• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Author Archive Septian Nugraha

Dialog Terbuka Bersama Mubins

Tim Mubins diskusi terbuka bersama Bina Swadaya di Wisma Janakarya, Jl Gunung Sahari III Jakarta Pusat

Tim Mubins diskusi terbuka bersama Bina Swadaya di Wisma Janakarya, Jl Gunung Sahari III Jakarta Pusat

Mubyarto Institute (Mubins) kunjungi Bina Swadaya guna melakukan dialog terbuka, saling memberi informasi dan mencari keterkaitan untuk kerjasama secara strategis dan efektif di Wisma Janakarya dan Wisma Hijau (15-16/6).

Datang dari Yogyakarta, Tim Mubins terdiri dari Rian, Anto, Toni, Budi, Junet dialog startegis terkait membuka jaringan dan kerjasama. Kemudian belajar banyak mengenai kegiatan Bina Swadaya.

Toni berharap pertemuan ini bisa belajar dari Bina Swadaya guna menghasilkan suatu gerakan, aksi, serta kerjasama tentang pengembangan yang berguna bagi masyarakat pedesaan

Sementara itu, Bambang Ismawan mengapresiasi pertemuan dengan Mubins. “Kami sangat bahagia menyaksikan sikap optimis yang terpancar dari wajah – wajah berseri diantara pegiat Mubins ketika menutup acara dialog strategis antara Mubins dan Bina Swadaya”, ucapnya.

Mubins di bawah naungan Yayasan Mubyarto telah 5 tahun berkiprah melanjutkan pemikiran dan perjuangan Profesor Mubyarto, dalam mengembangkan Sistem Ekonomi Pancasila dan memberdayakan ekonomi rakyat Indonesia. Hal tersebut dilakukan melalui berbagai kajian, pelatihan, advokasi kebijakan, dan berbagai program pemberdayaan di lapangan.

Mubins didirikan guna menghimpun, mengkaji, mengkembangkan, dan merealisasikan gagasan dan pemikiran Mubyarto baik di bidang keilmuan maupun praksis sosial.

Dalam upaya “Melanjutkan Mubyarto” tahun 2015 ini beberapa agenda dan produk pemikiran atau pemberdayaan yang akan digulirkan Mubyarto Institute dengan dukungan para mitra diantaranya adalah, sekolah Mubyarto, kuliah terapan ekonomi Pancasila, kuliah Mubyarto, sekolah pasar, Perguruan Tinggi Desa (PTDes), sekolah hijau, desa pintar, sekolah koperaasi, pengukuran indeks demokrasi ekonomi.

Organic farming Integrated with DRR, Climate Change Adaptation and Restoration of Ecosystem Management

Petani melakukan pengamatan iklim secara sederhana, salah satunya untuk menentukan kapan kegiatan pertanian dimulai dan tanaman apa yang cocok ditanam sesuai musim

Farmers perform climate observations in a simple, one to determine when to begin agricultural activities and what plants are suitable planted according to season

Organic farming Integrated with DRR, Climate Change Adaptation and Restoration of Ecosystem Management

Management of organic farming has an impact on the efforts for Disaster Risk Reduction (DRR), climate change adaptation and restoration of ecosystem management.

One of them embrace the practice of 3R (Recharge, Retention, Reuse), which is the practice of maximizing the catchment area to increase the quantity of groundwater, farmland.

With the implementation of the 3R system, water reserves in the soil can be increased so as to minimize the long drought that is threatening large parts in Nusa Tenggara Timur

Organic farming Integrated with DRR, Climate Change Adaptation and Restoration of Ecosystem Management

Farmers also perform simple climate observation, using a measuring cup and record it in a book and calendar plan of integrated agricultural markets. These data will help them determine when to begin agricultural activities and planted what plants are suitable according to season and market needs, so that they can anticipate the occurrence of crop failure and increase revenue.

Then, the system of terracing at sloping land that is proven to make the soil more fertile, because when it rains humus are not carried off by rainwater, but settles on the terraces. Additionally, terracing to minimize the occurrence of landslides often occur in the region of Nusa Tenggara Timur

Pertanian Organik Terintegrasi PRB, Adaptasi Perubahan Iklim dan Restorasi Manajemen Ekosistem

Petani melakukan pengamatan iklim secara sederhana, salah satunya untuk menentukan kapan kegiatan pertanian dimulai dan tanaman apa yang cocok ditanam sesuai musim

Petani di Desa Netutnana melakukan pengamatan iklim secara sederhana, salah satunya untuk menentukan kapan kegiatan pertanian dimulai dan tanaman apa yang cocok ditanam sesuai musim

Pengelolaan pertanian organik telah berdampak pada upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB), adaptasi perubahan iklim dan restorasi manajemen ekosistem.

Salah satunya menerapkan praktik 3R (Recharge, Retention, Reuse), yaitu praktik memaksimalkan daerah tangkapan air untuk meningkatkan kuantitas air tanah, di lahan pertanian.

Dengan diterapkannya sistem 3R, cadangan air dalam tanah dapat meningkat sehingga mampu meminimalisasi bencana kekeringan yang selama ini mengancam sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur.

Petani juga melakukan pengamatan iklim secara sederhana, menggunakan gelas ukur dan mencatatnya dalam buku rencana pertanian terpadu dan kalender pasar. Data-data ini nantinya membantu mereka menentukan kapan kegiatan pertanian akan dimulai dan tanaman apa yang cocok ditanam sesuai musim dan kebutuhan pasar, sehingga mereka bisa mengantisipasi terjadinya gagal panen dan meningkatkan pendapatan.

Selanjutnya, sistem terasering pada lahan yang miring terbukti membuat tanah lebih subur, karena saat hujan humus tidak terbawa lepas oleh air hujan, tetapi mengendap di teras-teras tersebut. Teras-teras yang dibuat sejajar dengan garis kontur alam yang dilengkapi dengan saluran peresapan, saluran pembuangan air, dan tanaman penguat teras yang berfungsi sebagai pengendali erosi. Sehingga pola terasering mampu meminimalisir terjadinya tanah longsor yang kerap melanda wilayah Nusa Tenggara Timur.

 

Pameran Membangun Ketangguhan

Bersuara dan Berkarya dalam Langkah Nyata

Sambutan peserta pameran Pertanian organik oleh masyarakat di Desa Noebesa

Sambutan peserta pameran Pertanian Organik oleh masyarakat di Desa Noebesa

Seorang yang pandai pernah berkata “Tak ada kesuksesan yang tidak diawali dengan proses pembelajaran”. Kata-kata bijak tersebut  sesuai dengan apa yang tengah dirasakan keempat desa dampingan BSK, yaitu Noebesa, Oinlasi, Nakfunu, dan  Netutnana. Melalui acara Pameran Membangun Ketangguhan Masyarakat melalui Sistem Pertanian Organik  Terintegrasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB), Adaptasi Perubahan Iklim dan Restorasi Manajemen Ekosistem

Pameran tersebut menjadi momen penting dan menjadi ajang publikasi model sistem pertanian organik yang diselenggarakan di dua desa,  mewakili Kecamatan Amanatun Selatan dan Kecamatan Amanuban Tengah, yaitu di Oinlasi dan Noebesa.

Pameran ini dihadiri banyak pihak, dari pemerintah melalui beberapa SKPD terkait, LSM, dan pelaku usaha, yang selama ini turut bekerja sama melakukan kegiatan Program for Resilience.

Pameran ini dihadiri oleh banyak pihak, termasuk beberapa SKPD terkait, LSM, dan pelaku usaha, yang selama ini juga turut bekerja sama melakukan kegiatan Program for Resilience (PfR). Lebih membanggakan, pameran juga dihadiri Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) Paulus VR Mela dan Ketua DPRD Jean Neonufa. Kehadiran mereka menjadi hal yang penting, tidak hanya sebagai penegas bahwa kegiatan dalam PfR semakin dipandang para pemangku jabatan tinggi, yang tentu saja akan berdampak positif bagi keberlangsungan program ini, tetapi juga sebagai pemicu semangat masyarakat untuk terus bekerja meningkatkan kapasitas mereka demi menuju masyarakat yang tangguh.

Keberlanjutan, merupakan tujuan utama yang terus diupayakan oleh BSK dan desa dampingannya. Kegiatan-kegiatan mewujudkan ketangguhan masyarakat ini perlu disebarluaskan dan perlu menjadi fokus pemerintah TTS juga. Melalui pameran ini, tujuan tersebut semakin terlihat jelas. Sebagaimana disampaikan Bupati setelah mengikuti kegiatan pameran ini yang menyadari bahwa pembelajaran dan pengalaman para masyarakat dampingan BSK sangat bermanfaat. Oleh karena itu, Bupati TTS mendorong mereka menggunakan potensi kapasitas yang mereka miliki saat ini untuk terus berupaya melanjutkan program dengan memanfaatkan dana dari pemerintah dan dari dana desa. Akan tetapi, bupati lebih mendorong mereka untuk bergabung bersama Gapoktan agar pendanaan mereka ke depannya lebih terjamin. Kehadiran pemerintah, lsm, dan pelaku usaha juga dimaksudkan untuk menyatukan keyakinan agar terjalin  kemitraan yang saling berhubungan dan mendukung satu sama lain.

Peserta pameran diarahkan menuju pos-pos pameran yag telah disiapkan oleh paitia untuk mengetahui proses pertanian organik

Peserta pameran diarahkan menuju pos-pos pameran yag telah disiapkan oleh paitia untuk mengetahui proses pertanian organik

Dalam acara ini, satu desa menyiapkan lima lokasi pameran berbeda yang masing-masing menampilkan satu praktik yang berkaitan dengan pertanian organik, yaitu lokasi proses pembuatan kompos, lokasi pembuatan pupuk cair, lokasi pembuatan pestisida nabati, lokasi pembibitan, dan lokasi tempat diterapkannya replikasi 3R (Recharge, Retention, Reuse). Kelima lokasi tersebut dikunjungi kelompok yang terdiri atas peserta dari SKPD yang hadir untuk melihat sendiri bagaimana proses kelima hal tersebut dilakukan.

Dalam setiap lokasi terdapat satu pemandu yang merupakan anggota FPRB dan petani motivator KSM yang bertugas menjelaskan proses-proses pembuatan kelima hal tersebut. Para pemandu ini patut diapresiasi karena mampu menjelaskan bagaimana proses sistem pertanian organik dibangun dengan penuh antusias kepada para peserta pameran pertanian. Tentu saja untuk mencapai level seperti sekarang ini mereka telah melalui proses pembelajaran yang tidak sebentar dan mudah. Pengalaman suka dan duka mengiringi pembelajaran mereka sampai di titik ini.

Painting with the Children hope for Ciliwung

Anak-anak di KPC Buluh perlihatkan hasil karya lukisannya tentang harapan Ciliwung kedepan

Children in KPC Buluh paintings show the work on future expectations Ciliwung

Bina Swadaya activities Concerned with the Community Care Ciliwung Sunday morning (7/6) invites children to commemorate World Environment Day by painting the future Ciliwung better.

Saung Community, a place usually children learn school lessons, studying art and learning about the environment, they now act with paint Ciliwung situation as they wish in the future.

According to coordinator of activities Aip Saripudin, involving children in environments care event is to increase awareness of the importance of protecting the environment in a river Ciliwung since early.

“We want to have interaction with children through the media of drawing, and want to know what they describe / described in the paper, what he feels and desired for the future Ciliwung” said Aip.

Aip added later paintings were already completed were collected and will be presented in front. Then together, they will display their work to be shown.

In general, children can expect Ciliwung clean water, so the sights, and there is a playground. Even one child hope, someday in Ciliwung there are windmills as in the Netherlands, there are a saung and a place to play and there is a museum of historic objects, especially at Buluh Condet.

The same place KPC (Kelompok Peduli Ciliwung) Chairman at Buluh H. Bachtiar expressing his happiness, able to celebrate the environment by sharing knowledge of environments including drawing activities with children.

So far, according to H. Bachtiar, Saung Community which was built Bina Swadaya used children to learn such as, math, and English every Tuesday and Thursday and Friday night for teaching activities. The rest is used for discussions on the environments.

Bersama Anak – anak Melukis Harapan untuk Ciliwung

Anak-anak di KPC Buluh perlihatkan hasil karya lukisannya tentang harapan Ciliwung kedepan

Anak-anak di KPC Buluh perlihatkan hasil karya lukisannya tentang harapan Ciliwung kedepan

Bina Swadaya Peduli bersama Komunitas Peduli Ciliwung minggu pagi (7/6) mengajak anak-anak untuk peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan melukis masa depan Ciliwung yang lebih baik.

Bertempat di Saung Komunitas, tempat yang biasanya anak-anak belajar pelajaran sekolah, belajar kesenian dan belajar tentang lingkungan, kini mereka beraksi dengan melukis keadaan Ciliwung sesuai keinginan mereka di masa depan.

Menurut Koordinator kegiatan Aip Saripudin, melibatkan anak-anak dalam acara peduli lingkungan adalah untuk meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga kelestarian lingkungan di sungai Ciliwung semenjak dini.

“Kita ingin ada interaksi dengan anak-anak lewat media menggambar, lalu ingin tahu apa yang mereka gambarkan/lukiskan di kertas, apa yang dirasakan dan di inginkan untuk masa depan Ciliwung” jelas Aip.

Aip menambahkan, nanti lukisan yang sudah selesai dikumpulkan dan akan dipresentasikan didepan. Kemudian bersama-sama, mereka akan memajang hasil karyanya untuk diperlihatkan.

Secara umum, anak-anak berharap sungai Ciliwung airnya bisa bersih, jadi tempat wisata, dan ada tempat bermain. Bahkan salah satu anak berharap, kelak di Ciliwung ada kincir angin seperti di Belanda, ada saung dan tempat bermain serta ada museum tempat benda-benda bersejarah khususnya di Buluh Condet.

Ditempat yang sama Ketua KPC Buluh H. Bachtiar mengungkapkan kebahagiannya, bisa memperingati hari lingkungan hidup dengan membagi ilmu pengetahuan lingkungan termasuk kegiatan menggambar bersama anak-anak.

Selama ini menurut H. Bachtiar, Saung Komunitas yang di bangun Bina Swadaya dimanfaatkan anak-anak untuk belajar seperti, matematika dan B. Inggris tiap hari Selasa dan Kamis dan malam jumat untuk kegiatan pengajian. Selebihnya dimanfaatkan untuk diskusi mengenai lingkungan.

Bu Dien: Bina Swadaya Eligible Accreditation

Sri Wrediningsih menjelaskan tentang akreditasi pelatihan Pemberdayaan Masyarakat

Sri Wrediningsih describes Empowerment training accreditation

In the development of insight Bina Swadaya Konsultan (BSK) about standardization of the training according to the government, Sri Wrediningsih explained, Bina Swadaya with a wealth of experience, should have worthy accredited.

All this time I know the experience Bina Swadaya with all its competence and supported the HR (Human Resources) its good. Should have been accredited “said a woman who usually called Bu Dien.

According to him, the government represented by the Ministry of the Interior (Ministry of Home Affairs), Training for Community Empowerment is no standardization one related bodies must be accredited.

Accreditation is important because it is a formal acknowledgment, stating the institution has met the requirements for training in community development, standardization and certification of training activities.

But we know, as long as the basic law of one PERMENDAGRI No 19 of 2007 about Community Development Training / Sub less socialized properly.

Women who had served as the Head of the Manpower Training is said, not socialized these rules, BLK (Training Center), which is precisely under the Ministry of Home Affairs has been no accredited.

“BLK was not currently accredited. Only LPMJ (Institute for Community Empowerment Jakarta) can be accreditation of KSP (Committee on Standards of Training) “she said.

Even Bu Dien active in LPMJ until now compare with Bina Swadaya. “In qualifying, Bina Swadaya better than other institutions even much better than LPMJ” she said.

Instruments and assessment criteria for obtaining accreditation developed by KSP. Aspects assessed the infrastructure, organization, human resources, institutional administration, work plan / training programs, the use of funds and quality guidelines. Highest weighting the infrastructure and human resources. “With all its potential, I am optimistic Bina Swadaya be accredited by either” she said.

“But at this time whether the KSP is still the way, after his move to the Ministry of the Village? Because KSP is the formation of Kemendagri “she said.

According to Bu Dien, Bina Swadaya was time to prepare the next steps in order to obtain accreditation from the government. Accreditation will be a public recognition that the institution has met the standard of training, so that a reference be guaranteed and training for the community.

Bu Dien: Bina Swadaya Layak Dapat Akreditasi

Sri Wrediningsih menjelaskan tentang akreditasi pelatihan Pemberdayaan Masyarakat

Sri Wrediningsih menjelaskan tentang akreditasi pelatihan Pemberdayaan Masyarakat

Dalam pengembangan wawasan Bina Swadaya Konsultan (BSK) tentang standarisasi pelatihan menurut pemerintah, Sri Wrediningsih menjelaskan, Bina Swadaya dengan banyaknya pengalaman, harusnya sudah layak terakreditasi.

Selama ini saya tahu pengalaman Bina Swadaya dengan segala kompetensinya dan ditunjang SDM (Sumber Daya Manusia) nya yang baik. Harusnya sudah terakreditasi” ujar wanita yang biasa disapa Bu Dien.

Menurutnya, pemerintah diwakili Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat ada standarisasinya salah satunya lembaga terkait harus sudah terakreditasi.

Akreditasi menjadi penting karena merupakan pemberian pengakuan formal, yang menyatakan lembaga telah memenuhi persyaratan untuk menyelenggarakan pelatihan pemberdayaan masyarakat, kegiatan standarisasi dan sertifikasi pelatihan.

Namun kita tahu, selama ini dasar hukum salah satunya PERMENDAGRI No 19 tahun 2007 tentang Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa/Kelurahan kurang tersosialisasikan dengan baik.

Wanita yang pernah menjabat Kepala Balai Pelatihan Ketenagakerjaan dan Transmigrasi ini menuturkan, buah dari tidak tersosialisasikannya aturan tersebut, BLK (Balai Latihan Kerja) yang justru dibawah Kemendagri pun belum ada yang terakreditasi.

“BLK pun saat ini belum terakreditasi. Hanya LPMJ (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Jakarta) yang baru dapat akreditasi dari KSP (Komite Standar Pelatihan)” katanya.

Bahkan Bu Dien yang aktif di LPMJ sampai sekarang membandingkan dengan Bina Swadaya. “Secara kualifikasi, Bina Swadaya lebih baik dari lembaga – lembaga lain bahkan jauh lebih baik dari LPMJ” ungkapnya.

Instrumen dan kriteria penilaian untuk memperoleh akreditasi dikembangkan oleh KSP. Aspek yang dinilai sarana prasarana, organiasai, SDM, administrasi kelembagaan, rencana kerja/program pelatihan, penggunaan dana serta panduan mutu. Bobot paling tinggi yakni sarana prasarana dan SDM. “Dengan segala potensinya, saya optimis Bina Swadaya bisa terakreditasi dengan baik” tuturnya.

“Namun saat ini apakah KSP masih jalan, pasca kepindahannya ke Kementerian Desa? Sebab KSP adalah bentukan dari Kemendagri” ucapnya.

Menurut Bu Dien, sudah saatnya Bina Swadaya menyiapkan langkah-langkah kedepan guna mendapatkan akreditasi dari pemerintah. Akreditasi akan menjadi pengakuan publik, bahwa lembaga telah memenuhi standar pelatihan, sehingga jadi jaminan dan acuan pelatihan bagi masyarakat.

Rayakan Hari Lingkungan Hidup, Bina Swadaya Bersih-bersih Ciliwung

Dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni, Bina Swadaya Peduli bersama Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) di Tanjung Barat dan Buluh lakukan aksi bersih-bersih sampah di Ciliwung. Acara bertema Bersih – bersih dan Ekowisata Ciliwung tersebut dilaksanakan Minggu (7/6).

Koordinator kegiatan Aip Saripudin mengatakan, kegiatannya berupa bersih-bersih sampah, ekowisata, menggambar kondisi Ciliwung bersama anak-anak di KPC Buluh, diskusi penghijauan, donasi buku dan bibit pohon.

“Tujuannya untuk kepedulian kita terhadap penyelamatan kawasan Sungai Ciliwung dengan harapan kegiatan ini bisa mengangkat kepedulian masyarakat setempat di sungai Ciliwung” kata Aip.

Kegiatan ini lanjut Aip, difokuskan di pinggir sungai Ciliwung wilayahnya KPC Tanjung Barat dan kegiatan di Saung Komunitas KPC Buluh.

Selain untuk menggerakan kepedulian masyarakat setempat, menurut Direktur Bina Swadaya Konsultan (BSK) Ari Primantoro, aksi ini juga untuk menggerakan kepedulian seluruh karyawan BSK, guna memiliki kepekaan terhadap penyelamatan lingkungan.

Ketua KPC Tanjung Barat Sarmuli menuturkan, kegiatan ini banyak faedah dan manfaatnya, selain peduli kita pada lingkungan, hal ini bisa memberi kesadaran pada masyarakat untuk sama-sama peduli terhadap kondisi Ciliwung. Manfaat lain, adanya perahu dari Bina Swadaya, sehingga memudahkan kita dalam kegiatan kepedulian Ciliwung.

Ditempat terpisah Ketua KPC Buluh H. Bachtiar mengungkapkan kebahagiaannya bisa memperingati hari lingkungan hidup, dengan membagi ilmu pengetahuan lingkungan khususnya pengembangan bibit pohon. Selain itu, keberadaan Saung Komunitas dari Bina Swadaya telah mengaktifkan kegiatan belajar anak-anak dan remaja.

Harapannya, jangan jadikan sungai sebagai tempat akhir pembuangaan, tapi marilah jadikan sungai sebagai tempat awal untuk memulai kebersihan. Semoga Ciliwung menjadi sumber pengidupan bagi masyarakat dan mampu memanfaatkan segala macam potensi yang ada, seperti ekowisata, sarana pengolahan air bersih siap pakai serta sarana irigasi untuk penenaman bibit pohon.

Bambang Ismawan: Jadilah Lembaga yang Efektif, Jangan Berharap Jadi Lembaga Besar

Pengembangan Wawasan bersama Pak Bambang Ismawan

Pengembangan wawasan bersama Pak Bambang Ismawan

Pengembangan wawasan, Selasa (28/4) Bina Swadaya Konsultan (BSK) sharing bersama Pak Bambang Ismawan. Tema yang diangkat seputar startegi dan peluang BSK dalam mengadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).

Cerita singkat semangat berdirinya Bina Swadaya menjadi pengantar awal Pak Bambang membuka diskusi. “Bulan Maret 1965 saya ditunjuk menjadi Ketua Umum Ikatan Petani Pancasila. Saat itu saya belum berpengalaman, tapi saya terima dan jalankan. Saya jalankan mulai tahun 1965, lalu ikut Mubes (Musyawarah besar) tani dengan Bung Karno” kenang Pak Bambang.

Kedudukan sebagai ketua umum tersebut di tahun 1967, Pak Bambang mendirikan Bina Swadaya. “Saya bersama I Sayogo dan Ir Suradiman mendirikan yayasan yang pada awalnya bernama Yayasan Sosial Tani Membangun” tuturnya.

Cerita semangat berdirinya Bina Swadaya tersebut menjadi landasan kita, bahwa main set kita adalah pekerjaan sebagai panggilan, dan bagaimana menciptakan kita supaya kerja. Dalam kutipan buku “I like Monday” karya Arvan Pradiansyah, Pak Bambang menyampaikan bagaimana paradigma kita mengenai pekerjaan. Apa hanya setumpuk tugas (job), Karir (carieer), atau sebuah panggilan (calling)?

“Jika kita melakukan pekerjaan sebagai panggilan, bekerjalah dengan happy. Kita tidak perlu khawatir soal gaji atau kecukupan hidup, semua tergantung dengan mindset kita” ucapnya. Panggilan dalam bentuk apa, menurut Pak Bambang bisa dalam bentuk bakat, hasrat dan nilai yang kita bangun serta ingin dikenang seperti apa.

Prinsip ini pun diterapkan Pak Bambang dalam kehidupannya. Meski tidak mengendalikan Bina Swadaya secara langsung, namun tetap melakukan urusan pemberdayaan. Inilah yang dinamakan dengan beyond Bina Swadaya, dalam arti basisnya masih tetap di Bina Swadaya. Tapi mungkin kegiatannyaa bisa melampaui Bina Swadaya. Menurutnya, Beyond Bina Swadaya sangat erat hubungannya dengan kegiatan konsultansi.

Terkait membangun lembaga Pak Bambang menuturkan, jadikanlah lembaga yang efektif bukan berharap jadi lembaga yang besar.  Kegiatan konsultansi harus mampu berkembang tidak hanya local community development, tapi merambah sampai ASEAN.

Menurut Pak Bambang, saat ini Bina Swadaya membangun gerakan guna menantang system ekonomi kapitalis, yakni gerakan ASEC.  Gerakan yang dilaksanakan empat tahun sekali ini di gagas oleh lima negara, Malaysia, Fhilipina, dan Indonsia (Mafilindo).

Gerakan ASEC akan menjadi momen bagaimana kita menghadapi MEA, terutama membangun ekonomi bagi masyarakat ASEAN. “semangat MEA ini menjadi peluang dan tantangan konsultansi dalam merambah community ASEAN” tuturnya.

Pak Benito, anggota AKSI dari Universitas Indonesia dan merupakan asisten Pak Bambang menyampaikan, saat ini kita harus mengembangkan potensi individu kita. Salah satunya dunia pendidikan melihat dunia NGO setara, artinya saat ini banyak potensi-potensi yang muncul dari NGO.

“Saatnya konsultan banyak memunculkan potensi-potensi baru dan menjadi bintang dalam dunia baru dengan apa yang disebut sebagai ASEAN mind set” ungkap Pak Benito.

Dalam mengadapai MEA, menurut Pak Bambang manfaatkan seoptimal mungkin dan seimbangkan hubungan internal dan eksternal kita. Aspek internal, banyaklah kita bersinergi antar unit di Bina Swadaya agar bisa saling mengembangkan usaha di tiap unit, serta seringlah hadir dan berkumpul bersama diantara kita. Sedangkan aspek ke luar, tingkatkan dari waktu ke waktu hubungan keluar, salah satunya forum ASEC.