• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Author Archive Septian Nugraha

MURIA EXPO: Potential Appreciation and Community Capacity

Kegiatan MURIA Expo di Rumah si Pitung, Marunda Jakarta Utara

MURIA Event Expo at Rumah Si Pitung, Marunda in North Jakarta

The event was held at Rumah Si Pitung, Tuesday (22/12) the potential and capacity that has been produced together by every citizen of RT on the RW 07 and institutions involved in MURIA.

In her speech, Program Manager Ikasari give an appreciation of activities of groups like a group of mothers that is initiate urban farming activities, and youth groups to initiate mapping training was divided two phases of data collection and data processing OpenSteetMap with QGIS and InaSAFE.

The event with the theme “Potential Event and Community Capacity in Collaboration MURIA” presents Tari Betawi art performances, simulation flood contingency plans RW 07, booth crops urban farming activities and booth map mapping results of training activities.

The group of mothers feel add insight into capabilities farming, and the expected benefits are residents can save even more for shopping for vegetables and of course with good quality. Even the neighbors existing are buy the harvested urban farming groups.

The meantime, according to the results of the mapping of the youth group is also satisfactory. The maps RT activity results be printed A2 size and displayed on the this expo so that people can see the results. Besides shown here, these maps are also printed and placed on the strategic locations where people happy congregate.

RW 07 Marunda are now map which details can be accessed by anyone, from the public, governments and other institutions. Expected results of this mapping can unify and provide relevant information to stakeholders in building the resilience of urban communities.

MURIA EXPO: Apresiasi Terhadap Potensi dan Kapasitas Masyarakat

Kegiatan MURIA Expo di Rumah si Pitung, Marunda Jakarta Utara

Kegiatan MURIA Expo di Rumah si Pitung, Marunda Jakarta Utara

Acara yang dihelat di Rumah si Pitung, Selasa (22/12) merupakan gelaran potensi dan kapasitas masyarakat yang sudah dihasilkan bersama oleh warga tiap RT di RW 07 dan lembaga-lembaga yang terlibat di dalam MURIA.

Dalam sambutannya, Program Manager Ikasari memberikan apresiasi terhadap kegiatan kelompok seperti kelompok ibu-ibu yang menginisiasi kegiatan urban farming, lalu kelompok pemuda menginisiasi pelatihan pemetaan yang dibagi dua tahap yakni pengumpulan data menggunakan OpenSteetMap dan   pengolahan data dengan QGIS dan InaSAFE.

Acara dengan tema “Gelaran Potensi dan Kapasitas Masyarakat dalam Kolaborasi MURIA” meghadirkan pertunjukan seni Tari Betawi, simulasi rencana kontinjensi banjir RW 07, booth tanaman hasil kegiatan urban farming dan booth peta hasil kegiatan pelatihan pemetaan.

Kelompok ibu-ibu merasa menambah wawasan kemampuan bertanam, dan manfaat yang diharapkan adalah warga bisa lebih berhemat untuk belanja sayuran dan tentunya dengan kualitas yang baik. Bahkan para tetangga ada yang membeli hasil panen kelompok urban farming.

Sementara itu, menurut kelompok pemuda hasil kegiatan pemetaan juga memuaskan. Peta-peta RT hasil kegiatan dicetak ukuran A2 dan ditampilkan di expo ini agar masyarakat dapat melihat hasilnya. Selain ditampilkan disini, peta-peta ini juga dicetak dan ditaruh di lokasi-lokasi strategis tempat dimana warga senang berkumpul.

Kini peta RW 07 Marunda yang detail  sudah dapat diakses oleh siapa saja, mulai dari masyarakat, pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya. Diharapkan dari hasil pemetaan ini dapat menyatukan dan memberikan informasi yang terkait kepada para pemangku kepentingan dalam membangun ketahanan masyarakat perkotaan.

Belajar Ternak ditempat Sersan Kambing

Tendi (baju putih) memberikan informasi tentang pemasaran kambing dan domba di Bangun Karso Farm (BKF)

Tendi (baju putih) memberikan informasi tentang pemasaran kambing dan domba di Bangun Karso Farm (BKF)

Udara sejuk dan gerimis hujan menyambut kami saat tiba di Bangun Karso Farm (BKF), Kampung Babakan Desa Palasari Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor.

Dikomandani Ibu Frida, saya, Mas Unik, Mas Anto dan Mba Ana antusias nikmati belajar di BKF. Saat menjejakan kaki dan sejauh mata memandang, kami terpukau pada pandangan pertama lihat peternakan ini. Meski suasana renovasi, tapi aura kesuksesan tampaknya terhampar luas, seluas peternakan yang katanya terbesar di Bogor milik tentara aktif Pak Bangun Dioro.

Teh Rina (Staf BKF) menghampiri dengan ramahnya mempersilahkan kami istirahat di rumah panggung berdinding kayu. “Rumah yang pas sekali dengan nuansa peternakan desa dan pepohonan yang rindang”, ucap saya.

Sambil tunggu Pak Bangun yang lagi keluar karena ada keperluan, saya sempatkan lihat foto Bangun Dioro dan berguman, bagaimana bisa seorang tentara aktif dengan pangkat Sersan Kepala mampu membagi waktu sebagai prajurit dan aktivitasnya sebagai pengusaha ternak kambing.

Penasaran pun menyeruak, saya tanya Mbak Ana yang sebelumnya pernah berkunjung ke sini. “Pak Dioro itu luar biasa dari susah dan dari bawah banget dengan memelihara 2 kambing hingga bertambah banyak dan sukses seperti sekarang”, tutur Mba Ana.

Haus informasi ini rasanya tak hilang dan penasaran tetap mendekap, hingga saya bersama teman-teman tetap berupaya menunggu Pak Bangun sambil kukurilingan melihat usaha ternak yang terhampar seluas 19 Ha, luar biasa.

Kami beranjak melihat langsung peternakan kambing dan domba. Tampak tiga kandang megah dengan konstruksi dan dinding besi beralaskan kayu beratap biru legam. Saya fikir, kandang ini baru dibangun dan diperuntukkan tampung kambing dengan jumlah banyak.

Desainnya sangat available, tempat pakan efektif dan langsung menghadap kambing, minumnya otomatis dari pompa melalui pipa 3/4” langsung tersalurkan kesetiap kandang. Kandang itu sangat terbuka dengan atap menjulang tinggi dan ada sekat besi bagi ragam kambing etawa, sapera, jawa randu dan domba.

Tak lupa menarik perhatian, setiap kandang ada lorong yang muat mobil pick up masuk ke bawah kandang, gunanya untuk ambil kotoran dan tentu dibuat pupuk kandang. Kandang itu begitu mentereng di lahan atas, sehingga kami luput ada satu kandang lagi di lahan bawah yang konstruksinya masih berupa kayu. Kemudian terlihat di seberang, ada satu kandang berisi beberapa sapi gemuk yang sehat.

Melihat langsung peternakan kambing dan domba di tempat kandang baru

Melihat langsung peternakan kambing dan domba di tempat kandang baru

Para pekerja sibuk dengan pakan dan renovasi, kami pun hanya sekedarnya bertanya teknis pemeliharaan kambing dan kandangnya. Seperti tiga kandang baru itu berukuran 36 x 6 meter, dengan sekat besi untuk koloni, kawin, individu, dan ukuran 2 x 2 untuk peranakkan/melahirkan.

Terdengar sahut-menyahut dengan khasnya suara embeee…, lalu kami pun hampiri ribuan kambing dan domba di kandang baru itu. Tampaknya mereka asyik dengan koloninya, bermain bersama anak-anaknya dan mungkin betah dengan suasana kandang baru.  Meskipun bau kandang, tapi tak mantap rasanya bila kami belum bercengkrama atau sekadar menyapa, mengusap dan memotret kawanan kambing serta domba yang begitu sehat.

Kami pun bertemu dengan Marketing BKF Tendi Ristiandi. Tendi menjelaskan dari tiga kandang baru yang di bangun itu menampung empat ribu kambing dan domba. Jadi per kandangnya total ada seribuan.

Tendi menuturkan, areal seluas 19 Ha memang diperuntukan peternakan domba dan sapi potong yang diarahkan untuk memenuhi permintaan menjelang Idul Kurban dan acara lainnya. “Kita jual hidup untuk kebutuhan kurban untuk kambing atau domba jantan dan acara seperti akikah atau spesialis kambing guling”, tutur Tendi.

“BKF juga menyuplai untuk kebutuhan PSK (Pojok Sate Kiloan) di Sentul, Puncak, dekat UI dan tempat lainnya dengan harga sate 45.000/kg hidup, beda dengan harga kurban sekitar 70 – 80.000/kg hidup”, ucapnya.

Selain itu, menurut Tendi, keunggulan BKF adalah dalam rentang usia 5 sampai 6 bulan itu, bobot 25 sampai 30 kg, salah satunya karena kita crossingan domba priangan dengan teksel seperti dari domba Wonosobo yang gemuk.

Mengenai pemasaran, baiknya figur Pak Bangun dan mudah diterima tiap kalangan serta publikasi media yang banyak, membuat BKF gampang dikenal publik dan jadi langganan masyarakat bahkan pemerintah “Kebetulan saya bagian pemasarannya, tapi sebelum ada saya, nama Pak Bangun sudah banyak orang tahu, jadi pemasarannya pun terbantu dengan kuatnya sosok beliau. Banyaknya liputan media yang datang ke BKF juga turut bantu promosi dan pemasarannya” kata Tendi.

Harapan untuk ketemu pun urung terlaksana, karena sibuknya Pak Bangun diluaran sana. Rasanya tak kenal maka tak sayang, saya searching profil beliau yang inspiratif. Akhirnya saya mendapati “Kiat Sukses Berternak oleh BKF” dari Mba Ana sewaktu pertama datang ke BKF.

Awal mula pria kelahiran Banyumas itu menggeluti sektor peternakan adalah harga hewan tak pernah turun mengikuti perkembangan zaman serta inflasi, lalu warisan leluhur dan tentunya berternak adalah sunnah Rosul.

Sersan yang saat ini bertugas di Kesatuan Kompi Denmabesad TNI AD ini dikenal sebagai pekerja keras. Sampai ia membuat petuah bijak, “barang siapa tidak bekerja keras di waktu muda, maka dijanjikan akan bekerja keras di masa tua. Begitulah spirit awal yang dibangun dengan niat dan dorongan yang kuat untuk mengembangkan peternakan BKF.

Semenjak tinggal di Bogor dan jadi anggota TNI, Pak Bangun memulai usahanya dengan wajib menguasai cara berternak dengan baik. Salah satunya mengasah kemampuan berternak dengan magang di Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi Bogor. Kemudian rajin jalin hubungan antar sesama peternak dan pandai mencari mitra usaha serta kerja sama saling menguntungkan jadi kunci suksesnya dalam usaha ternaknya.

Komitmen dan pengabdian sebagai prajurit pun tetap kuat dan bangga. Beberapa sumber yang didapat, di kesatuannya juga ia membantu rekan-rekan dari memelihara kambing. Bahkan Presiden ke-6 SBY, sempatkan menyambangi lokasi usahanya setelah mendengar popularitasnya sebagai anggota TNI yang mampu mengembangkan usaha peternakan kambing. Kemudian, meminta Bangun Dioro untuk memberikan pelatihan usaha ternak kambing ke masyarakat di beberapa daerah.

Tentara aktif ini, kini sering dijuluki sebagai Sersan Kambing. Sersan yang sukses dengan usaha peternakannya dan mampu memasok kambing ke masyarakat luas. Mungkin bisa kita sebut Sersan berpenghasilan melebihi Jendral.

 

Septian Ginanjar

(Kegiatan belajar Tim Marketing BSK tentang Peternakan di Bangun Karso Farm, Bogor) 

 

 

Wake Resilience Need Involves Different Sectors

Program Manager Ikasari while giving a speech at the event MURIA EXPO

Manager Program Ikasari saat memberi sambutan di Acara MURIA EXPO

When the dialog collaboration of stakeholders in the Government, Private and Public at Rumah Si Pitung Marunda, Program Manager BSK Ikasari said Program Marunda Urban Resilience in Action (MURIA) offers multi-stakeholder approach involving different sectors and integrated approach to strengthening toughness managed by the community itself (community managed).

She said, if the relationships in the community such groups exist and stronger then the the resilience can be achieved. But we are confronted with regulations. If the rules do not support the resilience can not be achieved. “MURIA will build a platform consisting of various parties to support community resilience”, said Ikasari.

Involvement includes multi-party working for shared agenda, so as to create mutually beneficial solutions that improve resilience in Marunda. In addition, the team MURIA will bring diverse expertise in the field of urban planning, multi-stakeholder engagement, disaster risk reduction, water management and environmental sanitation, the innovators of small businesses and livelihoods.

Meanwhile, the results of the study (FGD) with citizens of every RT in RW 7 mapped resilience framework, where there are threats such as flooding, water crisis (access to water), drainage, waste management, pollution, waste, ecosystem conditions change during development and others.

MURIA is a collaboration between Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS), which is an affiliate of PT East West Seed Indonesia, with Bina Swadaya Consultant (BSK), Karina and the Ford Foundation, to develop the potential and capacity in Marunda, North Jakarta coastal area.

MURIA focus of activities is to build opportunities for entrepreneurship development in collaboration with the private sector and create jobs involving women and young people in decision-making using a multi-stakeholder approach.

Bangun Ketangguhan Perlu Libatkan Berbagai Sektor

Manager Program Ikasari saat memberi sambutan di Acara MURIA EXPO

Manager Program Ikasari saat memberi sambutan di Acara MURIA EXPO

Saat dialog kolaborasi stakeholder yakni Pemerintah, Swasta dan Masyarakat di Rumah Si Pitung Marunda, Program Manager BSK Ikasari menuturkan, Program Marunda Urban Resilience in Action (MURIA) menawarkan pendekatan multi-pihak yang melibatkan berbagai sektor yang berbeda, lalu diintegrasikan dengan pendekatan penguatan ketangguhan yang dikelola masyarakat sendiri (community managed).

Menurutnya, jika hubungan di masyarakat seperti kelompok-kelompok yang ada dan kuat maka ketangguhan dapat tercapai. Tapi kita dihadapkan pada peraturan-peraturan. Apabila peraturan tidak mendukung maka ketangguhan tidak dapat tercapai. “MURIA akan membangun platform yang terdiri dari berbagai pihak untuk mendukung ketangguhan masyarakat”, tutur Ikasari.

Pelibatan multi-pihak ini termasuk kerja untuk agenda bersama, sehingga tercipta solusi saling menguntungkan yang meningkatkan ketangguhan di Marunda. Selain itu, team MURIA akan membawa keahlian beragam pada bidang perencanaan perkotaan, pelibatan multi-pihak, pengurangan risiko bencana, manajemen air dan lingkungan hidup, sanitasi, para inovator usaha kecil dan sumber penghidupan.

Sementara itu, hasil kajian (FGD) dengan warga tiap RT di RW 7  terpetakan dengan kerangka resilience, dimana ada ancaman seperti banjir, krisis air (akses air bersih), drainase, pengelolaan sampah, polusi, limbah, kondisi ekosistem berubah ketika terjadi pembangunan-pembangunan dan lainnya.

MURIA adalah kolaborasi antara Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS), yang merupakan afiliasi dari PT East West Seed Indonesia, dengan Bina Swadaya Konsultan (BSK), Karina dan Ford Foundation, guna mengembangkan potensi dan kapasitas masyarakat di Marunda kawasan pesisir Jakarta Utara.

Fokus kegiatan MURIA adalah membangun peluang untuk pengembangan kewirausahaan bekerjasama dengan private sector dan menciptakan lapangan pekerjaan melibatkan perempuan dan anak muda dalam pengambilan keputusan menggunakan pendekatan multi stakeholder.

Bumi Lestari Develops SRI Jajar Legowo Organic Rice

Pengamatan pola tanam padi dengan sri organik jajar legowo

Observations cropping pattern of rice with SRI jajar legowo organic

Bumi Lestari Farmers Group successfully develop organic rice jajar legowo system at village Ngraho, Gayam subdistrict, Bojonegoro. This group tested organic rice cropping pattern Legowo row in a quarter hectare of wetland area.

Sigit Agustiyono Team Leader PIB (Business Incubation Centre) Bojonegoro explains, is the way the system jajar legowo growing rice with a spacing of 10 meters x 20 meters. Rice planted seed is rice seed selection. In addition, during the period of growing crops by organic fertilizers.

Jajar Legowo lanting pattern to produce more test the rice grains, not susceptible to borers plants, and also produces grain quality. “After a 90-day free trial Legowo row rice crop has been harvested and the result was good,” said Sigit.

Salim, a member of the group Bumi Lestari says the system is add knowledge and experience. “I can learn and get new experience from this Legowo row planting system. In addition, I also learned to use the resources of the surrounding environment, “said Salim.

Farmers Bumi Lestari is guided group PIB which has been accompanied by the Bina Swadaya, which is focusing on mentoring agriculture, livestock and fisheries.

Bumi Lestari Kembangkan Padi Organik Jajar Legowo

Pengamatan pola tanam padi dengan sri organik jajar legowo

Pengamatan pola tanam padi dengan sri organik jajar legowo

Kelompok Tani (Poktan) Bumi Lestari berhasil mengembangkan tanam padi organik dengan sistem tanam jajar legowo di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro. Kelompok ini melakukan ujicoba pola tanam padi organik jajar legowo di lahan sawah seluas seperempat hektare.

Sigit Agustiyono Team Leader PIB (Pusat Inkubasi Bisnis) Bojonegoro menjelaskan, sistem jajar legowo adalah cara menanam padi dengan jarak tanam 10 meter x 20 meter. Benih padi yang ditanam merupakan benih padi pilihan. Selain itu, selama masa tumbuh tanaman diberi pupuk organik.

Pola tanam dengan jajar legowo ini menghasilkan bulir padi lebih mentes, tidak mudah terserang hama penggerek tanaman, dan juga menghasilkan gabah yang berkualitas. “Setelah 90 hari tanaman padi ujicoba jajar legowo ini sudah bisa dipanen dan hasilnya bagus,” jelas Sigit.

Semetara itu, Salim anggota kelompok Bumi Lestari mengatakan sistem ini menambah wawasan dan pengalamannya. “Saya bisa belajar dan mendapatkan pengalaman baru dari sistem tanam jajar legowo ini. Selain itu, saya juga belajar memanfaatkan sumber daya dari lingkungan sekitar,” ujar Salim.

Kelompok Tani Bumi Lestari merupakan kelompok binaan PIB yang selama ini didampingi Bina Swadaya, yang fokus pada pendampingan pertanian, peternakan, dan perikanan

Economi Development Program

Program Pengembangan Ekonomi

Social Development Program