• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Aktivitas saat ini

Bersama Pemkab Bojonegoro, PIB gelar Lokakarya Membangun Kemandirian Ekonomi Berbasis Desa

Kegiatan lokakarya membangun kemandirian ekonomi berbasis desa di Aula Angling Dharmo Pemkab. Bojonegoro.

Kegiatan lokakarya membangun kemandirian ekonomi berbasis desa di Aula Angling Dharmo Pemkab. Bojonegoro.

Dalam rangka membangun kemandirian ekonomi berbasis desa, Pusat Inkubasi Bisnis (PIB) bersama Pemkab. Bojonegoro menggelar kegiatan lokakarya di Aula Angling Dharmo, Kamis (11/08) di Bojonegoro.

Lokakarya dibuka oleh Wakil Bupati Bojonegoro Setya Hartono. Dalam sambutannya, Setya meminta lokakarya benar-benar menjadi sumber inspirasi yang harus dilakukan oleh pemerintah bersama-sama dengan pihak swasta dan NGO.

“saya minta seluruh camat untuk mengidentifikasi potensi apa saja yang dapat dikembangkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi angka pengangguran. Memang benar, saat potensi sudah ditemukan tetapi tidak semua memiliki pemahaman bagaimana cara memaksimalkan potensi yang tersedia” tutur Setya.

Dalam kesempatan itu, Team Leader PIB Sigit Agustiyono memaparkan, kemandirian ekonomi berbasis desa intinya memastikan desa tidak bergantung dengan bantuan dari pihak manapun. Desa harus mampu mengelola potensi-potensi ekonomi yang tersedia untuk kesejahteraan masyarakat desa itu sendiri. Strateginya dengan melalui pengembangan usaha produktif masyarakat yang terhubung dengan lembaga ekonomi masyarakat di tingkat desa.

Menurutnya, wacana yang sudah disepakati menunjukkan komitmen sinergi antar semua stake holder yang ada. Fokusnya adalah mengindentifikasi semua potensi ekonomi tersedia, kemudian mendorong peningkatan kemampuan masyarakat untuk memulai usaha produktif berbasis potensi lokal.

Kegiatan lokakarya dihadiri juga oleh, delapan Kepala Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD), seluruh camat dan Kepala Seksi PMD (Pembangunan Masyarakat Desa) serta para pendamping Bumdes dan Pendamping Desa program Kemendes.

Kolaborasi Pengolahan Sampah Anorganik Bersama Kemenko Kemaritiman

Pelatihan pengolahan-sampah anorganik di rumah Si Pitung

Pelatihan pengolahan-sampah anorganik di rumah Si Pitung

Melalui Gerakan Budaya Bersih dan Senyum (GBBS), Marunda Urban Resilience In Action Alliance (MURIA) bersama Kemenko Kemaritiman menggagas pelatihan pengolahan sampah anorganik bertempat di rumah Si Pitung, Marunda.

Pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat keterampilan kelompok terkait pemanfaatan sampah anorganik. Hal ini sejalan dengan bank sampah yang dibentuk sejak April 2016, dijalankan dan dikembangkan oleh kelompok. Kegiatan diiukti sejumlah 35 peserta dari anggota-anggota kelompok dampingan MURIA.

Program MURIA adalah upaya untuk membangun kolaborasi kapasitas dengan berbagai pihak, salah satunya dengan pemerintah yakni  Kemenko Kemaritiman

Lokasi GBBS dilaksanakan di 10 wilayah dan Marunda menjadi lokasi pencanangan, karena dinilai merupakan lokasi ideal dimulainya kegiatan. Selain itu, Marunda sebagai lokasi pariwisata, sehingga perlunya untuk menyadarkan masyarakat pentingnya kebersihan dan keramahan lingkungan pariwisata.

BSK Siap Hadapi Tantangan Kedepan

Lepas Sambut Direktur BSK

Foto bersama Lepas Sambut Direktur Bina Swadaya Konsultan

Saat memberi sambutan lepas sambut Direktur, Ari Primantoro menjelaskan, tantangan yang harus dihadapi Bina Swadaya Konsultan (BSK) kedepan adalah dana-dana donor sudah mulai susah dan jarang serta kegiatan corporate berupa tanggung jawab sosial pun berkurang.

“Saya melihat, baca-baca dan mengamati kondisi sekarang, dana CSR mulai turun, kegiatan pertambangan mulai lesu. Ini menjadi tantangan untuk direktur baru Bu Frida, karena kita tidak bisa berharap banyak dari corporate”, kata Ari.

Lebih lanjut ia menuturkan, tantangan inipun sepertinya sudah terjawab dan mulai diimplementasikan, yakni dengan mengembangkan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) sebagai produk yang bisa dikembangkan, “jika sudah banyak pengalaman dan punya model bisa kita konseptualisasi, dan menjadi acuan yang full pastisipatif”, tuturnya.

Pembina Yayasan Bina Swadaya Bambang Ismawan menilai, BUMDes menjadi kesempatan bagus bagi kita untuk mentransformasikan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) ke dalam kegiatan lembaga bernama BUMDes.

“kita akan beri penguatan lembaga di desa (capacity building), sehingga desa menjadi maju dan mandiri. Indonesia ini ibarat pohon, dan desa menjadi akarnya. Jika desa-desanya maju, produktif, mandiri dan makmur, maka Indonesia menjadi kuat dan kokoh”, ungkap Bambang Ismawan.

Rinistisan BUMDes yang dilaksanakan di Kab. Batang, menurutnya telah membuat ketertarikan di daerah-daerah lain, sehingga tantangan kita kedepan, bagaimana mendapatkan tenaga-tenaga yang mampu melakukan fungsi sesuai visi misi Bina Swadaya.

Komisaris BSK M. Suryo Dwianto Agung Nugroho menambahkan, tantangan kedepan bagi BSK lainnya adalah dengan tetap mengembangkan Bisnis Bersama Masyarakat (BBM). Kegiatan kewirausahaan sosial berupa BBM, akan menjadi alternatif kegiatan pemberdayaan masyarakat.

“Kita tidak akan tergantung pada proyek-proyek, tapi program pengembangan BBM yang kita lakukan bisa lebih solid. Seperti mengembangkan Griya Cerdas Bina Swadaya yang di Jogja supaya lebih hidup”, ucap Agung.

Komisaris berharap, dengan soliditas BSK, kita bisa memenuhi harapan, bahwa kita bisa membuat program BSK lebih kuat dan sustain dalam setiap pelaksanaannya.

Sertijab BSK, Kini Frida Widuratmi Menjabat Direktur

Lepas Sambut Ari Primantoro kepada Direktur BSK yang Baru Frida Widuratmi

Lepas sambut Ari Primantoro kepada Direktur BSK yang baru Frida Widuratmi

Selasa (8/9) pagi, Bina Swadaya Konsultan (BSK) menggelar lepas sambut atau serah terima jabatan (Sertijab) Direktur, antara Ari Primantoro dan Frida Widuratmi yang kini melanjutkan kepemimpinan BSK.

Frida Widuratmi yang sebelumnya menjabat Manajer Communication & External Relation, menyampaikan terima kasih atas kepercayaan keluarga Bina Swadaya, dan akan melanjutkan kesuksesan yang telah diukir sebelumnya oleh Direktur Ari Primantoro.

“Saya ucapkan terima kasih, dan saya akan melanjutkan tongkat estapet dari kesuksesan Pak Ari. Kedepannya, kita akan meningkatkan program kinerja BSK”, ucapnya.

Terkait program kerja, Frida menuturkan, setiap kegiatan pemberdayaan kita di masyarakat, jangan hanya mengejar finansial saja, tapi ada dorongan hati kita untuk berbuat yang terbaik bagi masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Ari Primantoro mengucapkan terima kasih atas pembelajarannya selama kurang lebih 26 tahun ia mengabdi di Bina Swadaya hingga jadi Direktur BSK.

“Dari tahun 1990 saya gabung di Bina Swadaya hingga kini, banyak pembelajaran yang saya terima ketika saya di Pusdiklat maupun di BSK, termasuk inspirasi yang saya dapat dari Pak Bambang Ismawan”, tuturnya.

Dalam sambuatnnya, Ari Primantoro berharap kedepannya BSK bisa lebih maju dan sukses dibawah arahan Direktur baru.  Kemudian, dapat menjalin kebersamaan yang baik untuk pelayanan kita pada masyarakat

Sertijab dihadiri oleh, Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya Bambang Ismawan beserta istri, Ketua Pengurus Paulus Wirutomo, Anggota Dewan Pembina Koeswandi, Komisaris BSK M. Suryo Dwianto Agung Nugroho dan Otok S. Pamuji beserta jajaran direksi dan karyawan BSK.

 

Bupati Yoyok Ajak Warga Desa Berinovasi Mendirikan Badan Usaha Milik Desa

dok. binaswadaya.org

Kabupaten Batang kini sedang merintis pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di seluruh desa. Inisiatif tersebut merupakan strategi Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo untuk mendorong partisipasi dan inovasi warga desa agar lebih mandiri.

“UU Desa akan membawa banyak uang ke desa. Sayang sekali jika tidak digunakan untuk membangun sesuatu yang memiliki dampak ekonomi berkelanjutan. Seluruh warga dapat menikmati. Warga harus mampu melangkah bersama selesaikan masalah perut dan kantong,” ujar Yoyok Riyo Sudibyo dalam keterangannya, Minggu (7/8/2016).

Ia menjelaskan, Konsep BUMDes yang sedang sangat fokus pada partisipasi warga. Dengan modal yang dimiliki, setiap BUMDes bisa mengelola proyek-proyek pembangunan desa. Selain itu, warga juga dapat memanfaatkan pinjaman modal dengan bunga ringan. Yoyok yakin strategi ini dapat mengurangi ketergantungan masyarakat desa pada rentenir, bahkan perbankan.

“Lembaga ini harus lahir dari masyarakat. Kalau satu dari seribu warga desa menyetor Rp 10 ribu per minggu saja, setiap BUMDes sudah punya simpanan Rp 40 juta setiap bulan,” lanjut Yoyok Riyo.

Tidak hanya sampai di situ, Yoyok juga sudah membangun komunikasi dengan beberapa perusahaan start-up untuk membantu pemasaran produk masyarakat desa. Kerja sama ini juga nantinya akan jadi bagian dari sistem yang sedang dibangun.

“Untuk membuat perut warga kenyang, kita tidak bisa hanya mengandalkan investasi dari korporasi besar dan menempatkan warga sebagai pekerja yang pasrah menunggu gaji bulanan. Warga hingga tingkat terkecil harus terus dibantu berinovasi,” pungkas Yoyok Riyo.

Ia menambahkan, model serupa bisa diterapkan di kelurahan di kota-kota besar, terutama di perkampungan miskin.

“Coba bayangkan kalau sistem itu diterapkan di setiap kelurahan di kota besar. Ada berapa banyak usaha kecil yang dapat lebih terangkat,” tutup peraih Bung Hatta Anti-Corruption Award itu.

Kendati demikian, Yoyok mengingatkan bahwa elemen penting dari pendirian BUMDes adalah transparansi. Pasalnya apabila tradisi transparansi tidak dibangun, maka BUMDes akan bernasib sama dengan jutaan Koperasi Unit Desa (KUD) di Indonesia, yang bangkrut akibat praktik korupsi dan spekulasi. (news.detik.com)

Pelatihan Kepemimpinan Bagi Perempuan Marunda

Suasana pelatihan penguatan kapasitas kepemimpinan bagi perempuan Marunda

Suasana pelatihan penguatan kapasitas kepemimpinan bagi perempuan Marunda

Dalam rangka mendorong penguatan kapasitas masyarakat RW 07 Marunda, khususnya kapasitas kepemimpinan perempuan, Tim Marunda Urban Resilience in Action (MURIA) bersama Care Indonesia selenggarakan pelatihan penguatan kapasitas kepemimpinan bagi perempuan Marunda.

Pelatihan yang dilaksanakan di Wisma Hijau Cimanggis Depok Jawa Barat ini, bertajuk “Perempuan Hebat Punye Cerite”. Peserta yang hadir sejumlah 20 perempuan mewakili tiap RT di wilayah RW 7 Marunda.

Saat pelatihan, Tim Care menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk penguatan kapasitas dan keterampilan kepemimpinan perempuan dalam berkomunikasi, menyusun rencana, penyelesaian masalah, dan pengambilan keputusan.

Pelatihan Calon Pelatih CARE-MURIA

Selanjutnya, peserta yang telah dilatih, nantinya akan menjadi pelatih/kader di komunitas sekitarnya, guna menyebarkan dan berbagi informasi, pengetahuan dan keterampilan yang telah didapatkannya selama pelatihan.

Dalam mempersiapkan para trainer ini, dilakukanlah coaching (pendampingan) pada para kader sebelum terjun ke masyarakat sebagai pelatih. Hal ini dilakukan, untuk memperdalam materi-materi yang akan disampaikan pada saat melatih. Training oleh para kader kepada komunitas lingkungannya ini akan dilakukan pada Juli – Agustus.

Kedepannya, akan ada pelatihan lanjutan untuk perempuan yakni, materi melek keuangan (financial literacy), manajemen stres dan target. Agenda pelatihan lanjutan ini rencananya akan dilaksanakan September 2016.

HOT Beri Pengembangan Wawasan OpenStreetMap

Wulansari mempresentasikan cara penggunaan OpenStreetMap

Wulansari mempresentasikan cara penggunaan OpenStreetMap

Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) bersama Bina Swadaya Konsultan (BSK) gelar pengembangan wawasan tentang OpenStreetMap (OSM), Rabu (27/7) di Gedung Wisma Janakarya, Jl. Gunung Sahari 3, Jakarta Pusat.

Training Officer HOT Wulansari Khairunisa menjelaskan, bedanya OSM sebagai peta online dengan peta umun lainnya adalah semua orang bisa akses, modifikasi dan kontribusi asalkan punya account OSM.

“OSM itu peta berbasis online yang punya kelebihan terbuka, bebas, gratis, bisa diedit dan semua orang bisa berkontribusi, dan tentunya sangat mudah dipakai” ucap Wulan.

Menurutnya, kita bisa membuat proses pemetaan untuk komunitas salah satunya yang dilakukan di program MURIA Marunda. Prosesnya adalah tentukan daerahnya yang dipetakan, lalu persiapan survei dengan bawa GPS untuk merekam titik koordinat dan jalur treking kita. Kemudian pengumpulan data (survei lapangan), input data survei, download area, edit peta OSM , upload perubahannya, dan lihat hasil perubahan di web OSM.

Wulan menceritakan, untuk program MURIA pelatihan berlangsung selama tiga hari. Kemudian, kurang lebih tiga minggu kelompok pemuda berlatih cara menambahkan objek di OSM dan survei lapangan menggunakan OSMTracker, peta cetak dan form survei.

Direktur BSK Frida Widuratmi berharap, OSM yang diterapkan di MURIA bisa mengispirasi kegiatan program BSK lainnya. Hal inipun diamini Manager Program Ikasari, kedepannya dengan menerapkan OSM kita dapat memetakan segala kegiatan kita.

Sinergi Bank Sampah dan Urban Farming

Urban Farming dan Bank Sampah

Kegiatan bank sampah dan urban farming yang di galakan warga RW 7 Marunda, ternyata dilakukan secara bersinergi. Artinya saling berkolaborasi dan memberi manfaat satu sama lain diantara kedua kegiatan yang dilakukan.

Ibu Sari dari Marunda Kepu menceritakan, kegiatan pemilahan bank sampah dapat menghasilkan sampah anorganik yang bermanfaat, seperti ember, kaleng, botol, gelas yang bekas untuk dijadikan media tanam di lahan yang sempit.

Selain itu, sampah organik yang dikumpulkan bisa membuat kompos dan pupuk cair guna memenuhi kebutuhan penanaman yang dilakukan kelompok kegiatan urban farming.

Kelompok Tulip di rusun C1 bahkan berinisiatif membuat kompos secara mandiri menggunakan bahan-bahan yang didapat dari sampah organik di lingkungan sekitar. Kompos yang dibuat dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan media tanam di lahan pekarangan rusun.

Kegiatan urban farming yang lebih dulu berjalan, sudah merasakan hasilnya walaupun masih untuk kebutuhan pemenuhan gizi keluarga. Bank sampah yang baru berjalan pun, telah memberi manfaat bagi warga, sehingga sampah tidak lagi berserakan mengotori lingkungan sekitar, serta warga semakin peduli terhadap kebersihan di Marunda

Kegiatan bank sampah dan urban farming merupakan kegiatan yang bermanfaat dan tentu bisa saling terintegrasi satu sama lain.

Semangat Gerakan Bank Sampah di Marunda

Anggota Kelompok Bank Sampah berkumpul untuk melakukan penimbangan sampah

Anggota Kelompok Bank Sampah berkumpul untuk melakukan penimbangan sampah

Kini, warga RW 7 Marunda semangat dalam mengkembangkan bank sampah di tiga wilayah yakni, Marunda Kongsi, Marunda Kepu, dan rumah susun cluster C1, C2, dan C4.

Kiki selaku tim MURIA (Marunda Urban Resilience in Action) dan fasilitator kegiatan menuturkan, telah tersusun kelompok bank sampah yaitu, Kelompok Srikandi di Marunda Kongsi (RT 4,5,6), Kelompok Kartini di Marunda Kepu (RT 8,9), dan di rumah susun Kelompok Tulip, Mahoni dan Teratai (C1, C2, dan C4).

Adapaun kegiatan ini dilakukan April 2016. Prosesnya mulai sosialisasi, pembentukan pengurus bank sampah, pelatihan membuat kompos organik dari dapur rumah tangga dan kegiatan pengumpulan sampah anorganik.

Menurutnya, pemilahan sampah organik dan anorganik dimulai dengan mendorong inisiatif pemilahan dari rumah tangga. Bank sampah akan menerima sampah anorganik yang bersih, sehingga akan mempermudah pengurus dalam pengumpulan dan pemilahan (sortir).

Kegiatan bank sampah ini sesuai dengan harapan warga guna menanggulangi polusi sampah yang banyak berserakan dan mengotori lingkungan. Tentunya, kegiatan ini pun dapat menumbuhkan potensi ekonomi bagi warga Marunda.

Mewakili PIB, Ifa Ikuti Forum CIF 2016

Kegiatan Ifa Jumrotun Naimah saat merawat kroto.

Kegiatan Ifa Jumrotun Naimah saat merawat kroto.

Mengutip dari beberapa media, Ifa Jumrotun Naimah (34) beserta dua perempuan tangguh lainnya yakni Rofiah Nur Aidah guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Desa Begadon dan Nur Afidatul Muawanah perajin batik terpilih untuk ikut CeweQuat Internationale Forum (CIF) 2016, Jumat (15/4) di Jakarta.

Ifa, biasa dipanggil adalah anggota PIB (Pusat Inkubasi Bojonegoro) pengusaha sukses ternak kroto atau semut rangrang dan bendahara Asosiasi Rangrang Abang di Desa Sudu, yang  beranggotakan 30 orang dari empat desa yaitu Desa Katur, Begadon, Sudu dan Ngraho di Kabupaten Bojonegoro.

Asosiasi untuk Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos) Indonesia yang memfasilitasi ke tiga perempuan tersebut untuk ikut acara CIF.

Menurut Ketua Ademos Indonesia, Moh. Kundori, memberdayakan dan mengembangkan potensi perempuan di era digital, memiliki tantangan tersendiri. Meski begitu, ada banyak peluang emas yang bisa diambil para wanita untuk berkembang dan meraih kesuksesannya. “Maka dari itulah, Ademos mengirim ketiga perempuan tangguh itu,” ucapnya.

Bertempat di Ballroom Kuningan City, CIF 2016 akan menghadirkan experts yang mampu memberikan inspirasi kepada para wanita dalam karir maupun pengembangan diri. Seperti Betty Alisjahbana (Former CEO IBM Indonesia, Founder & Commissioner PT. Quantum Business International, 1 dari 9 srikandi yang dipilih Presiden Joko Widodo untuk menjadi panitia seleksi ketua KPK), Petty S. Fatimah (Chief Editor dan Chief Community Officer Femina), Adrianna Tan (Founder Wobe, Singapore), dan Wulan Tilaar (Vice Chairwoman Martha Tilaar Group) dan Shannon Kalayanamitr (Group CMO of ORAMI, Thailand).

Di sesi Meet The Mentors, peserta nantinya akan belajar dari para Mentor CeweQuat yaitu Ollie (book author, CCO Zetta Media Networks), Hanifa Ambadar (Founder & CEO Female Daily Network), Nilam Sari (Owner & Marketing Director Babarafi Enterprise), Imelda Fransisca Miss Indonesia 2005, book author & VP Olympic Development.