskusi kelompok hasil school watching, untuk selanjutnya dipresentasikan oleh siswa SDN 6 Mekarsari

Tim Emergency Response (ER) Bina Swadaya Sabtu (10//4), adakan pelatihan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di SDN 6 Mekarsari Cimanggis Depok Jawa Barat. Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama dengan Karang Taruna Mekarsari.

Sekitar 150 siswa dari kelas 4 dan 5 tampak antusias belajar dan bermain. Saat menyampaikan informasi kegiatan Nino yang menjadi fasilitator mengatakan, materi PRB lebih atraktif dan disesuaikan dengan kemampuan anak-anak supaya mudah dipahami. “Materinya mudah dipahami dan anak-anak senang mempelajarinya”, tutur Nino.

Ada tiga materi yang diberikan kepada siswa, yakni pertama slideshow kebencanaan, kedua tarian  bonsai duck (bebek siaga) berupa respon terhadap segala bencana, ini untuk memudahkan anak – anak mengingat gerakan, dan terakhir school watching yaitu melihat potensi bahaya yang terdapat di sekolah.

Selama proses pembekalan, Dian selaku ketua pelaksana melihat siswa sangat menyukai school watching. Prosesnya yang sangat menyenangkan, karena menuntun kepekaan siswa terhadap bahaya yang timbul di sekitarnya. Siswa pun menampakan antusiasmenya, yakni semangat belajar untuk memaparkan presentasi dari hasil school watching.

Selain siswa, peran guru juga sangat penting karena gurulah yang memantau perkembangan anak di sekolah. Diharapkan tim juga bisa memberikan pelatihan untuk guru, agar bisa terlibat dan melatih siswanya.

Kegiatan ini adalah kali ketiga tim ER Bina Swadaya kerja sama dengan sekolah, sebelumnya dilangsungkan di SDN 02 dan 03 Mekarsari. Kedepannya, tim akan terus melakukan upaya kerjasama dengan sekolah-sekola atau lembaga lainnya.

Menangkap Potensi Usaha Urban Farming

Kelompok urban farming dari RT 7 sedang memperlihatkan hasil semai sayurannya

Kelompok urban farming dari RT 7 sedang memperlihatkan hasil semai sayurannya

Saat panen perdana urban farming di beberapa RT di RW 7 Marunda, ternyata mengundang ketertarikan banyak orang membeli hasil usaha panen seperti sayuran kangkung, sawi dan tanaman lainnya.

Ibu Sari dari Marunda Kepu RT 8 menuturkan, banyak tetangga dan lainnya tertarik membeli hasil panen kelompok bahkan ikut serta membantu saat panen perdana. “kami senang, karena usaha urban farming di hargai (dibeli) sama banyak orang”, tuturnya

Sementara itu, Ibu Damayani dari Marunda Kepu menjelaskan ia dan kelompok sempat berencana kembangkan potensi pemasaran sayuran organik dari kegiatan urban farming. “Saya sama kelompok sempat terfikir kembangkan usaha pemasarannya, dan nanti hasilnya menjadi Kelompok Usaha Bersama (KUB)” ucapnya.

“Jadi tidak hanya dimakan sendiri oleh kelompok dan keluarganya, tapi ada potensi usaha yang bisa menghasilkan untuk kita”, tambahnya. Hal ini pun serentak diamini oleh ibu-ibu dan kelompok lainnya saat kegiatan diskusi urban farming.

Potensi yang didapat saat ini menurut Ibu Sri adalah, mendirikan stand untuk kegiatan bazar dari Dinas Pertanian, lalu bersama kelompok menjual hasil sayuran saat pasar malam kamis di dekat rusun, kemudian hasil tanaman yang sering kali dibeli sama tetangga.

Ibu Sri dan Ibu Damayani beserta kelompok tiap RT, berencana merundingkan promosi dan pemasaran sayuran yang lebih luas, misalnya ke beberapa pasar, seperti Pasar Besar, Bojong, Jalan Baru dan Pasar Waru. Bahkan jika panen besar akan menjajaki kerjasama dengan super market. “Kita ingin cari orang/figur yang ngerti dan bisa bantu memasarkan hasil sayuran ke luar” ujar Ibu Damayani.

Selanjutnya, kita akan membuat kelompok usaha bersama, sehingga nanti ada semacam uang kas untuk kegiatan simpan pinjam anggota.

Ratu Jamu Gendong Penggiat Kewirausahaan Sosial

Ibu Lasmi saat mendapat penghargaan individu sebagai penggiat kewirausahaan sosial pada acara Trubus Kusala Swadaya Tahun 2015 di Wisma Hijau Mekarsari Cimanggis Depok Jawa Barat.

Ibu Lasmi saat mendapat penghargaan individu sebagai penggiat kewirausahaan sosial pada acara Trubus Kusala Swadaya Tahun 2015 di Wisma Hijau Mekarsari Cimanggis Depok Jawa Barat.

Yayasan Bina Swadaya mengapresiasi Ibu Lasmi dengan memberi penghargaan individu, sebagai penggiat kewirausahaan sosial pada acara Trubus Kusala Swadaya Tahun 2015 di Wisma Hijau Mekarsari Cimanggis Depok Jawa Barat.

Ibu Lasmi pantas raih gelar tersebut. Sebelumnya, predikat ratu jamu gendong dan duta jamu Indonesia sudah disandang nya, berkat usaha yang kuat menyebarkuaskan jamu gendong dan melakukan berbagai terobosan dan inovasi baru dalam meracik jamu andalannya.

Setelah mampu membangun usahanya di Jakarta, ia merasa tiba gilirannya untuk berbagi ilmu. Kemudian merealiasaikan keinginan tersebut dengan menyebarkan keahliannya dan meregenerasi tukang jamu gendong. “Jamu gendong tak boleh punah, jadi harus berbagi ilmunya” Tuturnya penuh semangat.

Wanita berusia 45 tahun itu punya tekad kuat kurangi kemiskinan dan ciptakan lapangan pekerjaan. Salah satunya mendirikan kelompok jamu gendong “Lestari”. beranggotakan 30 orang. Lestari menurutnya adalah bahasa yang cocok untuk usaha turun temurun ini, agar bisa langgeng hingga ke anak cucu berikutnya.

Kelompok inilah yang menjadi cikal-bakal perkumpulan jamu gendong di Indonesia. Kini anggotanya mencapai 5.000 orang yang tersebar di seluruh tanah air, dan di Jakarta saja terdapat sejumlah 1.500 orang. Jabatan ketua pun di emban oleh nya.

Produk jamu gendong siap saji Lestari diantaranya jamu beras kencur, jamu kunyit asam, jamu temulawak, jamu instan , wedang jahe dan wedang sereh. Seiring jalannya waktu usaha jamu Lestari semakin mendapat tempat di masyarakat yang menjadi menjadi langganan setia.

Beberapa instasi pemerintah dan swasta juga kerap memesan jamu Lestari untuk disajikan sebagai minuman saat penyelenggaraan acara.

Green Mussels, Supporting Economic Marunda Kepu

Kegiatan kupas kerang oleh ibu-ibu di Marunda Kepu

Activity peel the shells by mothers in Marunda Kepu

When assessment about livelihood in Marunda, Tim MURIA (Marunda Urban Resilience In Action Alliance) together SPIRE Consultant met with Slamet. He did not dismiss public opinion, Marunda Kepu life of mussels. “For a long time I invited the mothers there to help peel the shells, and her husband help me buatin pond in the sea” Selamet known story skipper’s mussels.

The man who since the age of 19 years of struggling with this shell, said every year he attempted to set aside funds to make new shrimp farms with capital of less than five million, up to now seventy ponds have been installed in the sea, so he needs the help of his friends, including moving the mothers to peel the shells.

“For one of our fishpond produce 2 tons a year, but from 70 fishpond that do not produce the same average, but the result is okay to be assisted as well” he said. Nowadays, the six men who help at sea and more than twenty mothers who help peel the shells in Marunda Kepu.

Separate place RT 8 Marunda Kepu, looked mothers diligently to hold the knife and the shells peel hundreds to thousands of shells produced Slamet fishpond. There Rita and Isah middle of dozens of new mothers present.

According to Rita, the mothers here in pay 3,000 / kg, more or less able to peel 8 to 10 kg depending on its ability sooner or later. “Not bad I can bear up to 10 kg and even once more, but not all, there is also slow because of old age” said Rita.

The same thing said Isah, peel the shells according to their ability to be targeted not only because of how many kg. “Yes no targeted how kg, his best course” said Isah. Even thought, in terms of time was not specified, would come in the morning or in the afternoon is not a problem, because the mother related activities tumah stairs.

Hereafter Rita and Isah explains, results peeled mothers later written on the board, then paid directly by Slamet. Interestingly, wages can be obtained according to the agreement, meaning that if needs the same day paid directly, it could be three, week, or month so that the new wages are collected many taken as needed. Even Rita, Isah and mothers there could borrow money at Slamet, in order to avoid mobile bank (loan shark).

Related litter shells, Isah said garbage mixed land and houses can be built. In addition, the first is often made various handicrafts, but the program does not run anymore.

Slamet and Mothers in Marunda Kepu admitted restless, beach conditions Marunda mixed severity of waste, that each year there are only fishpond that can not be harvested because buffeted waste and damage to the quality of the mussels. Not again. Issues of concern Marunda beach reclamation eroded its business. They expressed, the government must stop companies dispose of waste to the beach and that no eviction, because they feared the deadly business.

Kerang Hijau, Penunjang Ekonomi Marunda Kepu

Kegiatan kupas kerang oleh ibu-ibu di Marunda Kepu

Kegiatan kupas kerang oleh ibu-ibu di Marunda Kepu

Saat assessment tentang livelihood di Marunda, Tim MURIA (Marunda Urban Resilience In Action Alliance) bersama SPIRE Consultant bertemu dengan Slamet. Ia tidak menampik pendapat masyarakat, Marunda Kepu hidup dari kerang hijau.  “Sudah lama saya ajak ibu-ibu disana bantu kupas kerang, dan suaminya bantu saya buatin tambak di laut” cerita Selamet yang dikenal juragan kerang hijau ini.

Lelaki yang sejak umur 19 tahun bergelut dengan kerang ini mengatakan, tiap tahun ia berupaya sisihkan dana membuat tambak baru dengan modal kurang lebih lima juta, sampai sekarang tujuh puluh tambaknya telah dipasang di laut, sehingga ia butuh batuan teman-temannya termasuk menggerakan ibu-ibu untuk kupas kerang.

“Untuk satu tambak aja kita hasilkan 2 ton setahun, tapi dari 70 tambak itu tidak menghasilkan rata-rata sama, namun hasilnya lumayanlah harus dibantu juga” tuturnya.  Saat ini, menurutnya ada enam orang yang bantu dilaut dan lebih dari dua puluh ibu-ibu yang bantu kupas kerang di Marunda Kepu.

Ditempat terpisah RT 8 Marunda Kepu, tampak ibu-ibu dengan tekunnya pegang pisau dan kerang guna kupas ratusan hingga ribuan kerang yang dihasilkan tambak Slamet.  Ada Rita dan Isah ditengah belasan ibu-ibu yang baru hadir saat itu.

Menurut Rita, ibu-ibu di sini di bayar 3.000/kg, kurang lebih sanggup kupas 8 sampai 10 kg tergantung kemampuannya cepat atau lambat. “Lumayanlah saya masih sanggup sampe 10 kg bahkan pernah lebih, tapi tidak semua, ada yang lambat juga karena usia sepuh ” ucap Rita.

Hal senada dikatakan Isah, kupas kerang sesuai kemampuan saja karena tidak ditarget harus berapa kg. “ya tidak ditarget berapa kg, semampunya aje” kata Isah. Bahkan menurutnya, dari segi waktu pun tidak ditentukan, mau datang pagi atu siang tidak masalah, karena terkait kegiatan ibu tumah tangga.

Selanjutnya Rita dan Isah menjelaskan, hasil kupas ibu-ibu nanti ditulis di papan, kemudian dibayar langsung oleh Slamet. Menariknya, upah yang didapat bisa sesuai kesepakatan, artinya jika butuh hari itu juga dibayar langsung, bisa juga tiga, seminggu, atau sebulan supaya upahnya terkumpul banyak baru diambil sesuai kebutuhan. Bahkan Rita, Isah dan ibu-ibu disana bisa pinjam uang pada Slamet, supaya terhindar dari bank keliling (rentenir).

Terkait sampah kerang, Isah mengungkapkan sampahnya diuruk dicampur tanah dan bisa dibangun rumah. Selain itu, dulu sering dibuat aneka kerajinan, tapi programnya tidak berjalan lagi.

Slamet dan Ibu-Ibu di Marunda Kepu mengaku resah, kondisi pantai Marunda tercampur parahnya limbah, hingga tiap tahun ada saja tambak yang tidak bisa panen karena diterjang limbah dan rusaknya kualitas kerang hijau. Belum lagi. Isu-isu reklamasi pantai Marunda yang dikhawatirkan menggerus usahanya. Mereka menyuarakan, pemerintah harus hentikan perusahaan buang limbah ke pantai dan jangan ada gusuran, karena ditakutkan mematikan usaha mereka

Ingin Bangun Bank Sampah Seperti di Cilincing

Sampah-sampah yang dikumpulkan oleh pengepul

Sampah-sampah yang dikumpulkan oleh pengepul

Pengelolaan sampah berupa bank sampah di Marunda, sebetulnya sudah dilakukan dua tahun lalu dengan nama Bank Sampah Sejatera. Saat FGD (Focus Group Discussion) di RT 5, warga justru terinspirasi oleh program bank sampah di Cilincing yang ditayangkan televisi.

Ibu Darkini dari RT 7 mengatakan, ia sering lihat liputan bank sampah di Cilincing dan warga berdatangan menukar sampahnya lalu mendapatkan uang. “Ibu-ibu di Cilincing pada bawa sampah trus dapet duit, ditabung buat sekolah atau bayar listrik” cerita Ibu Darkini.

Ibu yang tinggal di Marunda Empang ini melanjutkan, ia melihat di Cilincing kelompoknya sangat aktif sehingga masyarakat pun banyak tertarik ikut kegiatan. Sebaliknya Ibu Darkini merasa bank sampah Marunda tidak berjalan maksimal, mungkin hanya sebagian RT saja, tidak menyeluruh di RW 7. Kemudian hanya Marunda Rusun saja yang aktifnya.

Senada diungkapkan Ibu Sofiah di RT 3. Ia sering dengar bank sampah di Cilincing menghasilkan uang dan masyarakatnya banyak tertarik gabung. “Saya dengar dari teman di Cilincing itu rame pada ikut bank sampah”, kata Ibu Sofiah.

Namun menurut Ibu Sofiah, RT 3 Marunda Mesjid masih ada kesadaran warga untuk pengelolaan sampah. Di tempat saya masih ada iuran sampah warga Rp 5.000, lalu sukarela kumpulkan sampah di bak kemudian di bakar” tuturnya.

Bicara mengenai potensi pengelolaan sampah, dalam diskusi disepakati untuk bangun bank sampah di tiap RT di RW 7 dengan kepengurusan langsung dari warga dan dipantau secara bersama-sama. Kemudian perlunya pengelolaan sampah yang tidak berlaku di bank sampah, sehingga sampah tidak lagi berserakan dan mengotori lingkungan.

Namun jadi perhatian agar tidak ada potensi konflik, keberadaan pemulung sampah atau orang Marunda bilang “cilong”. Begitru juga diwilayah RT 4, 5 dan 8 ada pengepul sampah. Artinya kita ajak dan duduk bersama guna membuka wawasan mengenai keuntungan bank sampah, supaya kehadiran bank sampah kedepan tidak mengkhawatirkan seakan mematikan usaha mereka.

Harapan kedepan, kegiatan bank sampah bisa berjalan sesuai harapan dan yang terpenting bagi warga Marunda perlunya lahan yang legal untuk tampung sampah (TPS). Selama ini pengajuannya sukar dilaksanakan, sehingga perlu di disampaikan kembali kepada pemerintah terkait.

Biogas: Mengolah Limbah jadi Berkah

Renita menunjukan kompor dan rice cooker biogas yang di hasilkan dari limbah kotoran manusia

Renita menunjukan kompor dan rice cooker biogas yang di hasilkan dari limbah kotoran manusia

Saat ini, biogas menjadi sumber energi alternatif yang mampu memenuhi kebutuhan manusia dan hargaya terjangkau. Keunggulan biogas ini, menuntun Tim Marketing Bina Swadaya Konsultan (BSK) berkunjung ke PT. Swen Inovasi Transfer pimpinan Sri Wahyuni di Jl. Cikerti Kelurahan Padasuka Kecamatan Ciomas Bogor Jawa Barat.

Biogas bisa jadi solusi membuat pupuk organik untuk pertanian, peternakan yang bersih dan ramah lingkungan, tanpa polusi udara, tanah dan pemanasan global. Selain itu bisa ciptakan peluang usaha yang ekonomis, mulai dari usaha skala kecil hingga besar. Pembahasan tentang pertanian, peternakan dan lingkungan sangat relevan dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat.  “Inilah misi kita untuk belajar biogas sebagai sarana untuk pemberdayaan di masyarakat”, ungkap Frida Widuratmi Manajer Marketing BSK.

“Biogas menjadi alternatif terbarukan di tengah krisis energi dan tentunya murah” ujar Kepala HRD PT. Swen Renita Sari saat membuka obrolan. Tim BSK yakni Manajer Marketing Frida Widuratmi bersama Ana Budi Rahayu, Unik Wimawan, Agus Suswanto dan Septian Ginanjar diajak oleh Renita untuk melihat energi yang dihasilkan dari limbah pertanian, peternakan, termasuk kotoran manusia.

Renita menunjukan biogas yang dihasilkan dari kotoran manusia (tinja). “Campuran tinja dan air mengalir menuju penampung gas (kubah), lalu gas metana yang dihasilkan di dalam kubah mengalir ke dapur melalui pipa dan tersambung pada kompor dan alat masak nasi (rice cooker) ini. “Gas biru tanpa rasa, bau, dan tanpa khawatir akan meledak” tuturnya sambil perlihatkan api yang menyala di kompor biogas.

Selanjutnya yang dituju tempat produksi peralatan biogas. Terlihat dari depan PT. Swen, terkumpul banyak peralatan biogas dari serat kaca (fiber glass) dengan khas warna biru. “Inilah peralatan digester biogas dari serat kaca yang dikembangkan. Ini menjadi visi kami sebagai produsen terkemuka, berkualitas, efisien, inovatif” kata Renita. Menurutnya, komponen reaktor biogas tersebut dengan berbagai tipe ukuran dan kapasitas yang kedap udara, ringan serta mudah dalam pemasangan dan perawatan.

Tak jauh disamping produksi fiber glass, ada kebun percontohan yang kata Sri Wahyuni sebagai tempat memulai mengembangkan biogas menuju kemandirian pangan dan energi. Tanaman dengan pucuk merah di kiri-kanan jalan masuk ke kebun seakan menyambut Tim BSK

Tim BSK kunjungi kebun percontohan. Dikebun inilah dikembangkannya potensi biogas menuju kemandirian pangan dan energi

Tim BSK kunjungi kebun percontohan. Dikebun inilah dikembangkannya potensi biogas menuju kemandirian pangan dan energi

Ruang terbuka kurang lebih 800 m2 itu, semua tanaman tertata rapi. Tampak buah mangga, jambu, macam sayuran kangkung, sawi dan lainnya bergitu berseri, baik yang di pot maupun di tanah dengan sistem vertikultur dan hidroponik. Adapun rumah jamur dengan berbagai jenis yang subur dan merekah. Kesuburan tanaman dan tanahnya ini tentunya dihasilkan dari pupuk organik olahan biogas limbah peternakan dan pertanian.

Terlihat ada empat ekor sapi tegap yang hanya ditugaskan untuk makan, tidur, dan keluarkan kotoran serta urinnya. Itu saja kewajibannya, makan kenyang, tidur sepuasnya, dan keluarkan kotoran sebanyaknya”, kata Renita.  Biasanya, seekor sapi per hari akan mengeluarkan kotoran sekitar 15 kilogram. Kemudian ada juga domba yang tugasnya sama saja dengan sapi, cuma domba harus rela serahkan bulu-bulunya yang panjang dan kriting, salah satunya buat boneka domba dan untuk kerajinan lainnya.

Kompaknya sapi dan domba diikuti pula oleh puluhan ayam kampung yang kandangnya dibuat dua baris memanjang sekitar empat meter dan posisinya melekat dengan tembok. Tugas ayam juga sama yakni makan, tidur, dan keluarkan kotoran. Meski begitu ayam boleh bangga, karena protein telurnya selalu dinanti.

“Kotoran sapi, domba, dan ayam ini nantinya diolah menjadi biogas,” ujar Renita sembari menunjuk tabung digester berupa tangki reaktor biogas terbuat dari fiber glass dengan posisi ditanam dalam tanah. Meski hanya kubahnya yang terlihat, namun ukuran tinggi aslinya adalah 2 m lebih dengan volume sekitar 4 m3.

Dalam digester inilah, kotoran ternak diubah menjadi gas biru tidak berbau. Bahkan, bukan hanya menjadi gas, limbahnya juga dapat dipergunakan sebagai pupuk cair maupun pupuk padat yang tidak tergantikan oleh pupuk kimia.

Urin sapi pun bermanfaat sebagai pupuk cair. Urin yang terlebih dahulu di fermentasi sebelum digunakan. Manfaatnya untuk kesuburan tanah, meningkatkan kapasitas serap air tanah, menjadi vitamin bagi tanaman, menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman dan tentunya ramah lingkungan. “Semua tanaman di sini hasil dari pengembangan biogas. Tidak ada yang dibuang percuma”, ucapnya.

Menurut Renita, selain berhasil menciptakan peralatan hebat seperti kompor biogas, rice cooker, lampu, Sri Wahyuni juga ciptakan traktor bajak untuk sawah, generator biogas, pompa air, oven, water trap, dan lainnya yang lagi-lagi menggunakan kekuatan super biogas. “BBM Naik !!! Ayo gunakan Biogas” itulah jargon yang menempel di karyanya.

Rasanya, melihat biogas yang dikembangkan Sri Wahyuni ini mampu menjawab segala kebutuhan manusia saat ini. Apalagi negara kita sampah atau limbah begitu banyak, baik limbah industri maupun rumah tangga. Namun sayangnya, banyak yang belum memanfaatkan limbah tersebut untuk energi alternatif.

Tim BSK sempatkan berembug dan bermimpi rasanya ingin tancap gas untuk kembangkan biogas, dengan harapan bisa berbagi dan memberi manfaat bagi pendampingan di masyarakat. Limbah yang berlimpah bisa jadi berkah.

 

Septian Ginanjar

(Kegiatan belajar Tim Marketing BSK tentang Biogas di PT. Swen Inovasi Transfer, Bogor) 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil Uji Coba SRI Organik, Bumi Lestari Panen Raya Padi

Asosiasi Pertanian Bumi Lestari panen raya padi dari hasil uji coba sri organik jajar legowo

Asosiasi Pertanian Bumi Lestari panen raya padi dari hasil uji coba SRI organik jajar legowo

Asosiasi pertanian Bumi Lestari Sabtu (21/11) menggelar panen raya padi dari hasil uji coba System of Rice Intensification (SRI) organik jajar legowo di Desa Begadon, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Uji coba ini dilakukan di lahan seluas 1.000 meter peresegi.

Sakiran selaku ketua asosiasi mengatakan, panen raya merupakan program yang dilaksanakan bersama Pusat Inkubasi Bisnis (PIB) Bojonegoro dampingan Bina Swadaya.

Menurutnya, perlakuan dengan sistem SRI organik jajar legowo ini, menggunakan pupuk kandang 800 kg, MOL sebanyak 4 liter (2 kali aplikasi), pupuk susulan 60 kg (pupuk kandang) + abu kayu bakar 50 kg, dan matun/penyiangan dilakukan selama 2 kali. Kemudian untuk Kadar Air 20 %, Kotoran 6 % dengan harga jual gabah Rp4.800/kg.

“Hanya saja, karena melihat kondisi cuaca panen menjadi maju sampai 10 – 15 hari. Sehingga umur panen padi varietas inpari 14 saat panen menjadi 100 HST (Hari Setelah Tanam),” tuturnya.

Sakiran menambahkan, dari perlakuan organik ini menghasilkan panen tiap petakan sebanyak 820 kg (GKS) dan hasil panen real-nyal 669 kg (GKS). Kemudian kadar Air 20 %, Kotoran 6 % dengan harga jual gabah Rp4.800/kg.

Tenaga Ahli Pertanian Bina Swadaya Dwi Prayitno yang saat panen mendampingi menjelaskan, saat ini anggota asosiasi Bumi Lestari sejumlah 63 orang yang tersebar di desa Ngraho, Begadon, Katur, Cengunklung‎.‎

Ia berharap, pada musim tanam petani ikut pola tanam SRI Organik Jajar Legowo. Karena, metode ini dinilai lebih ekonomis dan menguntungkan petani. “‎Biaya produksi padi organik ini dapat menekan biaya produksi sampai 40 %, karena pupuk berupa kompos, MOL, PGPR, pestisida alami dibuat sendiri,” tuturnya.