• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Aktivitas saat ini

Kemendes Bangun Gerakan Pangan Lokal Berbasis Desa

Tanam padi organik sistem SRI Jajar Legowo untuk mendukung swasembada pangan lokal di Gayam Bojonegoro

Kegiatan tanam padi organik sistem SRI Jajar Legowo untuk mendukung swasembada pangan lokal di Gayam Bojonegoro

Pertanian desa merupakan basis terpenting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Karena itu, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) terus melakukan berbagai program penguatan pertanian lokal desa.

“Kalau bicara ketahanan pangan nasional, maka desa adalah penyedia utama sumber pokok pangan nasional. Makanya kita lakukan berbagai program yang memperkuat petani desa,” ujar Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kemendes PDTT Ahmad Erani Yustika dalam Temu Penggerak Pangan Lokal oleh Petani Desa, di Jakarta, Senin (30/5).

Erani menjelaskan, Kemendes PDTT membuat tiga pilar Matra Pembangunan Desa dalam memperkuat kemandirian pangan desa. Pertama, menguatkan Jaringan Komunitas Wiradesa di tingkat petani dengan meningkatkan kapabilitas dan kapasitas petani sebagai subjek pengolahan sumber daya pertanian.

Kedua, mewujudkan kemandirian ekonomi desa melalui redistribusi kepemilikan aset produktif, seperti lahan, modal, dan sebagainya secara berkeadilan. Sedangkan, yang ketiga adalah mendorong partisipasi dan kerja sama masyarakat dalam memuliakan pangan khas lokal sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan dan dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat.

“Desa memiliki prospek yang sangat besar bagi perwujudan kedaulatan pangan nasional. Sedangkan, komoditas hasil pertanian desa merupakan bahan baku utama dalam industri pengolahan makanan dan energi baru ramah lingkungan. Memang sangat strategis sekali posisi pertanian desa ini,” tandas Erani.

Acara Temu Penggerak Pangan Lokal oleh Petani Desa yang digelar Direktur Pelayanan Sosial Dasar (PSD) Ditjen PPMD Kemendes PDTT menghadirkan praktisi dan aktivis desa. Di antaranya Bambang Ismawan (Yayasan Bina Swadaya), Maria Loretha (Penggerak Petani Sorghum), Sudarmoko (Integrated Farming Lembah Kamuning Cigugur), Nissa Wargadipura (Pesantren Ekologi At-Thariq Garut), Hira Jamthani (penulis buku Lumbung Indonesia), Benito Lopulala (Gerakan Ekonomi Solidaritas Indonesia), Riza Damanik (Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia), serta sejumlah aktivis desa lainnya.

Direktur Pelayanan Sosial Dasar pada Ditjen PPMD Hanibal Hamidi mengatakan, pihaknya telah menggagas roadmap Gerakan Pangan Lokal Berbasis Desa. Langkahnya pun telah disiapkan, meliputi pemetaan terhadap jenis-jenis pangan khas Indonesia, baik per kecamatan, per kabupaten, maupun per provinsi.

“Kemudian perlu dilakukan sinkronisasi regulasi melibatkan kementerian/lembaga terkait lain. Meliputi pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, kelautan, dan yang lainnya,” ujar Hanibal.

Ia menambahkan, Gerakan Pangan Lokal Berbasis Desa tentunya mendukung perwujudan konsep Nawacita ketiga, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran. Dengan pertanian yang kuat, kesempatan desa untuk bangkit dan berkembang akan semakin cepat. Apalagi, gerakan ini juga menekankan pembangunan pertanian dari sisi sosial, ekonomi, dan ekologi. “Kita berupaya memaksimalkan keragaman hayati dan budaya desa sebagai kekuatan bangsa,” jelasnya.

Pendiri Pesantren Ekologi At-Thariq Garut, Nissa Wargadipura mengatakan, Gerakan Pangan Lokal Berbasis Desa yang digagas Kemendes PDTT memang sangat penting lantaran pertanian desa saat ini dikepung oleh sistem agroekonomi yang merusak. Petani desa bukan hanya lemah dalam penguasaan sumber daya, tetapi juga dihadapkan pada kenyataan pola tanaman yang merusak dengan pestisida.

“Makanya kami membuat terobosan agroekologi dan agroekosistem. Kami membuat kebun pekarangan dengan 450 jenis tanaman pangan dalam area lahan seluas 7.500 meter persegi. Hasil pertanian desa pun semakin asli dan tidak merusak,” ujarnya.

Dia menambahkan, kelestarian dan keaslian karakter desa pun tidak hilang. Malah kembali lestari seperti sediakala. Masih ada banyak kupu-kupu dengan berbagi pada malam hari banyak ada kunang-kunang mengelipkan cahaya. “Lalu gerombolan capung juga beterbangan sebagai tanda adanya air yang cukup segar di daerah kami,” tutur Nissa. (kemendesa.co.id)

Pengembangan BUMDes Kab. Batang Dalam Rangka Kewirausahaan Sosial

dok. binaswadaya.org

dok. binaswadaya.org

Kegiatan BUMDes di Kabupaten Batang Jawa Tengah akan dikembangkan dalam rangka kewirausaaan sosial, sebagai perwujudan keinginan Pemda Batang mengharapkan berkembangnya potensi di desa.

Keterlibatan Bina Swadaya yang memiliki pengalaman 4 dekade dalam pendampingan, penguatan kelompok masyarakat, evaluasi kinerja pendampingan dan peningkatan kapasitas personil pendamping, dapat mengoptimalkan peran KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) sebagai pelaku utama. Sehingga mampu mengakselerasikan tercapainya orientasi BUMDes dalam rangka kewirausahaan sosial.

Dalam pelaksanaan kurang lebih 8 bulan, akan dilaksanakan serangkaian kegiatan berupa, pemahaman tantangan dan potensi setempat, peningkatan kapasitas para pelaku, menumbuh-kembangan layanan keuangan mikro, kegiatan kewirausahaan, pengenalan dan pemanfaatan Teknologi Tepat Guna (TTG), membangun kemitraan dengan para pihak dan lainnya.

Sasaran kegiatan di 10 desa dan direncanakan sejumlah 2.500 Kepala Keluarga (KK) yang tergabung dalam 100 KSM dengan anggota 25 KK setiap kelompok.

Hasil yang diharapkan adalah berfungsinya KSM sebagai wadah kegiatan usaha produktif, BUMDes sebagai badan wirausaha sosial, sebagai layanan keuangan mikro, dan tumbuhnya usaha produktif di masyarakat.

Sebelumnya, Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo antusias menyambut gagasan Bina Swadaya.  Ia menyatakan mendukung penuh gagasan itu dan akan segara menerapkan gagasan BUMDes dalam waktu dekat. Yoyok juga sangat optimistis dengan dampak yang dihasilkan program tersebut bagi masyarakat perdesaan.

Peran Aktif Pemuda Membangun Peta Digital

capture - OpenStreetMap MURIA

capture – OpenStreetMap MURIA

Salah satu sasaran program Marunda Urban Resilience in Action (MURIA) adalah melibatkan pemuda untuk aktif membangun ketahanan masyarakat di wilayah RW 7 Marunda.  Kemudian dibentuklah kelompok pemuda yang terfokus pada pelatihan pemetaan lapangan.

Mengutip dari Humanitarian OpenStreetMap Indonesia (HOT) sebagai fasilitator kelompok pemuda menjelaskan, pemetaan lapangan ini untuk mengumpulkan data dan membuat peta daerah, agar masyarakat dapat mengetahui kondisi wilayah mereka, objek-objek dan potensi apa saja yang ada di Marunda.

Peserta pelatihan berasal dari warga RW 07 yang berjumlah 5 orang. Dengan terlibatnya warga lokal dalam pembuatan peta diharapkan informasi peta yang dikumpulkan akan lebih baik dan valid, karena warga lokal lebih mengetahui wilayah mereka. Selain itu, diharapkan hasilnya akan menjadi peta yang berasal dari komunitas itu sendiri.

Selanjutnya, Pelatihan pemetaan ini dibagi 2 tahap, yaitu pengumpulan data menggunakan OpenSteetMap dan pengolahan data dengan QGIS dan InaSAFE.

Pelatihan OpenStreetMap difokuskan untuk pengumpulan data lapangan di RW 07. Adapun objek yang dipetakan diantaranya fasilitas umum, jalan dan rumah penduduk (per KK). Kemudian, mereka juga mengumpulkan informasi mengenai kondisi sosialnya dan mengenai riwayat ancaman banjir yang kerap melanda Marunda, khususnya ketika musim penghujan datang. Pelatihan ini dilakukan selama 3 hari.

Selang 9 hari, berlanjut pada tahap pelatihan data dengan QGIS dan InaSAFE. Kelompok mengolah data tersebut hingga menghasilkan beberapa peta diantaranya peta fasilitas ekonomi, fasilitas pendidikan dan kesehatan, fasilitas sosial, peta sanitasi dan sumber air. Selain itu, mereka juga memanfaatkan InaSAFE untuk membuat peta bangunan terdampak banjir.

Menurut kelompok pemuda hasil kegiatan pemetaan tersebut memuaskan. Peta-peta RT hasil kegiatan dicetak ukuran A2 dan ditampilkan saat expo di Rumah Si Pitung.  Selain ditampilkan di ekspo, peta juga dicetak dan ditaruh di lokasi-lokasi strategis tempat dimana warga senang berkumpul.

Kini peta digital RW 07 Marunda yang detail sudah dapat diakses oleh siapa saja, mulai dari masyarakat, pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya. Diharapkan dari hasil pemetaan ini dapat menyatukan dan memberikan informasi kepada para pemangku kepentingan dalam membangun ketahanan masyarakat perkotaan.

Silahkan kunjungi karya kelompok pemuda Marunda di http://openstreetmap.id/muria/.

 

Urban Farming Perkuat Ketahanan Pangan di Marunda

Tim MURIA

Tim MURIA

Program urban farming diyakini mampu memperkuat posisi ketahanan pangan nasional. Upaya ini sebagai solusi atas semakin sulitnya mengupayakan lahan yang sempit di perkotaan.

Saat pameran “Marunda Berbagi : Festival Belajar Orang Marunda”, di Rumah si Pitung, Project Manager East West Seed Indonesia M. Hariyadi Setiawan mengatakan, keikutsertaan kegiatan pendampingan program Marunda Urban Resilience In Action Alliance (MURIA) sebagai bentuk kontribusi meningkatkan ketahanan masyarakat di Marunda.

“Kami tergerak untuk aktif terlibat di program MURIA guna meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan dasar, ataupun sebagai alternatif penghidupan bagi warga di Marunda” ucapnya.

Salah satunya adalah mendukung kegiatan urban farming dengan memberi benih yang berkualitas, terlibat pembuatan kompos dan belajar bersama cara bertanam agar mendapat hasil yang baik.

Sementara itu, menurut Direktur Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS) Edwin Saragih menuturkan, dilihat dari perkembangannya, ini bisa jadi motivasi masyarakat dalam meningkatkan nutrisi keluarga. “Seperti diketahui konsumsi sayuran di Indonesia masih terbilang rendah dibanding negara lain. Dengan urban farming, diharapkan dapat meningkatkan konsumsi sayuran dan memperoleh keuntungan ekonomi dari penjualannya” tuturnya.

Pameran kegiatan MURIA ini adalah kali kedua dan tampak lebih meriah, menunjukkan masyarakat sudah mulai kompak dalam melakukan beberapa upaya untuk perubahan yang lebih baik lagi.

Warga Marunda Unjuk Kebolehan

Kelompok urban farming memperlihatkan cara pembuatan kompos secara alami

Kelompok urban farming memperlihatkan cara pembuatan kompos secara alami

Dalam rangka ekspo bertajuk “Marunda Berbagi : Festival Belajar Orang Marunda”, warga Marunda dari RW 7 unjuk kebolehan hasil karyanya di Rumah si Pitung, Kelurahan Marunda, Jakarta Utara, Kamis (2/4).

Project Manager Ikasari menuturkan, acara tersebut untuk menampilkan karya dan pembelajaran tentang pertanian perkotaan (urban farming) yang sensitif terhadap ancaman bencana lokal sebagai upaya peningkatan gizi keluarga, alternatif usaha produktif, dan upaya pelestarian lingkungan.

Selain itu, kegiatan ini bertujuan guna mengkampanyekan inisiatif pengelolaan sampah organik dan anorganik melalui kelompok usaha sampah di komunitas. Menurutnya, tidak kalah penting adalah mensosialisasikan ikon seni budaya Marunda dan peta digital yang diakses secara online untuk wilayah RW 07 Kelurahan Marunda.

Menyiapkan presentasi peta digital RW 7 Marunda oleh Kelompok Pemuda

Kelompok pemuda sedang menyiapkan presentasi peta digital RW 7 Marunda

Selama ini, upaya meningkatkan ketangguhan masyarakat di wilayah Marunda, telah dilakukan melalui berbagai kegiatan program MURIA (Marunda Urban Resilience In Action Alliance) seperti, penguatan kapasitas kelompok dan kelembagaan oleh Bina Swadaya Konsultan

(BSK), pembentukan tim siaga dan penyusunan rencana kontigensi banjir di RW 07 bersama Forum Pengurangan Bencana (FPRB) DKI Jakarta,

Selanjutnya, kegiatan pendampingan usaha urban farming bersama Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS) dan East West Seed Indonesia serta penyusunan peta digital oleh kelompok pemuda RW 07 bersama Humanitarian Openstreetmap Team (HOT).

menjual sayuran organik hasil program urban farming

Kelompok urban farming menjual hasil panen sayuran organik

Program MURIA adalah bentuk kemitraan dalam upaya meningkatkan ketangguhan masyarakat perkotaan di Marunda meliputi kompleksnya persoalan urban dan terbatasnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah setempat, dan dunia usaha.

Pemkot Jakarta Utara Apresiasi Program Ketangguhan Masyarakat di Marunda

Audiensi BSK dengan Pemerintah Kota Jakarta Utara terkait pengembangan ketangguhan masyarakat di kawasan Marunda

Audiensi BSK dengan Pemerintah Kota Jakarta Utara terkait pengembangan ketangguhan masyarakat perkotaan di kawasan Marunda

Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara mengapresiasi langkah Bina Swadaya Konsultan (BSK) dalam membangun ketangguhan masyarakat perkotaan di kawasan Marunda. Hal itu diutarakan Wakil Walikota Wahyu Haryadi ketika melakukan audiensi di Ruang VIP, Kantor Walikota Jakarta Utara.

“Apa yang telah dilakukan BSK dalam penataan dan pemberdayaan masyarakat di RW 07 Kelurahan Marunda patut diapresiasi. Bagaimana kita bersama-sama peduli dan bersinergi dalam meningkatkan sosial ekonomi masyarakat. Apalagi di Marunda termasuk lokasi 12 jalur destinasi wisata pesisir yang bisa menarik pengunjung,” ungkap Wahyu Haryadi.

Sementara itu, Manajer Program BSK Ikasari menyatakan, terpilihnya RW 07 Marunda sebagai pilot project program membangun ketangguhan masyarakat perkotaan dikarenakan kawasan itu memiliki potensi komunitas yang bisa dikembangkan.

“Melalui audiensi ini, kami mengharapkan adanya masukan dan arahan dari Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara dalam mengembangkan progam di kawasan Marunda,” ujar Ika.

Di kawasan Marunda yang dulunya terpinggirkan kini menjadi pusat perhatian pemerintah ataupun swasta. Tak hanya pembangunan infrastruktur saja melainkan bagaimana mengubah cara pandang masyarakat dalam menata masa depan yang lebih baik.

Jika berjalan beriringan maka kawasan Marunda tak lagi terpinggirkan tapi terpandang yang didukung dengan masyarakat yang berkualitas dan mandiri. (Kominfomas Jakarta Utara)

Perlu Ditumbuhkan Kesadaran Masyarakat Manfaatkan Dana Desa

BUMDES/ilustrasi

BUMDES/ilustrasi

Dana desa yang berjumlah triliunan rupiah akan memberikan dampak besar bagi masyarakat. Namun, masyarakat juga harus siap untuk menerima dan memanfaatkan dana tersebut.

Paulus Wirutomo, Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia, mengatakan kesiapan dan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan dana desa tersebut sangat penting untuk didorong, agar dana desa memiliki manfaat yang merata. Paulus menawarkan model-model pemberdayaan desa melalui penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

“Pemerintah daerah harus menjadikan BUMDes sebagai motor pembangunan desa yang modern dan menguntungkan, agar semua masyarakat desa mendapatkan manfaat,” katanya di Jakarta, Senin (21/03).

Bagi Paulus, Kabupaten Batang sudah memiliki modal dasar untuk menguatkan BUMDes karena memiliki alam yang produktif. “Kami juga ingin menggandeng kepala daerah yang inovatif untuk mencapai target program ini,” katanya.

Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo antusias menyambut gagasan Paulus dan Lembaga Bina Swadaya.  Ia menyatakan mendukung penuh gagasan tersebut  Ia mengatakan akan segara menerapkan gagasan BUMDes n dalam waktu dekat. Yoyok juga sangat optimistis dengan dampak yang dihasilkan program tersebut.

“Jika program penguatan BUMDes ini berhasil, Nawa cita yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo akan memberikan dampak yang luas bagi masyarakat pedesaan di Indonesia,” tutup Yoyok. (www.republika.co.id)

Pembekalan Lingkungan Sehat untuk Motivasi SDN 6 Mekarsari Raih Adiwiyata

Siswa SDN 6 Mekarsari diberi pemahaman tentang pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat

Siswa SDN 6 Mekarsari diberi pemahaman tentang pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat

Selain memberikan pelatihan Pengurangan Risiko Bencana (PRB), Tim Emergency Response (ER) Bina Swadaya pun memberi pembekalan tentang lingkungan sehat. Materi tambahan ini pun disampaikan sebagai motivasi dan dukungan terhadap SDN 6 Mekarsari yang mengikuti lomba Adiwiyata.

Dian ketua pelaksana kegiatan PRB menjelaskan, sesuai informasi bahwa SDN 6 Mekarsari termasuk salah satu sekolah yang diusulkan dalam program Adiwiyata. Untuk itulah, ER Bina Swadaya memberi materi tambahan tentang lingkungan sehat, ini sebagai dukungan agar SDN 6 Mekarsari bisa meraih predikat Sekolah Adiwiyata.

Menurutnya, materi yang disampaikan tentang menjaga lingkungan bersih, hijau, dan pencegahan banjir. Kemudian menjaga kesehatan tubuh dari penyakit diare dan demam berdarah. “kita bersama sekolah mendorong untuk budaya lingkungan bersih dan sehat, dan harapannya kita bisa menjaga kelestarian lingkungan di sekolah” harap Dian.

Kedepan, pihak SDN 6 Mekarsari mengharapkan agar Bina Swadaya selalu berkontribusi untuk sekolah dalam mendukung program lingkungan yang bersih dan sehat.

Mengutip dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), program Adiwiyata adalah salah satu program KLH  dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam program ini diharapkan setiap warga sekolah ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat serta menghindari dampak lingkungan yang negatif.

Tujuannya adalah menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah, sehingga dikemudian hari warga sekolah dapat turut bertanggungjawab dalam upaya-upaya penyelamatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan utama program Adiwiyata adalah mewujudkan kelembagaan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan bagi sekolah di Indonesia.

ER Bina Swadaya Beri Pelatihan PRB di SDN 6 Mekarsari

Diskusi kelompok hasil school watching, untuk selanjutnya dipresentasikan oleh siswa SDN 6 Mekarsari

Diskusi kelompok hasil school watching, untuk selanjutnya dipresentasikan oleh siswa SDN 6 Mekarsari

Tim Emergency Response (ER) Bina Swadaya Sabtu (10//4), adakan pelatihan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di SDN 6 Mekarsari Cimanggis Depok Jawa Barat. Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama dengan Karang Taruna Mekarsari.

Sekitar 150 siswa dari kelas 4 dan 5 tampak antusias belajar dan bermain. Saat menyampaikan informasi kegiatan Nino yang menjadi fasilitator mengatakan, materi PRB lebih atraktif dan disesuaikan dengan kemampuan anak-anak supaya mudah dipahami. “Materinya mudah dipahami dan anak-anak senang mempelajarinya”, tutur Nino.

Ada tiga materi yang diberikan kepada siswa, yakni pertama slideshow kebencanaan, kedua tarian  bonsai duck (bebek siaga) berupa respon terhadap segala bencana, ini untuk memudahkan anak – anak mengingat gerakan, dan terakhir school watching yaitu melihat potensi bahaya yang terdapat di sekolah.

Selama proses pembekalan, Dian selaku ketua pelaksana melihat siswa sangat menyukai school watching. Prosesnya yang sangat menyenangkan, karena menuntun kepekaan siswa terhadap bahaya yang timbul di sekitarnya. Siswa pun menampakan antusiasmenya, yakni semangat belajar untuk memaparkan presentasi dari hasil school watching.

Selain siswa, peran guru juga sangat penting karena gurulah yang memantau perkembangan anak di sekolah. Diharapkan tim juga bisa memberikan pelatihan untuk guru, agar bisa terlibat dan melatih siswanya.

Kegiatan ini adalah kali ketiga tim ER Bina Swadaya kerja sama dengan sekolah, sebelumnya dilangsungkan di SDN 02 dan 03 Mekarsari. Kedepannya, tim akan terus melakukan upaya kerjasama dengan sekolah-sekola atau lembaga lainnya.

Menangkap Potensi Usaha Urban Farming

Kelompok urban farming dari RT 7 sedang memperlihatkan hasil semai sayurannya

Kelompok urban farming dari RT 7 sedang memperlihatkan hasil semai sayurannya

Saat panen perdana urban farming di beberapa RT di RW 7 Marunda, ternyata mengundang ketertarikan banyak orang membeli hasil usaha panen seperti sayuran kangkung, sawi dan tanaman lainnya.

Ibu Sari dari Marunda Kepu RT 8 menuturkan, banyak tetangga dan lainnya tertarik membeli hasil panen kelompok bahkan ikut serta membantu saat panen perdana. “kami senang, karena usaha urban farming di hargai (dibeli) sama banyak orang”, tuturnya

Sementara itu, Ibu Damayani dari Marunda Kepu menjelaskan ia dan kelompok sempat berencana kembangkan potensi pemasaran sayuran organik dari kegiatan urban farming. “Saya sama kelompok sempat terfikir kembangkan usaha pemasarannya, dan nanti hasilnya menjadi Kelompok Usaha Bersama (KUB)” ucapnya.

“Jadi tidak hanya dimakan sendiri oleh kelompok dan keluarganya, tapi ada potensi usaha yang bisa menghasilkan untuk kita”, tambahnya. Hal ini pun serentak diamini oleh ibu-ibu dan kelompok lainnya saat kegiatan diskusi urban farming.

Potensi yang didapat saat ini menurut Ibu Sri adalah, mendirikan stand untuk kegiatan bazar dari Dinas Pertanian, lalu bersama kelompok menjual hasil sayuran saat pasar malam kamis di dekat rusun, kemudian hasil tanaman yang sering kali dibeli sama tetangga.

Ibu Sri dan Ibu Damayani beserta kelompok tiap RT, berencana merundingkan promosi dan pemasaran sayuran yang lebih luas, misalnya ke beberapa pasar, seperti Pasar Besar, Bojong, Jalan Baru dan Pasar Waru. Bahkan jika panen besar akan menjajaki kerjasama dengan super market. “Kita ingin cari orang/figur yang ngerti dan bisa bantu memasarkan hasil sayuran ke luar” ujar Ibu Damayani.

Selanjutnya, kita akan membuat kelompok usaha bersama, sehingga nanti ada semacam uang kas untuk kegiatan simpan pinjam anggota.