• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Author Archive admin-webbsk

BSK Dorong Pertumbuhan Usaha Produktif Marunda

Pertemuan kelompok rusun blok C Marunda membahas usaha urban farming

Pertemuan kelompok rusun blok C Marunda membahas usaha urban farming

Program Marunda Urban Resilience in Action (MURIA) melalui Bina Swadaya Konsultan (BSK) terus berupaya mendorong pertumbuhan usaha – usaha produktif di Marunda.

Kiki, selaku tim BSK di program MURIA menuturkan, saat ini telah melakukan pendampingan kepada 11 kelompok yang menjalankan usaha produktif seperti, pertanian lahan sempit (urban farming), bank sampah, simpan pinjam sembako dan Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP).

“Terdapat 278 orang tersebar di wilayah RW 7 Marunda meliputi, 9 RT dan 5 RT di Rusunawa blok C telah bergabung dalam kelompok, guna melakukan berbagai kegiatan usaha produktif” tuturnya.

Kelompok inilah yang didampingi oleh BSK melalui serangkaian pelatihan, praktek, konsultansi, pertemuan rutin, diskusi pembelajaran antar komunitas dan kunjungan belajar.

Menurutnya, sepanjang periode Juli – Agustus 2016, pertemuan dan diskusi kelompok bulanan rutin diadakan. Agenda utamanya adalah evaluasi kegiatan kelompok dan sharing pembelajaran.

Selain itu, membahas pencatatan administrasi bank sampah, materi UBSP berupa prinsip dasar dan manfaat, mekanisme, dan aturan dalam UBS, serta konsultasi teknik urban farming.

Fokus kegiatan sampai akhir tahun adalah upaya penguatan usaha yang telah dijalankan kelompok, pendampingan dan penguatan kader dalam menyebarluaskan pengetahuan yang di dapat kepada masyarakat sekitarnya.

Bina Swadaya Peduli Aceh

bina-swadaya-peduli-aceh

Tim Tanggap Darurat Bina Swadaya mengajak untuk salurkan donasi terbaik para sahabat Bina Swadaya, guna membantu meringankan beban korban bencana gempa bumi di Pidie Jaya Aceh.

Bantuan bisa disalurkan melalui layanan transfer rekening Bank BCA 0021532711 atas nama Otok S. Pamuji. Hasil sumbangan akan segera disalurkan kepada para korban bencana di Aceh.

Informasi yang dihimpun dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sampai dengan hari keenam masa tanggap darurat gempa bumi 6,5 SR di Aceh, penanganan terhadap korban dan pengungsi terus dilakukan. Hingga Senin (12/12), jumlah korban meninggal sebanyak 101 orang, dimana 94 korban sudah diidentifikasi. Sebanyak 666 orang menderita luka-luka yaitu 134 luka berat dan 532 luka ringan.

Pengungsi terus bertambah karena masuknya laporan dari pos pengungsian ke posko utama. Tercatat jumlah pengungsi 83.838 orang yang tersebar di 124 titik. Pengungsi tersebut berasal dari Pidie Jaya sebanyak 82.122 orang di 120 titik dan 1.716 orang di 4 titik di Kabupaten Bireuen.

Distribusi 82.122 orang pengungsi di Pidie Jaya adalah Kecamatan Meureudu 13.965 orang, Meurah Dua 11.391, Trianggadeng 18.512, Bandar Baru 14.209, Pante Raja 8.153, Bandar Dua 3.170, Ulim 9.763, dan Jangka Buaya 2.959 orang. Sedangkan 1.716 orang pengungsi di Bireuen tersebar di Matang Mns Blang 1.100 orang, Masjid Matang Jareung 13, Masjid Alghamamah 405, dan Masjid Kandang 198 orang.

Kerusakan fisik akibat gempa meliputi rumah 11.668 unit, masjid 61 unit, meunasah 94 unit, ruko 161 unit, kantor pemerintahan 10 unit, fasilitas pendidikan 16 unit, dan lainnya. Pendataan detail masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan.

Bupati Batang Minta 10 BUMDes Bisa Kembangkan Ekonomi Desa

Bupati Batang, Yoyok Riyo Sudibyo saat berkunjung ke stand BSK

Bupati Batang, Yoyok Riyo Sudibyo saat berkunjung ke stand BSK

Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo meminta pengelolaan 10 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang sudah terbentuk, bisa mendatangkan ekonomi baru di desa setempat, seperti yang dilansir di laman semarang.bisnis.com

Sampai akhir September 2016, telah terbentuk 10 BUMDes di Kabupaten Batang antara lain, di Desa Deles, Karangtengah, Kalipucang Wetan, Kembanglangit, Kepuh, Tombo, Rejosari, Ngadirejo, Jrakahpayung, dan Kebumen.

Yoyok menjelaskan, konsep BUMDes harus fokus pada partisipasi warga. Dengan modal yang dimiliki, setiap BUMDes bisa mengelola proyek-proyek pembangunan desa.

Selain itu, katanya, masyarakat setempat dapat memanfaatkan pinjaman modal dengan bunga ringan. Yoyok yakin strategi ini dapat mengurangi ketergantungan masyarakat desa pada rentenir, bahkan perbankan.

Jika ada perbankan yang kerja sama, dia menginginkan lembaga keuangan tidak mematok bunga atau bunga 0%. “Misal analogi dari swadaya masyarakat. Kalau satu dari seribu warga desa menyetor Rp10.000 per minggu saja, setiap BUMDes sudah punya simpanan Rp40 juta setiap bulan,” paparnya.

Yoyok menyatakan pembentukan BUMDes dapat mendorong partisipasi dan inovasi warga desa agar lebih mandiri.

Menurutnya, UU No. 6/2014 tentang Desa akan membawa banyak uang ke desa. Sayang sekali jika tidak digunakan untuk membangun sesuatu yang memiliki dampak ekonomi berkelanjutan. “Seluruh warga dapat menikmati. Warga harus mampu melangkah bersama selesaikan masalah perut dan kantong,” ujarnya

Tidak hanya itu, Yoyok juga sudah membangun komunikasi dengan beberapa perusahaan start-up untuk membantu pemasaran produk masyarakat desa. Kerja sama ini juga nantinya akan jadi bagian dari sistem yang sedang dibangun.

Dia menambahkan, model serupa bisa diterapkan di kelurahan di kota-kota besar, terutama di perkampungan miskin.

“Untuk membuat perut warga kenyang, kita tidak bisa hanya mengandalkan investasi dari korporasi besar dan menempatkan warga sebagai pekerja yang pasrah menunggu gaji bulanan. Warga hingga tingkat terkecil harus terus dibantu berinovasi,” paparnya.

Kendati demikian, Yoyok mengingatkan bahwa elemen penting dari pendirian BUMDes adalah transparansi. Pasalnya apabila tradisi transparansi tidak dibangun, maka BUMDes akan bernasib sama dengan jutaan Koperasi Unit Desa (KUD) di Indonesia, yang bangkrut akibat praktik korupsi dan spekulasi.

Ketua Yayasan Bina Swadaya Bambang Ismawan menjelaskan pembentukan usaha di desa harus melibatkan semua warganya, agar bisa berpikir inovasi dan menciptakan usaha baru.

Dia menerangkan munculnya konsep BUMDes yang berwatak kewirausahaan sosial merupakan bentuk antitesa dari wujud pembangunan ekonomi yang lebih berpihak pada kelompok elit, pusat pusat pertumbuhan maupun mereka yang memiliki kemudahan akses.

“Kalau pengelolaan baik, masyarakat desa tidak perlu mencari kerja ke luar kota atau jadi TKI di negeri orang,” terangnya.

Batang Gelar Festival BUMDes Nasional

festfal-bumdes-batang-2016

Selama tiga hari, Rabu-Jumat (7-9/12), di Kabupaten Batang akan digelar Festival BUMDes tingkat nasional yang diikuti berbagai BUMDes di Indonesia.

Kegiatan ini terselanggara berkat kerja sama antara Bina Swadaya, Kementerian Desa PDTT, Pemkab Batang dan berbagai pihak lain. Ada 50 stand BUMDes yang akan tampil, terdiri atas 35 BUMDes pilihan dari daerah-daerah di Indonesia dan 15 BUMDes dari Kabupaten Batang.

Acara yang dipusatkan di Pendapo Kabupaten dan Jalan Veteran atau kompleks sekitar Alun-alun Batang itu rencananya dihadiri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Sandjojo, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan berbagai tokoh lainnya.

Harapannya, Festival BUMDes menjadi ajang untuk menyosialisasikan dan mempromosikan BUMDes ke kalangan masyarakat yang lebih luas di tingkat nasional. Kemudian, menjadi ruang pembelajaran masyarakat baik lokal maupun nasional mengenai BUMDes sebagai ikon pengembangan ekonomi desa yang mandiri serta berwatak kewirausahaan sosial.

BSK Turut Ramaikan Stand BUMdes Batang

Stand BSK di Festifal BUMDes Batang

Stand BSK di Festifal BUMDes Batang

Penyelenggaraan Festival Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Kabupaten Batang akan menghadirkan 50 stand BUMDes dengan berbagai produknya. Salah satunya Bina Swadaya Konsultan (BSK) yang turut serta meramaikan kegiatan yang berlangsung 7 – 9 Desember 2016.

Tim BSK Ana Budi Rahayu menuturkan, BSK akan mengenalkan layanan program pemberdayaan masyarakat serta beberapa produk kegiatan kewirausahaan sosial.

Selain itu, ada beberapa produk unggulan daerah lainnya, aneka produk pertanian, komoditi pangan dan olahan, sarana produksi pertanian, batik dan kerajinan, serta aneka kuliner akan dipamerkan di Festifal BUMDes.

Sementara itu, Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo menjelaskan, acara itu terselanggara berkat kerja sama antara Bina Swadaya, Kementerian Desa PDTT, Pemkab Batang dan berbagai pihak lain. “Ada 50 stand BUMDes yang akan tampil, terdiri atas 35 BUMDes pilihan dari daerah-daerah di Indonesia dan 15 BUMDes dari Kabupaten Batang”, jelasnya.

Kegiatan yang dipusatkan di Pendapo Kabupaten dan sepanjang Jalan Veteran, rencananya dihadiri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Sandjojo, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan beberapa tokoh lainnya.

Harapannya, Festival BUMDes menjadi ajang untuk menyosialisasikan dan mempromosikan BUMDes ke kalangan masyarakat yang lebih luas di tingkat nasional. Kemudian, menjadi ruang pembelajaran masyarakat baik lokal maupun nasional mengenai BUMDes sebagai ikon pengembangan ekonomi desa yang mandiri serta berwatak kewirausahaan sosial.

Batang Jadi Tempat Festival BUMDes Tingkat Nasional

festival-bumdes-kab

Kabupaten Batang terpilih sebagai tempat penyelenggaraan Festival Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) 2016, kata Bambang Ismawan, M.Sc,  pendiri LSM Bina Swadaya dan Pegiat Kewirausahaan Sosial di Jakarta, Senin (28/11), dilansir dari Antara Jateng.

Festival yang terselenggara atas kerja sama Bina Swadaya dan Pemerintah Kabupaten Batang, 7 hingga 9 Desember 2016, itu akan dibuka oleh Menteri Desa Transmigrasi dan PDT.

Panitia juga mengundang semua Dirjen di Kementerian Desa PDTT, Gubernur Jawa Tengah, Bupati dan Walikota se-Jateng, BUMDes Jateng, Kepala Desa se-Kabupaten Batang, kalangan Perguruan Tinggi, pengusaha dan praktisi agrobisnis.

Selain diisi dengan aneka kegiatan ilmiah dan hiburan, kata Bambang Ismawan, juga akan melibatkan para penyelenggara pemerintahan pusat dan daerah, terutama Jateng. Dalam kegiatan ini, panitia juga mendatangkan para pakar wirausaha sosial dari berbagai negara.

Dalam rilis yang sama, Prof. Paulus Wirutomo (Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia dan Ketua Pengurus Yayasan Bina Swadaya) yang notabene motor penggerak kegiatan tersebut menambahkan bahwa pembukaan festival pada tanggal 7 Desember 2016 akan menampilkan gelar batik khas Batang, fashion show, dan The Professor Band.

Selain itu, kata Paulus Wirutomo, menggelar seni khas daerah di panggung utama dan panggung Pendopo Kabupaten. Acara hiburan ini akan diselingi dengan sosialisasi BUMDes dan potensi unggul berbagai desa yang dikemas dalam hiburan yang menarik.

Kemenaker Tunjuk PIB Latih Penggerak Agrobisnis

Pelatihan Agrobisnis kerjasama Kemenaker bersama PIB

Pelatihan Agrobisnis kerjasama Kemenaker bersama PIB

Kementrian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemenaker RI) menunjuk Pusat Inkubasi Bisnis (PIB) Bojonegoro untuk menggelar pelatihan agrobisnis terpadu. Informasi yang dihimpun dari laman websitenya PIB, pelatihan dilaksanakan selama sepuluh hari dan berlangsung mulai sabtu (5/11) di Gedung Pelatihan PIB Bojonegoro Desa Ringin Tunggal Kecamatan Gayam.

Direktur PIB Ifa Jumrotun Naimah mengatakan, pelatihan ini untuk memberikan bekal kemampuan peserta dibidang agrobisnis. Peserta diharapkan memiliki kemampuan dan perspektif bisnis dibidang pertanian, peternakan dan produk olahan.

“Ini sebagai bagian untuk menurunkan tingkat ketergantungan masyarakat terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan manufaktur. Budidaya dan berwirausaha diharapkan menjadi alternatif lain disaat ketersediaan lapangan pekerjaan manufaktur mulai terbatas,” ucap Ifa.

Sementara itu, Arifin Manager Riset dan Training PIB menjelaskan selama pelatihan, peserta mendapatkan pengetahuan tentang peluang dan potensi serta teknis budidaya, baik peternakan maupun pertanian. Tidak hanya itu, peserta juga mendapatkan pelatihan manajemen bisnis dibidang budidaya.

Mereka nantinya akan membantu penyelenggaraan PIB sebagai lembaga pelatihan dan pengembangan jaringan agrobisnis. Sisanya lagi akan menjadi local champions di delapan asoiasi binaan PIB. Mereka akan membantu menyebar luaskan agrobisnis melalui asosiasi masing-masing, layaknya seperti kader penggerak agrobisnis,” jelas Arifin.

Selain mendapatkan pelatihan dalam bentuk teori dalam kelas, selama pelatihan peserta juga diajak melakukan praktik. Diantaranya, pembuatan Mikro Organisme Lokal, Zat Perangsang Tumbuh, pembuatan pakan ternak dan pakan ikan hingga pembuatan produk olahan.

Kemenaker memberikan kepercayaan kepada PIB Bojonegoro setelah sebelumnya melakukan verifikasi faktual. Diantaranya, memastikan kesiapan kapasitas tenaga ahli, standart ruang pelatihan hingga fasilitas pendukung seperti mini laboratorium, greenhouse, kumbung jamur, kandang ternak, miniatur sawah dan kolam ikan.

Tombo Coffee, Suguhan Kopi Khas Batang

Tim ARC sedang melakukan racikan Tombo Coffee

Tim ARC melakukan racikan Tombo Coffee

Mungkin tidak banyak orang mengenal Batang, kecuali bagi yang kerap ke jalur Pantura. Namun kurang lebih tiga tahun ini, Kabupaten Batang mencuat ke permukaan seiring kemajuan dan popularitas sang pimpinannya, Bupati Yoyok Riyo Sudibyo.

Bupati yang berpangkat Mayor (Purn) TNI ini, selalu memiliki terobosan dalam pengelolaan daerah. Kali ini, Yoyok mengajak masyarakat desa berinovasi membangun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), supaya mendorong Desa agar lebih mandiri.

Upaya Bupati ini, turut menggerakan Desa Tombo Kecamatan Bandar untuk membangun BUMDes. Dalam acara musyawarah desa (musdes) 18 September 2016, telah disepakati berdirinya BUMDes “Tombo Makmur”. Dengan unit usaha jasa layanan keuangan mikro, jasa wisata, produksi dan pemasaran serta pengelolaan air bersih.

Menuju Desa Tombo ditempuh ±45 menit dari pusat Kota Batang. Dengan melewati desa-desa kecil yang dilalui sungai Tombo, membuat waktu perjalanan terasa sangat singkat. Kemudian sesampainya di Gapura Desa Tombo, disambut oleh hamparan hijaunya kebun teh yang terlihat luas membuat sejuk sejauh mata memandang.

Jarak kurang lebih 20 meter sebelah kanan gapura masuk Desa Tombo, berdiri sebuah bangunan kecil yang berbahan material kayu dan bambu dengan papan nama bertuliskan ARC (Asaluz Realty Center) Tombo Coffee. Inilah salah satu potensi usaha dari sektor pertanian yang dikembangkan BUMDes Tombo Makmur.

Kualitas kopi yang dihasilkan di Desa Tombo terbagi menjadi 3 jenis yaitu kualitas Arabika, Excelsa, dan Robusta. Ketiganya memiliki ciri khas masing-masing. Salah satunya Arabika memiliki rasa yang lebih kuat (asam) dibandingkan dengan Excelsa dan Robusta.

Tombo Coffee berusaha mengenalkan bahwa tidak hanya kopi tubruk yang hitam, kental, dan pahit. Tapi ada banyak hal menarik lain yang dimiliki oleh kopi. Tombo Coffee mengajarkan, bukan hanya perkara menjadi petani kopi, menanam, berbuah, lalu dijual. Tapi, bagaimana cara mengolah, mengemas, memasarkan, membuat branding, dan menyajikan kopi. Sehingga membuat nilai jual kopi sebagai sebuah komoditas di Desa Tombo meningkat.

Berbicara meningkatkan kualitas dan taraf petani kopi yang berada di Desa Tombo dan sekitarnya, tentu menjadi harapan ARC, agar kelak menjadi desa mandiri dan memiliki produk berkualitas yang sekiranya mampu bersaing dengan daerah penghasil biji kopi macam, Aceh, Medan, Lampung, Toraja dan lain-lain.

Walaupun kopi hitam, tapi Tombo Coffee menampakkan sisi manisnya. Memang kopi hitam tak semenawan cappuccino, café latte atau espresso, tapi tampaknya masih banyak orang yang lebih menikmati kemurnian kopi hitam. Mengingatkan akan cerita lama, kebiasaan orang tua, dan yang paling utama teringat filosofi kopi yakni, hidup itu bagai kopi, pahit manis harus dinikmati…!

(Program BUMDes Desa Tombo Kecamatan Bandar Kabupaten Batang, Jawa Tengah)

Bangga! Film “The Resilient Ones from the East of Indonesia” Raih Penghargaan AMCDRR di India

Petani Motivator Desa Oinlasi Ishak Selan, menjelaskan tentang upaya meningkatkan kuantitas air tanah di lahan pertanian

Petani Motivator Desa Oinlasi Ishak Selan, menjelaskan tentang upaya meningkatkan kuantitas air tanah di lahan pertanian

Film pendek The Resilient Ones from the East of Indonesia Program Partners for Resiliance (PfR) Indonesia baru saja menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional.

Film ini mendapat penghargaan kategori DRR (Disaster Risk Reduction) for Development, di Asian Ministerial Conferences on Disaster Risk Reduction (AMCDRR) 2016 di India. Pengumuman resminya Sabtu (5/11).

The Resilient Ones from the East of Indonesia bercerita tentang membangun ketangguhan di Kabupaten Timor Tengah Selatan, hasil kerja pendampingan Bina Swadaya Konsultan (BSK) berkolaborasi dalam program PfR.

 

Fim dokumenter ini, mengisahkan upaya penerapan praktek 3R (Recharge, Retention, Reuse), yaitu memaksimalkan daerah tangkapan air untuk meningkatkan kuantitas air tanah di lahan pertanian, sehingga mampu meminimalisir resiko bencana kekeringan yang kerap mengancam NTT.

Manajer Program BSK Ikasari menjelaskan, salah satu kegiatannya mengimplementasi sistem pertanian organik, guna menjaga kesehatan tanah dan tanaman melalui proses daur ulang limbah pertanian, kotoran ternak dan tidak memakai pupuk anorganik serta pestisida kimia.

Lahan pun menggunakan sistem terasering yang mampu mengurangi potensi terjadinya tanah longsor. Sistem ini turut mendorong upaya konservasi.

Teknologinya yang digunakan sederhana dan mudah dipraktekkan masyarakat, Dengan pengelolaan pertanian organik yang ramah lingkungan, akan menjamin keberlajutan pertanian untuk meningkatkan ekonomi, sosial serta ketahanan pangan masyarakat.

Program PfR Indonesia merupakan kolaborasi BSK, Bina Tani Sejahtera, Karina Jogja, Caritas dan Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP). Kolaborasi ini sebgai upaya membangun ketangguhan ekonomi yang terintegrasi dengan tiga pendekatan, Pengurangan Risiko Bencana (PRB), adaptasi perubahan iklim dan restorasi manajemen ekosistem.

PIB Kenalkan Model Inkubasi Bisnis di Jakarta

Ifa Jumrotun Naimah sedang menjelaskan model inkubasi bisnis PIB Bojonegoro

Ifa Jumrotun Naimah sedang menjelaskan model inkubasi bisnis PIB Bojonegoro

Pusat Inkubasi Bisnis (PIB) Bojonegoro mulai mengembangkan sayap hingga level nasional. Salah satunya, mengenalkan model inkubasi bisnis dalam kegiatan seminar di Gedung GKBI Jakarta, Kamis (20/10), dihimpun dari laman websitenya PIB.

Perempuan yang biasa disapa Ifa memaparkan, model inkubasi bisnis merupakan salah satu bentuk kegiatan guna membantu pemerintah menurunkan angka pengangguran.

Menurut Ifa, fokusnya adalah perubahan pola fikir (mindset) dari ketergantungan dengan bekerja sebagai karyawan, menjadi keluarga yang mandiri ekonomi melalui wirausaha dan budidaya.

Kegiatan yang diikuti sekitar 50 peserta Ini, berlangsung sekitar dua jam. Yanti Silaban, salah satu peserta mengaku sangat tertarik dengan model inkubasi bisnis yang sedang dikembangkab oleh PIB Bojonegoro. Bahkan, peserta perempuan ini, sangat antusias menanyakan mekanisme untuk dapat berinvestasi di PIB.

Semoga PIB Bojonegoro semakin mandiri dan maju untuk kesejahteraan masyarakat.