• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Author Archive Septian Nugraha

Inspirasi Pemberdayaan dari Bupati Bojonegoro

Kunjungan Bupati Bojonegoro Suyoto ke Toko Trubus Bina Swadaya, ditemani Pembina Bina Swadaya Bambang Ismawan

Kunjungan Bupati Bojonegoro Suyoto ke Toko Trubus, ditemani Pembina Bina Swadaya Bambang Ismawan

Dalam kunjungannya ke Bina Swadaya Kamis (20/8) di Wisma Hijau Cimanggis Depok, Bupati Bojonegoro Suyoto membahas pola pemberdayaan yang ia kembangkan di Bojonegoro. Sejumlah hal startegis diungkapkan guna mengubah citra Bojonegoro sebagai salah satu kabupaten termiskin di Jawa Timur.

Kang Yoto sapaan akrab Bupati menuturkan, banyak cara dilakukan supaya dapat memberdayakan warga lebih produktif. Terkait kebutuhan dana, setiap desa mendapat bantuan akses keuangan untuk pelaksanaannya.

Aspek pendidikan, Kang Yoto menjadikan sekolah pusat pemberdayaan masyarakat. Ia menginisiasi program sekolah bermitra dengan desa tertentu sehingga terjadi transfer pengetahuan dari sekolah ke warga desa. “Saya ingin betul – betul sekolah menjadi sentra dari gerakan pemberdayaan” ucap Kang Yoto.

Salah satu cara membangun Bojonegoro adalah melalui sekolah. Ia akui banyak sekolah punya lahan kosong yang bisa digunakan sebagai gerakan membangun penghijuan. “Saya lihat sekolah ini banyak lahan kosong, saya kan selalu baca Trubus, kalau saya baca Trubus saya selalu punya ide. Ibu Yoto (istri) mempunyai gerakan smart school bagaimana memaksimal mungkin lahan yang ada di sekolah” ucapnya.

Selanjutnya Kang Yoto menggulirkan program optimalisasi lahan pekarangan untuk atasi gagal panen akibat kerap banjir. Menurutnya, musibah banjir yang sering menggagalkan produksi pangan diatasi dengan konsep living harmony with flood.

“Jadi pengaturan pola tanam disesuaikan dengan periode banjir. Sebelum banjir sudah panen, setelah banjir mulai tanam lagi,” ujar Bupati kelahiran 17 Februari 1965 ini.

Gagasannya lainnya, di sejumlah wilayah dibuatkan embung alias penampungan air untuk atasi bencana kekeringan. Luasnya 1 hektare per embung dengan target 500 embunng sampai 1.000 embung.

Selain itu, dijadikannya kebun warga sebagai lokasi argowisata untuk upaya promosi yang selama ini sulit dipasarkan serta mendongkrak harga jual di tingkat petani. Salah satunya adalah pengembangan kebun belimbing warga.

Pertemuannya dengan Bina Swadaya menurut Kang Yoto ingin mengenal lebih jauh tentang kegiatan Bina Swadaya dan produk-produknya. Selama ini, ia kenal Majalah Trubus sebagai produk Bina Swadaya dan ia sering membacanya, karena diakui Majalah Trubus lebih kearah pemberdayaan.

Bagi Kang Yoto, menjadi bupati sebuah jalan untuk melakukan pemberdayaan. Inspirasi dari Bupati inilah menjadi masukan bagi Bina Swadaya untuk program pemberdayaan sebagai pengabdian terhadap masyarakat.

Saat ini, Bina Swadaya menjalankan program livelihood melalui pengelolaan sumber daya alam secara mandiri dan berkelanjutan di Bojonegoro dan Tuban. Harapannya, mampu meningkatkan penghidupan masyarakat dan menyentuh setiap kebutuhan yang sesungguhnya dirasakan masyarakat, sehingga saat program dilaksanakan masyarakat ikut memiliki dan merasakan hasil dari kegiatan program.

Regents TTS Support at the Exhibition Building Resilience

Bupati TTS (kanan) bersama Ketua DPRD saat panen sayur organik di demplot Desa Noebesa

Regent TTS (right) along withChairman of Parliament (DPRD) during harvest organic vegetable demonstration plot Village Noebesa

Thursday (9/7), becomes an important day four villages assisted Bina Swadaya Konsultan (BSK). An exhibition is an event of the publication of an integrated organic farming system model for Disaster Risk Reduction (DRR), climate change adaptation and restoration of ecosystem management held in two villages, representing the District of South Amanatun and District Central Amanuban, which in Oinlasi and Noebesa.

Regent South Central Timor (TTS) Paul VR Mela is present in the exhibition, said the government continues to support the mentoring activities BSK, in accordance with the programs related to the disaster resilience, agriculture and others through related SKPD. “I hope the four villages to science, to be a companion to other villages, so that future science is owned by all the people TTS”. hope Regent.

Regent TTS encourage people to use the potential of their capacity at this time to continue to continue the program by utilizing funds from the government and from the village fund. One of them, by encouraging people to join their group union that funding is guaranteed in the future.

In addition, there is also the Chairman of Parliament (DPRD) Jean Neonufa, some related SKPD, NGOs and businesses which have worked together doing activities for Resilience Program. The presence of the government, NGOs, and businesses for the purpose of uniting faith in order to create partnerships that are interconnected and support each other.

In the event, the village set up five locations different exhibitions, each featuring one practices related to organic farming, which is the location of the composting process, the location of liquid fertilizer, site of the pesticide plant, nursery, and the location where the application of replication 3R ( Recharge, Retention, Reuse).

These locations will be visited by the group, consisting of participants from SKPD present to see for themselves how the five things to do.

Each location there is a guide who is a member FPRB (Forum for Disaster Reduction) and farmers motivator KSM tasked to explain the processes of making five things. The guide should be appreciated, because it is able to explain the process of organic farming systems with enthusiasm to the exhibitors agriculture.

 

Dukungan Bupati TTS di Pameran Membangun Ketangguhan

Bupati TTS (kanan) bersama Ketua DPRD saat panen sayur organik di demplot Desa Noebesa

Bupati TTS (kanan) bersama Ketua DPRD saat panen sayur organik di demplot Desa Noebesa

Kamis (9/7) lalu, menjadi hari penting keempat desa dampingan Bina Swadaya Konsultan (BSK). Sebuah pameran yang merupakan ajang publikasi model sistem pertanian organik terintegrasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB), adaptasi perubahan iklim dan restorasi manajemen ekosistem diselenggarakan di dua desa,  mewakili Kecamatan Amanatun Selatan dan Kecamatan Amanuban Tengah, yaitu di Oinlasi dan Noebesa.

Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) Paulus VR Mela yang hadir dalam pameran mengatakan, pemerintah terus mendukung kegiatan pendampingan BSK, sesuai dengan program yang berkaitan dengan ketangguhan bencana, pertanian dan lainnya melalui SKPD terkait. “Saya harap empat desa yang dapat ilmu, supaya jadi pendamping untuk desa lainnya, sehingga kedepan ilmu itu dimiliki semua masyarakat TTS”. harap Bupati.

Bupati TTS mendorong masyarakat menggunakan potensi kapasitas yang mereka miliki saat ini untuk terus berupaya melanjutkan program dengan memanfaatkan dana dari pemerintah dan dari dana desa. Salah satunya, dengan mendorong masyarakat untuk bergabung bersama Gapoktan agar pendanaan mereka ke depannya lebih terjamin.

Selain itu, hadir juga Ketua DPRD Jean Neonufa, beberapa SKPD terkait, LSM dan pelaku usaha yang selama ini turut bekerja sama melakukan kegiatan Program for Resilience. Kehadiran pemerintah, LSM, dan pelaku usaha dimaksudkan untuk menyatukan keyakinan agar terjalin  kemitraan yang saling berhubungan dan mendukung satu sama lain.

Dalam acara tersebut, satu desa menyiapkan lima lokasi pameran berbeda yang masing-masing menampilkan satu praktik yang berkaitan dengan pertanian organik, yaitu lokasi proses pembuatan kompos, lokasi pembuatan pupuk cair, lokasi pembuatan pestisida nabati, lokasi pembibitan, dan lokasi tempat diterapkannya replikasi 3R (Recharge, Retention, Reuse).

Lokasi tersebut nantinya dikunjungi oleh kelompok, terdiri peserta dari SKPD yang hadir untuk melihat sendiri bagaimana proses kelima hal tersebut dilakukan.

Setiap lokasi terdapat satu pemandu yang merupakan anggota FPRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana) dan petani motivator KSM yang bertugas menjelaskan proses-proses pembuatan kelima hal itu. Para pemandu patut diapresiasi, karena mampu menjelaskan proses sistem pertanian organik dengan penuh antusias kepada peserta pameran pertanian.

Increase Economic Community Through Organic Farming

The village motivator Noebesa give farmers harvest organic farm in Ikasari

The village motivator Noebesa give farmers harvest organic farm in Ikasari

Organic farming has appeared at improving the economic successful of community at the village assisted Noebesa, Oinlasi, Nakfunu, and Netutnana in Timor Tengah Selatan District (TTS), East Nusa Tenggara (NTT).

In the implementation of organic farming system is integrated with three approaches, which Disaster Risk Reduction (DRR), climate change adaptation and restoration of ecosystem management. Then implemented through a community approach to organizing community in Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) at any village.

Program Manager BSK Ikasari said, the implementation of organic farming system is to maintain the health of the land and plants through the process of recycling agricultural wastes, manure and does not use inorganic fertilizers and chemical pesticides.

Continue Ikasari, simple and easily mastered the technology community, so that it can exploit alone needs fertilizers and medicines which raw materials were taken in the environment around. With the environmentally friendly processing, will guarantee the continuity of agriculture to support community food resilience.

Head of Village Noebesa Danial Bau attending Community Resilience Exhibition to say gratitude, because the PFR program (Partners for Resilience) can improve the local economy through organic farming. Danial added, knowledge of farmers are now getting better and has even been able to make their own organic fertilizer.

All this time, NTT communities identical to the slash and burn farming systems which in fact is very detrimental. Many trees are were cut down and also can destroys the land. As such, the preparation of land use terracing system is has contributed to conservation efforts. Terracing can reduce the potential for landslides.

The next, practice of implementation of 3Rs (Recharge, Retention, Reuse), which maximizes catchment area to improve the quantity of groundwater at agricultural land. With the implementation of the 3R system of water reserves in the ground can be increased, so as to minimize the long drought that is threatening large parts of the province.

Tingkatkan Ekonomi Masyarakat Melalui Pertanian Organik

Petani motivator Desa Noebesa memberikan hasil panen pertanian organik pada Ikasari

Petani motivator Desa Noebesa Agustinus Bety memberikan hasil panen pertanian organik pada Ikasari

Pertanian organik telah menampakan keberhasilan pada upaya peningkatan ekonomi masyarakat di Desa dampingan yakni Noebesa, Oinlasi, Nakfunu, dan Netutnana di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam pelaksanaannya, sistem pertanian organik diintegrasikan dengan tiga pendekatan, yaitu Pengurangan Risiko Bencana (PRB), adaptasi perubahan iklim dan restorasi manajemen ekosistem. Kemudian dilaksanakan melalui pendekatan komunitas dengan mengorganisasikan masyarakat dalam Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di setiap desa.

Manajer Program BSK Ikasari menuturkan, implementasi sistem pertanian organik ini guna menjaga kesehatan tanah dan tanaman melalui proses daur ulang limbah pertanian, kotoran ternak dan tidak memakai pupuk anorganik serta pestisida kimia.

Lanjut Ikasari, teknologinya sederhana dan mudah dikuasai masyarakat, sehingga bisa mengusahakan sendiri kebutuhan pupuk dan obat-obatan yang bahan bakunya diambil di lingkungan sekitar. Dengan pengelolaan pertanian organik yang ramah lingkungan, akan menjamin keberlajutan pertanian untuk tingkatkan sosial, ekonomi serta ketangguhan pangan masyarakat.

Kepala Desa Noebesa Danial Bau yang menghadiri Pameran Ketangguhan Masyarakat mengucapkan rasa terima kasih, karena program PfR (Partner for Resilience) dapat meningkatkan ekonomi masyarakat melalui pertanian organik. Danial menambahkan, kini pengetahuan petani semakin baik dan bahkan telah mampu membuat pupuk organik sendiri.

Selama ini, masyarakat NTT identik dengan sistem pertanian tebas bakar yang nyatanya sangat merugikan. Banyak pohon yang ditebang dan juga dapat merusak tanah. Dengan demikian, persiapan lahan menggunakan sistem terasering ini turut mendorong upaya konservasi.  Terasering mampu mengurangi potensi terjadinya tanah longsor.

Selanjutnya penerapan praktik 3R (Recharge, Retention, Reuse), yaitu memaksimalkan daerah tangkapan air untuk meningkatkan kuantitas air tanah di lahan pertanian. Dengan diterapkannya sistem 3R cadangan air dalam tanah dapat meningkat, sehingga mampu meminimalisir bencana kekeringan yang selama ini mengancam sebagian besar wilayah NTT.

Organic Farming as a Sustainable Agriculture

KSM di Desa Nakfunu sedang membuat Pupuk Kompos

KSM in the village Nakfunu were making Compost

In principle, organic farming in accordance with policy direction of the National Agricultural Development in efforts towards sustainable agricultural development. Organic farming was developed as a sustainable productive activities that are environmentally friendly.

Many of the benefits from organic farming in terms from aspect of improving soil fertility and increase plant production, from the environmental aspect in maintaining the ecosystem, while from economic aspects does not need to import fertilizers, agricultural chemicals and provide many employment opportunities also increase farmers’ income.

BSK facilitated the implementation of organic farming also has shown success at improving the local economy and the integration efforts at disaster risk reduction, climate change adaptation and restoration of ecosystem management that farmers have for years expected and call. So that future agriculture will be sustainable in terms of economic and environmentally friendly agriculture.

Activities carried out in four villages namely Noebesa, Oinlasi, Nakfunu, and Netutnana. Beginning to prepare the land, by creating beds of flat land and the terracing on sloping land.

So that the plants are protected from pests, farmers are not use chemical pesticides, but the pesticide plant that they make themselves from a combination of foliage, such as papaya leaf, leaf mahogany and Gliricidia leaves mixed with water with the right dose. Pestisda use is believed to protect the fertility of the soil and make the ground broken. Equally important, the use of botanical pesticides produces healthier plants and fresh.

Meanwhile, to fertilize crops, they no longer use chemical fertilizers, but natural materials such as EM4 and Bokashi fertilizer. EM4 and Bokashi manure fertilizer can be made easily using materials that are around them. Then farmers can also make liquid fertilizer from organic waste and livestock manure. Now they can produce a harvest of the highest quality without seeding and maintenance costs are too high.

 

Pertanian Organik sebagai Pertanian Berkelanjutan

KSM di Desa Nakfunu sedang membuat Pupuk Kompos

Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di Desa Nakfunu melakukan proses membuat pupuk kompos

Pada prinsipnya, pertanian organik sejalan dengan arah kebijakan Pembangunan Pertanian Nasional yakni dalam upaya menuju pembangunan pertanian yang berkelanjutan (sustainable agriculture). pertanian organik dikembangkan sebagai kegiatan produktif berkelajutan yang ramah lingkungan.

Banyak keuntungan yang didapat dari pertanian organik ditinjau dari, segi peningkatan kesuburan tanah dan peningkatan produksi tanaman, dari aspek lingkungan dalam mempertahankan ekosistem, sedangkan dari aspek ekonomi tidak perlu mengimpor pupuk, bahan kimia pertanian serta memberi banyak kesempatan lapangan kerja juga meningkatkan pendapatan petani.

Penerapan pertanian organik dampingan BSK pun telah memperlihatkan keberhasilan pada upaya peningkatan ekonomi masyarakat serta upaya integrasi pada program pengurangan risiko bendana, adaptasi perubahan iklim dan restorasi manajemen ekosistem yang sudah bertahun-tahun petani harapkan dan serukan. Sehingga kedepannya akan menjadi pertanian yang berkelanjutan dalam segi ekonomi dan pertanian yang ramah lingkungan.

Kegiatannya dilakukan di empat desa yakni Noebesa, Oinlasi, Nakfunu, dan Netutnana.  Permulaannya mempersiapkan lahan, dengan cara membuat bedeng-bedeng di lahan datar dan terasering di lahan yang miring.

Selama ini, masyarakat NTT identik dengan sistem pertanian tebas bakar yang nyatanya amat merugikan karena banyak pohon yang ditebang dan juga dapat merusak tanah. Dengan demikian, persiapan lahan menggunakan sistem terasering ini turut mendorong upaya konservasi.  Kemudian para petani mulai melakukan penyemaian dengan memaksimalkan bahan lokal seperti daun pisang karena harga yang terjangkau dan tersedia di daerah mereka.

Supaya tanaman terlindung dari serangan hama, para petani tidak menggunakan pestisida kimia, tetapi pestisida nabati yang mereka buat sendiri dari kombinasi dedaunan, seperti daun pepaya, daun mahogani dan daun gamal yang dicampur air dengan takaran yang tepat. Penggunaan pestisda ini diyakini dapat melindungi kesuburan tanah dan tidak membuat tanah rusak. Tak kalah penting, penggunaan pestisida nabati ini menghasilkan tanaman yang lebih sehat dan segar.

Sementara itu, untuk menyuburkan tanaman, mereka tidak lagi menggunakan pupuk kimia, tetapi bahan alami seperti EM4 dan pupuk bokashi. Pupuk EM4 dan pupuk bokashi dapat dibuat dengan mudah menggunakan bahan yang ada di sekitar mereka. Kemudian petani juga bisa membuat pupuk cair dari sampah organik dan kotoran ternak. Kini mereka dapat menghasilkan panen dengan kualitas terbaik tanpa biaya penyemaian dan pemeliharaan yang terlalu tinggi.

Uncover Crisis Indonesian NGOs

NGOs Indonesia

Indonesian NGOs crisis, reduction started a support donors to NGOs in Indonesia. According to Satu Dunia Foundation, may be most donors judge, Indonesia has been relatively democratic and economically advanced.

Divert donor aid to other countries are not considered politically democratic and economically undeveloped. Economically developed might mean liberal by donors.

In addition, in the middle of Indonesian NGOs dependence on donors, of the assistance reduction could threaten the sustainability of the organization. In fact we are do not judge rare NGOs that torpor but not a few were already dead.

Discussions were held on Satu Dunia was revealed, also were influenced and conditions of the crisis caused by the failure of Indonesian NGOs to meet the expectations of donors, less adaptable and innovative advocacy against policies donor / government, limited access to donors.

The next, evidence-based advocacy demands of donors become an important issue in funding. For NGOs are able to answer these demands will be easier access to donors and greater chances to get help.

End of discussion, there is a statement that needs to be addressed and mutual concern, how the Indonesian NGOs could create advocacy programs for the middle class to perform the movements of social change or as the motor of the advocacy movement.

discussion “Knowledge Café” with the theme of Indonesian NGOs Crisis, Where Direction Social Movement? Attended the institution of the Foundation Institute, Plan International, The Asia Foundation, Bina Swadaya, IBU Foundation Bandung, SDLT Aceh (Suara Danau Laut Tawar) in Café Retro, Bidakara Complex, Gatot Subroto, Jakarta, Wednesday (5/8).

Mengungkap Krisis NGOs Indonesia

NGOs Indonesia

Krisis NGOs di Indonesia, berawal  dikuranginya bantuan lembaga-lembaga donor kepada NGOs Indonesia. Menurut Yayasan SatuDunia, mungkin sebagian lembaga donor menilai, Indonesia telah relatif demokratis dan maju secara ekonomi.

Lembaga donor mengalihkan bantuannya ke negara-negara lain yang dinilai belum demokratis secara politik dan belum maju secara ekonomi. Maju secara ekonomi bisa jadi berarti liberal menurut lembaga donor.

Selain itu, di tengah ketergantungan NGOs Indonesia terhadap lembaga donor, tentu dikuranginya bantuan tersebut dapat mengancam keberlanjutan organisasi. Bahkan kita menilai tidak jarang ada NGOs yang mati suri tapi tidak sedikit pula yang sudah mati.

Diskusi yang digelar SatuDunia ini terungkap, kondisi krisis juga dipengerahui dan diakibatkan oleh gagalnya NGOs Indonesia untuk memenuhi ekspektasi donor, kurang beradaptasi dan berinovasi advokasi terhadap kebijakan lembaga donor/pemerintah, terbatasnya akses ke lembaga donor.

Selanjutnya, tuntutan advokasi berbasis evidence dari lembaga donor menjadi isu penting dalam pendanaan. Bagi NGOs yang mampu menjawab tuntutan tersebut akan lebih mudah akses ke lembaga donor dan peluangnya lebih besar untuk mendapatkan bantuan.

Akhir diskusi, muncul sebuah pernyataan yang perlu disikapi dan menjadi perhatian bersama, bagaimana NGOs Indonesia bisa membuat program advokasi bagi kelas menengah untuk melakukan gerakan perubahan sosial atau berperan sebagai motor gerakan advokasi.

kegiatan diskusi “Kedai Pengetahuan” dengan tema Krisis NGOs Indonesia, Kemana Arah Gerakan Sosial? Dihadiri lembaga dari Yayasan SMERU, Plan International, The Asia Foundation, Bina Swadaya, Yayasan IBU Bandung, SDLT Aceh (Suara Danau Laut Tawar) di Café Retro, Kompleks Bidakara, Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (5/8).

Dialogue Open with Mubins

Tim Mubins diskusi terbuka bersama Bina Swadaya di Wisma Janakarya, Jl Gunung Sahari III Jakarta Pusat

Team Mubins open discussion together with Bina Swadaya at Wisma Janakarya, Jl Gunung Sahari III Central Jakarta

Mubyarto Institute (Mubins) visit Bina Swadaya to have an open dialogue, give each information and seeking linkages to strategic and effective cooperation in Wisma Janakarya  and Wisma Hijau (15-16/6).

Coming from Yogyakarta, Mubins team consisting of Rian, Anto, Toni, Budi, Junet related strategic dialogue and cooperation open network. Then learn more about the activities of Bina Swadaya.

Toni hope that this meeting could learn from Bina Swadaya in order to generate a movement, action, and cooperation on the development of useful for rural communities.

Meanwhile, Bambang Ismawan appreciate meeting with Mubins. “We are very happy to see the optimistic attitude that radiates from the face beaming among activists Mubins when closing the strategic dialogue between Mubins and Development Organization,” he said.

Mubins under the auspices of the Foundation Mubyarto have 5 years of work and struggle to continue thinking Professor Mubyarto, in developing Pancasila Economic System and the economic empowerment of the people of Indonesia. This is done through a variety of studies, training, policy advocacy, and empowerment programs in the field.

Mubins established to collect, assess, mengkembangkan, and realize good ideas and thoughts Mubyarto in the field of scientific and social activities.

In efforts “Continuing Mubyarto” the year 2015 is some agenda and the product of thought or empowerment that will be rolled out Mubyarto Institute with the support of partners including the schools Mubyarto, college of applied economics Pancasila, college Mubyarto, school market, Higher Education Village (PTDes), school green, smart village, school koperaasi, the index measuring economic democracy.