• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Author Archive Septian Nugraha

Program Pengembangan Sosial

Social Entrepreneurship

Kewirausahaan Sosial

Tak Ada Kata Tidak Untuk Mencoba

Agustinus Bety

Agustinus Bety

Kira-kira begitulah judul yang tepat untuk menggambarkan pribadi seorang Agustinus Bety, wakil ketua KSM Sejati Desa Noebesa. Bertahun-tahun lalu, lahan seluas 7 hektare miliknya tak pernah bisa ia tanami apapun, bahkan tanaman jagung yang notabene tanaman utama masyarakat Pulau Timor.

Bertahun-tahun lamanya lahan itu menjadi lahan tidur. Padahal, dengan lahan seluas itu, ia bisa menanaminya dengan jagung dan kacang-kacangan. Namun apa daya, lahannya itu seolah “mandul”. Kala itu, Agus tak memiliki keyakinan pasti apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi.

Cerita mulai berubah ketika Bina Swadaya Konsultan memilih Desa Noebesa sebagai salah satu desa dampingan mereka. Tergabung dalam FPRB dan KSM membuat masyarakat Desa Noebesa memiliki wawasan lebih luas dengan pemikiran yang lebih terbuka. Begitu pula dengan pria yang berparas tegas ini. Setelah mendapat berbagai pengetahuam tentang budidaya sayuran, dari mulai tahap persiapan lahan sampai pada tahap panen, ia mulai berpikir untuk mencoba menanami lahan matinya tersebut. Segala teknik persiapan lahan, seperti pembuatan teras, rorak, dan jebakan air, mulai ia terapkan di lahan tidurnya.

Dengan lahan seluas itu, ia berpikir untuk mengajak kedua mamak-mamak yang juga anggota KSM, yaitu Efronsina Liunima dan. Mengajak mereka berarti turut mengembangkan pengetahuan sehingga praktik ini bisa dilakukan bersama-sama. Selama proses menerapkam praktik budidaya sayur ini, ia juga tak lupa berdoa agar kesempatan kali ini ia bisa menuai hasil.

Benar saja, lahan tidur yang semula menolak menumbuhkan apapun dari dalam tanahnya, kini mulai memperlihatkan hasil yang nyata. Perlahan-lahan benih mulai berubah menjadi bibit dan memperlihatkan bentuk.

Keyakinannya untuk tetap mencoba menanami lahan yang sempat tertidur sampai kini terbukti membuahkan hasil yang manis, menjadi satu pelajaran penting bagi masyarakat Noebesa. Oleh karena itu, tak berlebihan rasanya jika menjadikan Agustinus Bety sebagai salah satu motivator yang patut diapresiasi.

Fransisca Risky Mayang Arum

(Program Partners for Resilience di Desa Noebesa, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT)

Keuletan yang Berbuah Manis

Thomas Taek, Petani Motivator Desa Netutnana

Thomas Taek, Petani Motivator Desa Netutnana

Bagi salah satu tokoh adat di Desa Netutnana ini, tak ada kata malas. Sehari-hari ia rajin ke kebun untuk menyirami tanaman dan mencari rumput untuk ternak-ternaknya. Tanaman yang selalu ada di kebunnya berupa jagung dan tanaman kacang-kacangan, tanaman “sejuta umat” bagi masyarakat NTT karena menjadi makanan pokok mereka. Namun, beberapa tahun terakhir, lahan kebunnya tak melulu dihiasi jagung dan kacang-kacangan. Sejak diperkenalkan budidaya tanaman sayur melalui kegiatan Program for Resilience dari Bina Swadaya Konsultan (BSK), ia mulai menanam berbagai jenis sayuran.

Thomas Taek adalah salah satu tokoh adat Desa Netutnana yang terpandang, meski begitu ia tidak nampak seperti tokoh adat yang lekat dengan kesan berwibawa, menyeramkan, dan hemat gerak atau bicara. Lelaki yang akrab disapa TT, yang merupakan dua inisial dari nama panjangnya, justru berperilaku sebaliknya. Ia adalah sosok yang ramah, humoris, dan bisa dikatakan romantis, terlihat dari bagaimana ia sering bercanda bersama istri tercintanya.

Tiga tahun lalu, sebelum BSK mendampingi masyarakat Netutnana dalam program PfR, Pak TT dan masyarakat Desa Netutnana lainnya masih terbiasa menanam tanaman jagung dan kacang-kacangan, seperti kacang-kacangan hijau dan kacang panjang. Sistem pertanian yang masih diterapkan kala itu adalah sistem tebas bakar. Mereka juga belum pernah menanam sayur dan belum tahu bagaimana melakukan budidaya sayur. Hal tersebut salah satunya dipicu oleh terbatasnya sumber air di desa ini, sedangkan melakukan pemeliharaan tanaman sayur sangat membutuhkan air.

Sebenarnya, Desa Netutnana meemiliki beberapa sumber air, seperti mata air, sumur, dan juga sungai. Akan tetapi, beberapa sumber daya air tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara optimal karena akses yang sulit, jarak yang cukup jauh, dan debit air yang terbatas, terutama ketika musim kemarau tiba. Hambatan itu kiranya yang masih membuat masyarakat enggan menanam sayur.

Namun, setelah diperkenalkan dengan program-program pengurangan risiko rencana yang terintegrasi dan membentuk sebuah Forum Pengurangan Risiko Bencana, masyarakat perlahan mulai mengetahui hal-hal yang bisa mengembangkan desa mereka. Misalnya, mereka mulai paham bagaimana melakukan tindakan-tindakan antisipasi terhadap berbagai ancaman yang ada di desa, mereka tahu cara memaksimalkan daerah tangkapam air untuk meningkatkan kuantitas air, dan juga mereka tahu bagaimana mengolah budidaya sayur yang bisa meningkatkan ekonomi mereka.

Salah satu yang selalu semangat bergerak dan berupaya menyukseskan kegiatan adalah TT. Selain berusaha bergerak untuk melakukan hal-hal yang bisa meningkatkan kapasitas lingkungan desa, ia juga mulai mencoba meningkatkan kapasitas dirinya melalui budidaya sayuran. Baaginya, kesempatan belajar dalam fprb ini adalah kesempatan baik, sedangkan ketersediaan lahan dengan sumber air yang tidak terlalu jauh membuat TT lebih mudah untuk mencoba bertanam sayur, seperti kangkung, sawi, tomat, dan cabai. Dengan berbagai pelatihan mulai dari persiapan lahan, pembibitan, penyemaian, TT mulai mengembangkan budidaya sayur.

Di samping itu, bakat tekun yang memang sudah ada di dalam dirinya memudahkan ia untuk terus mencoba mengembangkan budidaya pertanian organik. Dalam waktu satu tahun, TT telah berhasil mengembangkan budidaya pertanian tersebut dan mampu menambah penghasilannya. Berkat kegigihannya, ia mampu meningkatkan perekonomian keluarganya tanpa luput untuk selalu menjaga lingkungannya.

Kini, keberhasilannya mulai diikuti oleh anggota masyarakat yang lain. Dengan semakin banyaknya orang yang bergerak seperti TT, semakin banyak pula upaya konservasi yang dilakukan masyarakat desa ini.

D. Citra Larasati

(Program Partners for Resilience di Desa Netutnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT)

Izak Selan: Penggerak Anak-Anak Sekolah

Izak Selan

Izak Selan

Sehari-hari, lelaki berusia 52 tahun ini menjalani kehidupannya sebagai penjaga sekolah di salah satu sekolah negeri di Desa Oinlasi. Pria ramah yang selalu membingkai wajahnya dengan seutas senyum ini merupakan salah satu anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana Desa Oinlasi. Kesan sederhana terlihat dari penampilannya sehari-hari. Akan tetapi, di balik kesederhanaannya itu, Izak Selan memiliki semangat yang sangat kaya untuk terus bekerja dan bergerak membangkitkan Forum PRB di desanya.

Sebelum mengenal PfR dan bergabung bersama FPRB, lelaki yang biasa disapa Om Izak atau Pak Izak ini bekerja sebagai tukang jika segala kewajibannya di sekolah sudah ia lunasi. Dengan penghasilan tambahan dari bekerja sebagai tukang ini, ia masih bisa membiayai seorang istri, dua anak kandungnya, dan empat anak sekolah yang ia asuh. Kebaikan hatinya ini membuat ia dekat dengan siapa saja, terutama anak-anak sekolah.

Ketika BSK datang pertama kali ke Oinlasi, Om Izak merupakan salah seorang yang langsung tertarik dan bersemangat untuk bergabung dalam program ini. Ketertarikannya berawal dari rasa ingin tahunya karena inilah pertama kalinya desa mereka mendapat kesempatan untuk berkembang lewat pemberdayaan.

Pengalamannya selama bergabung dengan FPRB tidak bisa dikatakan mudah. Jatuh bangun dalam mendorong masyarakat, penolakan dari berbagai pihak, sempat mewarnai lika-liku perjalanannya di FPRB. Meskipun begitu, ia tetap yakin bahwa dengan semangat dan niat tulus ia bisa mendorong masyarakat Oinlasi bersama-sama berkegiatan dalam naungan forum PRB untuk menuju masyarakat yang tangguh. Ia juga mulai memanfaatkan lahan untuk dijadikan kebun sayur dengan menerapkan sistem pertanian organik yang ia pelajari selama mengikuti FPRB. Akan tetapi, bekerja sendiri bukanlah tujuan utama dari kegiatan ini. Oleh karena itu, ia rajin mengajak tetangga dan para anggota FPRB yang lain untuk menanam sayur di lahan masing-masing dan lahan kelompok KSM.

Semangatnya itu tak hanya ia tularkan ke orang-orang dewasa, tetapi juga ke sekolah-sekolah. Profesinya sebagai tenaga pekerja di sekolah membuat ia memiliki potensi yang besar untuk menyosialisasikan program ini ke anak-anak. Ia juga turut menyosialisasikan kerangka resiliensi di sekolah-sekolah. Hal yang patut diapresiasi karena anak-anak adalah tonggak kemajuan. Jika sedari dini anak-anak tersebut sudah dibekali paradigma tentang kerangka resiliensi, nantinya anak-anak tersebut akan menjadi agen-agen penerus tangguh yang semakin mengembangkan desanya.

Tak hanya itu, Om Izak  juga mengajari mereka cara menanam sayur yang bisa diterapkan anak-anak tersebut di rumah atau di demplot sekolah. Bahkan anak kandungnya dan keempat anak asuhnya kini memiliki bedeng sayur masing-masing dan bisa membiayai keperluan sekolah mereka sendiri, seperti membeli alat tulis dan sepatu.

D. Citra Larasati

(Program Partners for Resilience di Desa Oinlasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT)

Bambang Ismawan Dianugerahi Lifetime Achievement Award

Bambang Ismawan raih Lifetime Achievment Award dari Syamsi Dhuha Foundation dalam ajang Anugerah Jawara Wirausaha Sosial Bandung (AJWSB) 2015

Bambang Ismawan raih Lifetime Achievment Award dari Syamsi Dhuha Foundation dalam ajang Anugerah Jawara Wirausaha Sosial Bandung (AJWSB) 2015

Pendiri Yayasan Bina Swadaya Bambang Ismawan, mendapatkan penghargaan Lifetime Achievement Award dari Syamsi Dhuha Foundation, tepat di Hari Pahlawan 10 November 2015 dalam ajang  Anugerah Jawara Wirausaha Sosial Bandung (AJWSB) 2015 di Auditorium Balai Kota Bandung.

Bambang Ismawan menurut mereka adalah pelopor berdirinya LSM Yayasan Bina Swadaya, yang cikal bakalnya sudah dimulai sejak tahun 1967. Pada saat didirikan bernama Yayasan Sosial Tani Membangun.

Komitmen Bambang Ismawan tak diragukan lagi, sejak masih menjadi mahasiswa FE UGM hingga kini telah membawahi sekitar 17 perusahaan terbatas yg bergerak dalam lima bidang, yakni keuangan mikro, agribisnis, komunikasi pembangunan, wisata alternatif, dan pemberdayaan masyarakat. Yayasan Bina Swadaya telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 7000 pimpinan LSM pemberdayaan masyarakat, memiliki omzet lebih dari 20 milyar/tahun dan mempekerjakan lebih dari 1000 orang karyawan.

Ditempat terpisah saat mengisi acara di Sankalp Forum. Bambang Ismawan mengapresiasi penghargaan yang diberikan kepadanya. “Bagi saya ini kehormatan bagi Bina Swadaya. Saya dengan Bina Swadaya tidak mungkin dilepaskan, karena begitu saya, bahkan sebelum saya selesai studi saya sudah memutuskan akan bergabung dengan gerakan pemberdayaan”, ucapnya.

Bambang-raih AJWSB 2015

AJWSB adalah kompetisi Social Preneurs (SP) yg digagas Syamsi Dhuha Foundation untuk berkembang menjadi Venture Philanthropy Organization bekerjasama dengan BaSIC (Bandung Social Innovation Circle) & didukung oleh Pemerintah Kota Bandung. Kompetisi ini terbuka bagi SP yg miliki ide usaha atau usaha yg telah berjalan yg berikan dampak atau perubahan positif bagi warga Kota Bandung khususnya & Jawa Barat pada umumnya.

Para jawara yang berhasil lolos dari beberapa tahapan seleksi sejak awal yg diikuti 293 pendaftar, disaring menjadi 50 nominator & kemudian terpilih 12 finalis. Proses penilaian serta seleksi yang ketat telah dilakukan dewan juri didukung oleh fasilitator dari berbagai kalangan, diantaranya Ari Sutanti (British Council), Romy Cahyadi (UnLtd Indonesia), Dewi Meisari (UKM Center Universitas Indonesia) & Juwanda (Dewan Smart City Kota Bandung).

Salah satu tahapan yg harus dilalui para finalis adalah lakukan penggalangan dana dari masyarakat (crowd funding). Panitia melakukan kunjungan untuk monitoring kegiatan operasional para finalis di daerahnya masing-masing. Dampak sosial dari usaha yg dijalankan merupakan faktor penting dari kriteria penilaian, selain faktor-faktor lainnya seperti pengelolaan & perencanaan pengembangan usaha yangg dapat jaga keberlangsungan usaha untuk tetap pertahankan misi sosialnya.

Ketika Perempuan Tak Lagi Hanya Sebatas Kasur, Sumur, dan Dapur

Mak Lin

Mak Lin

Suaranya teramat lantang. Matanya terkadang teduh terkadang menggambarkan ketegasan. Wanita paruh baya ini memang tidak seperti wanita desa pada umumnya. Ia mampu berlaku gagah bak pengacara atau proklamator, “bersuara”, dan “bergerak”. Seorang wanita desa yang menjunjung tinggi semangat kartini, semangat perjuangan kaum hawa yang masih terkesan minor, terutama bagi wanita NTT yang masih harus bertahan di bawah lekatnya budaya patriarki. Belandina, atau yang akrab disapa mak Lin, dinobatkan sebagai petani motivator Desa Nakfunu oleh Bina Swadaya Konsultan.

Sehari-hari, Mak Lin bekerja di kebun sayur miliknya. Selain itu, ia juga merupakan seorang kader posyandu di Desa Nakfunu. Mak Lin memang terhitung sebagai seorang yang aktif di desanya. Ketika BSK masuk pun ia salah satu orang yang memiliki semangat dan kepercayaan bahwa kegiatan ini kelak akan bermanfaat bagi desanya.

Mak Lin merupakan Ketua KSM Adikka yang terletak di dusun 2. Berbagai kegiatan dan pelatihan yang diberikan BSK semua ia ikuti dengan baik. Ia juga menggerakkan masyarakat dusun 2 untuk bergabung bersama kegiatan ini. Dia bisa menggerakan anggota kelompoknya dengan baik untuk terus bekerja bersama-sama membangun kelompok, walaupun tentu saja di tengah perjalanannya ia menemui kerikil-kerikil tajam. Kedua, ia juga bisa mengajak anggota kelompok untuk bekerja di demplot dan membuat bedeng-bedeng sayur sehingga sampai saat ini, setiap anggota kelompok telah memiliki bedeng-bedeng sayur masing-masing.

DI samping pencapaian di bidang livelihood, Mak Lin juga telah memiliki kesadaran bahwa lingkungan tempat mereka tinggal rawan terhadap ancaman longsor dan kekeringan. Oleh karena itu, ia bersama-sama dengan anggota KSM rajin melakukan kegiatan penanaman di daerah-daerah rawan longsor. Berkat kegigihan dan niat yang tak pernah pudar, mereka akhirnya bisa mendapatkan bantuan dana Dinas Kehutanan sebesar 40 juta. Demi kemajuan anggotanya, Mak Lin bahkan merelakan tanahnya untuk dijadikan demplot dan untuk ditanami anakan dengan luas 4 ha. Hal yang tentu tidak mudah mengingat masyarakat NTT yang masih menerapkan sistem pertanian tebas bakar ketika musim tanam jagung tiba. Sistem tebas bakar mengharuskan mereka menebang semua pohon dan membakarnya untuk ditanami jagung yang merupakan makanan pokok masyarakat Pulau Timor. Mereka lebih baik menebang pohon daripada tidak bisa menanam jagung.

Kelantangan Mak Lin tidak hanya terbatas di lapangan saja, tetapi juga ketika berhadapan dengan para aparat pemerintahan. Ia tidak pernah malu dan tidak pernah gugup ketika harus berdiri di depan untuk menjelaskan sesuatu. Melihat kepercayaan diri mak Lin yang seperti itu, siapa pun pasti akan terkagum-kagum. Ada kartini yang bersemayam dalam dirinya yang membuat ia mampu bekerja dan bersuara layaknya seorang pria. Hal yang sudah tentu masih jarang dilihat mengingat ia hidup dan besar di desa yang masih menjunjung tinggi patriarki. Oleh karena itulah, sudah sepantasnya Mak Lin dinobatkan sebagai petani motivator Desa Nakfunu.

D. Citra Larasati

(Program Partners for Resilience di Desa Nakfunu, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT)

PIB Kembangkan Budidaya Kroto

Ifa melakukan pengamatan terhadap perkembangan telur kroto

Ifa melakukan pengamatan terhadap perkembangan telur kroto

Pusat Inkubasi Bisnis (PIB) Bojonegoro mengembangkan budidaya semut rangrang (kroto) sebagai alternatif sumber penghasilan keluarga.

Ifa Zumrotun Naimah (34), merupakan salah satu penerima manfaat program budidaya kroto. “Saya senang, karena sekarang dapat membantu perekonomian keluarga dengan berjualan kroto. Hasil beternak kroto juga cukup memuaskan. Kami dapat menjual hasil panen kroto ke Asosiasi Rangrang Abang dengan harga Rp 250.000 per kilogram” ujar Ifa.

Ifa menambahkan, kini sudah ada saluran pemasaran kroto kami ke sebuah koperasi di Bogor yang memberi kuota untuk memasok kroto sebanyak 100 kilogram per hari. “Sangat menjanjikan”, ucap Ifa.

Sejak mengikuti program di bulan Maret 2015, wanita asal Desa Ngraho itu mendapat pelatihan meliputi teori Kroto Bon Bogor, tempat perkembangbiakan kroto, pakan dan studi pengamatan atau analisa terhadap perkembangan telur, jenis-jenis kroto hingga pengamatan suhu yang cocok untuk beternak kroto.

Saat ini Ifa menjadi bendahara Asosiasi Rangrang Abang di Desa Sudu. Asosiasi Rangrang Abang beranggotakan 30 orang dari empat desa yaitu Desa Katur, Begadon, Sudu dan Ngraho di Kabupaten Bojonegoro.

Saat Pameran Bojonegoro Expo, Sigit Agustiyono Team Leader PIB mengatakan, kroto merupakan salah satu jenis usaha budidaya yang sedang di kembangkan, Harapannya, kehadiran koloni ini bisa menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat untuk menggeluti budidaya kroto sebagai alternatif sumber penghasilan keluarga.

PIB merupakan perkumpulan yang mewadahi berbagai asosiasi usaha di Bojonegoro, saat ini sudah ada 8 asosiasi usaha yang masuk menjadi anggota di PIB salah satunya adalah asosiasi usaha budidaya kroto Rang Rang Abang yang bergerak dibidang usaha budidaya kroto.

PIB salah satu rangkaian program pemberdayaan ekonomi masyarakat, dibentuk untuk mewadahi kegiatan kewirausahaan di Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. PIB menjadi upaya untuk meningkatkan  perekonomian sekaligus menumbuhkan kemandirian masyarakat.

Membangun Spirit Kewirausahaan melalui PIB

Sigit team leader PIB menunjukan usaha produk kroto pada pengunjung saat Pameran di Bojonegoro Jawa Timur

Sigit Agustiyono Team Leader PIB menunjukan usaha produk kroto pada pengunjung saat pameran di Bojonegoro Jawa Timur

Pusat Inkubasi Bisnis (PIB) dibentuk untuk mewadahi kegiatan kewirausahaan masyarakat di Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. PIB menjadi upaya pengembangan guna meningkatkan perekonomian sekaligus menumbuhkan kemandirian masyarakat.

Project Supervisor Bina Swadaya Ayu Bulan menuturkan, program ini dikembangkan untuk memfasilitasi aspirasi masyarakat yang ingin belajar usaha dan mengembangkan usahanya mulai dari skala mikro, kecil hingga menengah.

Selain itu, PIB di gagas sebagai sarana memudahkan kelompok usaha masyarakat dalam pengembangan usaha, kegiatan pelatihan teknis bagi pelaku usaha, pengembangan jaringan, dan pemasaran produk.

Sigit Agustiyono Team Leader PIB menjelaskan, PIB sbg wahana pembelajaran bagi wirausaha kecil-menengah & pemula. “Program ini sebagai learning untuk menjadi wirausaha yang mandiri dan profesional di Bojonegoro” jelas Sigit.

Kegiatan ini ditujukan juga untuk mempercepat capaian program PMM (Pengembangan Mata pencarian Masyarakat), yang saat ini tengah berjalan, serta menampung dan menumbuhkan inisiatif dan peluang usaha masyarakat. Untuk pelaksanaanya pun PIB akan selalu terintegrasi dengan kegiatan PMM.

Selain itu, kegiatan PIB akan menggandeng tokoh penggerak, agar terdapat sinergi yang saling menguntungkan dan terbukanya kesempatan bagi para calon wirausaha untuk belajar dan ikut serta dalam kegiatan usaha yang ditumbuhkan.

Pengembangan usaha PIB akan difasilitasi melalui strategi pengembangan model supply-chain yang dapat menghubungkan kepentingan pelaku usaha dan proses akselerasi baik dari hulu (production) sampai hilir (marketing).

Selanjutnya, untuk mengakomodir kegiatan PIB diadakan pelatihan teknis berupa marketing, produksi (packaging), suppy chain management, keuangan, pertanian, peternakan dan manajemen kelembagaan. Membangun investasi bisnis, dalam bentuk kerja sama dan penanaman modal kepada usaha-usaha yang memiliki potensi. Kemudian kegiatan lokakarya, pameran produk dan temu usaha kalangan wirausahawan lokal dan regional guna membangun jaringan.