• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Aktivitas saat ini

Ratu Jamu Gendong Penggiat Kewirausahaan Sosial

Ibu Lasmi saat mendapat penghargaan individu sebagai penggiat kewirausahaan sosial pada acara Trubus Kusala Swadaya Tahun 2015 di Wisma Hijau Mekarsari Cimanggis Depok Jawa Barat.

Ibu Lasmi saat mendapat penghargaan individu sebagai penggiat kewirausahaan sosial pada acara Trubus Kusala Swadaya Tahun 2015 di Wisma Hijau Mekarsari Cimanggis Depok Jawa Barat.

Yayasan Bina Swadaya mengapresiasi Ibu Lasmi dengan memberi penghargaan individu, sebagai penggiat kewirausahaan sosial pada acara Trubus Kusala Swadaya Tahun 2015 di Wisma Hijau Mekarsari Cimanggis Depok Jawa Barat.

Ibu Lasmi pantas raih gelar tersebut. Sebelumnya, predikat ratu jamu gendong dan duta jamu Indonesia sudah disandang nya, berkat usaha yang kuat menyebarkuaskan jamu gendong dan melakukan berbagai terobosan dan inovasi baru dalam meracik jamu andalannya.

Setelah mampu membangun usahanya di Jakarta, ia merasa tiba gilirannya untuk berbagi ilmu. Kemudian merealiasaikan keinginan tersebut dengan menyebarkan keahliannya dan meregenerasi tukang jamu gendong. “Jamu gendong tak boleh punah, jadi harus berbagi ilmunya” Tuturnya penuh semangat.

Wanita berusia 45 tahun itu punya tekad kuat kurangi kemiskinan dan ciptakan lapangan pekerjaan. Salah satunya mendirikan kelompok jamu gendong “Lestari”. beranggotakan 30 orang. Lestari menurutnya adalah bahasa yang cocok untuk usaha turun temurun ini, agar bisa langgeng hingga ke anak cucu berikutnya.

Kelompok inilah yang menjadi cikal-bakal perkumpulan jamu gendong di Indonesia. Kini anggotanya mencapai 5.000 orang yang tersebar di seluruh tanah air, dan di Jakarta saja terdapat sejumlah 1.500 orang. Jabatan ketua pun di emban oleh nya.

Produk jamu gendong siap saji Lestari diantaranya jamu beras kencur, jamu kunyit asam, jamu temulawak, jamu instan , wedang jahe dan wedang sereh. Seiring jalannya waktu usaha jamu Lestari semakin mendapat tempat di masyarakat yang menjadi menjadi langganan setia.

Beberapa instasi pemerintah dan swasta juga kerap memesan jamu Lestari untuk disajikan sebagai minuman saat penyelenggaraan acara.

Kerang Hijau, Penunjang Ekonomi Marunda Kepu

Kegiatan kupas kerang oleh ibu-ibu di Marunda Kepu

Kegiatan kupas kerang oleh ibu-ibu di Marunda Kepu

Saat assessment tentang livelihood di Marunda, Tim MURIA (Marunda Urban Resilience In Action Alliance) bersama SPIRE Consultant bertemu dengan Slamet. Ia tidak menampik pendapat masyarakat, Marunda Kepu hidup dari kerang hijau.  “Sudah lama saya ajak ibu-ibu disana bantu kupas kerang, dan suaminya bantu saya buatin tambak di laut” cerita Selamet yang dikenal juragan kerang hijau ini.

Lelaki yang sejak umur 19 tahun bergelut dengan kerang ini mengatakan, tiap tahun ia berupaya sisihkan dana membuat tambak baru dengan modal kurang lebih lima juta, sampai sekarang tujuh puluh tambaknya telah dipasang di laut, sehingga ia butuh batuan teman-temannya termasuk menggerakan ibu-ibu untuk kupas kerang.

“Untuk satu tambak aja kita hasilkan 2 ton setahun, tapi dari 70 tambak itu tidak menghasilkan rata-rata sama, namun hasilnya lumayanlah harus dibantu juga” tuturnya.  Saat ini, menurutnya ada enam orang yang bantu dilaut dan lebih dari dua puluh ibu-ibu yang bantu kupas kerang di Marunda Kepu.

Ditempat terpisah RT 8 Marunda Kepu, tampak ibu-ibu dengan tekunnya pegang pisau dan kerang guna kupas ratusan hingga ribuan kerang yang dihasilkan tambak Slamet.  Ada Rita dan Isah ditengah belasan ibu-ibu yang baru hadir saat itu.

Menurut Rita, ibu-ibu di sini di bayar 3.000/kg, kurang lebih sanggup kupas 8 sampai 10 kg tergantung kemampuannya cepat atau lambat. “Lumayanlah saya masih sanggup sampe 10 kg bahkan pernah lebih, tapi tidak semua, ada yang lambat juga karena usia sepuh ” ucap Rita.

Hal senada dikatakan Isah, kupas kerang sesuai kemampuan saja karena tidak ditarget harus berapa kg. “ya tidak ditarget berapa kg, semampunya aje” kata Isah. Bahkan menurutnya, dari segi waktu pun tidak ditentukan, mau datang pagi atu siang tidak masalah, karena terkait kegiatan ibu tumah tangga.

Selanjutnya Rita dan Isah menjelaskan, hasil kupas ibu-ibu nanti ditulis di papan, kemudian dibayar langsung oleh Slamet. Menariknya, upah yang didapat bisa sesuai kesepakatan, artinya jika butuh hari itu juga dibayar langsung, bisa juga tiga, seminggu, atau sebulan supaya upahnya terkumpul banyak baru diambil sesuai kebutuhan. Bahkan Rita, Isah dan ibu-ibu disana bisa pinjam uang pada Slamet, supaya terhindar dari bank keliling (rentenir).

Terkait sampah kerang, Isah mengungkapkan sampahnya diuruk dicampur tanah dan bisa dibangun rumah. Selain itu, dulu sering dibuat aneka kerajinan, tapi programnya tidak berjalan lagi.

Slamet dan Ibu-Ibu di Marunda Kepu mengaku resah, kondisi pantai Marunda tercampur parahnya limbah, hingga tiap tahun ada saja tambak yang tidak bisa panen karena diterjang limbah dan rusaknya kualitas kerang hijau. Belum lagi. Isu-isu reklamasi pantai Marunda yang dikhawatirkan menggerus usahanya. Mereka menyuarakan, pemerintah harus hentikan perusahaan buang limbah ke pantai dan jangan ada gusuran, karena ditakutkan mematikan usaha mereka

Ingin Bangun Bank Sampah Seperti di Cilincing

Sampah-sampah yang dikumpulkan oleh pengepul

Sampah-sampah yang dikumpulkan oleh pengepul

Pengelolaan sampah berupa bank sampah di Marunda, sebetulnya sudah dilakukan dua tahun lalu dengan nama Bank Sampah Sejatera. Saat FGD (Focus Group Discussion) di RT 5, warga justru terinspirasi oleh program bank sampah di Cilincing yang ditayangkan televisi.

Ibu Darkini dari RT 7 mengatakan, ia sering lihat liputan bank sampah di Cilincing dan warga berdatangan menukar sampahnya lalu mendapatkan uang. “Ibu-ibu di Cilincing pada bawa sampah trus dapet duit, ditabung buat sekolah atau bayar listrik” cerita Ibu Darkini.

Ibu yang tinggal di Marunda Empang ini melanjutkan, ia melihat di Cilincing kelompoknya sangat aktif sehingga masyarakat pun banyak tertarik ikut kegiatan. Sebaliknya Ibu Darkini merasa bank sampah Marunda tidak berjalan maksimal, mungkin hanya sebagian RT saja, tidak menyeluruh di RW 7. Kemudian hanya Marunda Rusun saja yang aktifnya.

Senada diungkapkan Ibu Sofiah di RT 3. Ia sering dengar bank sampah di Cilincing menghasilkan uang dan masyarakatnya banyak tertarik gabung. “Saya dengar dari teman di Cilincing itu rame pada ikut bank sampah”, kata Ibu Sofiah.

Namun menurut Ibu Sofiah, RT 3 Marunda Mesjid masih ada kesadaran warga untuk pengelolaan sampah. Di tempat saya masih ada iuran sampah warga Rp 5.000, lalu sukarela kumpulkan sampah di bak kemudian di bakar” tuturnya.

Bicara mengenai potensi pengelolaan sampah, dalam diskusi disepakati untuk bangun bank sampah di tiap RT di RW 7 dengan kepengurusan langsung dari warga dan dipantau secara bersama-sama. Kemudian perlunya pengelolaan sampah yang tidak berlaku di bank sampah, sehingga sampah tidak lagi berserakan dan mengotori lingkungan.

Namun jadi perhatian agar tidak ada potensi konflik, keberadaan pemulung sampah atau orang Marunda bilang “cilong”. Begitru juga diwilayah RT 4, 5 dan 8 ada pengepul sampah. Artinya kita ajak dan duduk bersama guna membuka wawasan mengenai keuntungan bank sampah, supaya kehadiran bank sampah kedepan tidak mengkhawatirkan seakan mematikan usaha mereka.

Harapan kedepan, kegiatan bank sampah bisa berjalan sesuai harapan dan yang terpenting bagi warga Marunda perlunya lahan yang legal untuk tampung sampah (TPS). Selama ini pengajuannya sukar dilaksanakan, sehingga perlu di disampaikan kembali kepada pemerintah terkait.

Hasil Uji Coba SRI Organik, Bumi Lestari Panen Raya Padi

Asosiasi Pertanian Bumi Lestari panen raya padi dari hasil uji coba sri organik jajar legowo

Asosiasi Pertanian Bumi Lestari panen raya padi dari hasil uji coba SRI organik jajar legowo

Asosiasi pertanian Bumi Lestari Sabtu (21/11) menggelar panen raya padi dari hasil uji coba System of Rice Intensification (SRI) organik jajar legowo di Desa Begadon, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Uji coba ini dilakukan di lahan seluas 1.000 meter peresegi.

Sakiran selaku ketua asosiasi mengatakan, panen raya merupakan program yang dilaksanakan bersama Pusat Inkubasi Bisnis (PIB) Bojonegoro dampingan Bina Swadaya.

Menurutnya, perlakuan dengan sistem SRI organik jajar legowo ini, menggunakan pupuk kandang 800 kg, MOL sebanyak 4 liter (2 kali aplikasi), pupuk susulan 60 kg (pupuk kandang) + abu kayu bakar 50 kg, dan matun/penyiangan dilakukan selama 2 kali. Kemudian untuk Kadar Air 20 %, Kotoran 6 % dengan harga jual gabah Rp4.800/kg.

“Hanya saja, karena melihat kondisi cuaca panen menjadi maju sampai 10 – 15 hari. Sehingga umur panen padi varietas inpari 14 saat panen menjadi 100 HST (Hari Setelah Tanam),” tuturnya.

Sakiran menambahkan, dari perlakuan organik ini menghasilkan panen tiap petakan sebanyak 820 kg (GKS) dan hasil panen real-nyal 669 kg (GKS). Kemudian kadar Air 20 %, Kotoran 6 % dengan harga jual gabah Rp4.800/kg.

Tenaga Ahli Pertanian Bina Swadaya Dwi Prayitno yang saat panen mendampingi menjelaskan, saat ini anggota asosiasi Bumi Lestari sejumlah 63 orang yang tersebar di desa Ngraho, Begadon, Katur, Cengunklung‎.‎

Ia berharap, pada musim tanam petani ikut pola tanam SRI Organik Jajar Legowo. Karena, metode ini dinilai lebih ekonomis dan menguntungkan petani. “‎Biaya produksi padi organik ini dapat menekan biaya produksi sampai 40 %, karena pupuk berupa kompos, MOL, PGPR, pestisida alami dibuat sendiri,” tuturnya.

MURIA EXPO: Apresiasi Terhadap Potensi dan Kapasitas Masyarakat

Kegiatan MURIA Expo di Rumah si Pitung, Marunda Jakarta Utara

Kegiatan MURIA Expo di Rumah si Pitung, Marunda Jakarta Utara

Acara yang dihelat di Rumah si Pitung, Selasa (22/12) merupakan gelaran potensi dan kapasitas masyarakat yang sudah dihasilkan bersama oleh warga tiap RT di RW 07 dan lembaga-lembaga yang terlibat di dalam MURIA.

Dalam sambutannya, Program Manager Ikasari memberikan apresiasi terhadap kegiatan kelompok seperti kelompok ibu-ibu yang menginisiasi kegiatan urban farming, lalu kelompok pemuda menginisiasi pelatihan pemetaan yang dibagi dua tahap yakni pengumpulan data menggunakan OpenSteetMap dan   pengolahan data dengan QGIS dan InaSAFE.

Acara dengan tema “Gelaran Potensi dan Kapasitas Masyarakat dalam Kolaborasi MURIA” meghadirkan pertunjukan seni Tari Betawi, simulasi rencana kontinjensi banjir RW 07, booth tanaman hasil kegiatan urban farming dan booth peta hasil kegiatan pelatihan pemetaan.

Kelompok ibu-ibu merasa menambah wawasan kemampuan bertanam, dan manfaat yang diharapkan adalah warga bisa lebih berhemat untuk belanja sayuran dan tentunya dengan kualitas yang baik. Bahkan para tetangga ada yang membeli hasil panen kelompok urban farming.

Sementara itu, menurut kelompok pemuda hasil kegiatan pemetaan juga memuaskan. Peta-peta RT hasil kegiatan dicetak ukuran A2 dan ditampilkan di expo ini agar masyarakat dapat melihat hasilnya. Selain ditampilkan disini, peta-peta ini juga dicetak dan ditaruh di lokasi-lokasi strategis tempat dimana warga senang berkumpul.

Kini peta RW 07 Marunda yang detail  sudah dapat diakses oleh siapa saja, mulai dari masyarakat, pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya. Diharapkan dari hasil pemetaan ini dapat menyatukan dan memberikan informasi yang terkait kepada para pemangku kepentingan dalam membangun ketahanan masyarakat perkotaan.

Bangun Ketangguhan Perlu Libatkan Berbagai Sektor

Manager Program Ikasari saat memberi sambutan di Acara MURIA EXPO

Manager Program Ikasari saat memberi sambutan di Acara MURIA EXPO

Saat dialog kolaborasi stakeholder yakni Pemerintah, Swasta dan Masyarakat di Rumah Si Pitung Marunda, Program Manager BSK Ikasari menuturkan, Program Marunda Urban Resilience in Action (MURIA) menawarkan pendekatan multi-pihak yang melibatkan berbagai sektor yang berbeda, lalu diintegrasikan dengan pendekatan penguatan ketangguhan yang dikelola masyarakat sendiri (community managed).

Menurutnya, jika hubungan di masyarakat seperti kelompok-kelompok yang ada dan kuat maka ketangguhan dapat tercapai. Tapi kita dihadapkan pada peraturan-peraturan. Apabila peraturan tidak mendukung maka ketangguhan tidak dapat tercapai. “MURIA akan membangun platform yang terdiri dari berbagai pihak untuk mendukung ketangguhan masyarakat”, tutur Ikasari.

Pelibatan multi-pihak ini termasuk kerja untuk agenda bersama, sehingga tercipta solusi saling menguntungkan yang meningkatkan ketangguhan di Marunda. Selain itu, team MURIA akan membawa keahlian beragam pada bidang perencanaan perkotaan, pelibatan multi-pihak, pengurangan risiko bencana, manajemen air dan lingkungan hidup, sanitasi, para inovator usaha kecil dan sumber penghidupan.

Sementara itu, hasil kajian (FGD) dengan warga tiap RT di RW 7  terpetakan dengan kerangka resilience, dimana ada ancaman seperti banjir, krisis air (akses air bersih), drainase, pengelolaan sampah, polusi, limbah, kondisi ekosistem berubah ketika terjadi pembangunan-pembangunan dan lainnya.

MURIA adalah kolaborasi antara Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS), yang merupakan afiliasi dari PT East West Seed Indonesia, dengan Bina Swadaya Konsultan (BSK), Karina dan Ford Foundation, guna mengembangkan potensi dan kapasitas masyarakat di Marunda kawasan pesisir Jakarta Utara.

Fokus kegiatan MURIA adalah membangun peluang untuk pengembangan kewirausahaan bekerjasama dengan private sector dan menciptakan lapangan pekerjaan melibatkan perempuan dan anak muda dalam pengambilan keputusan menggunakan pendekatan multi stakeholder.

Bumi Lestari Kembangkan Padi Organik Jajar Legowo

Pengamatan pola tanam padi dengan sri organik jajar legowo

Pengamatan pola tanam padi dengan sri organik jajar legowo

Kelompok Tani (Poktan) Bumi Lestari berhasil mengembangkan tanam padi organik dengan sistem tanam jajar legowo di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro. Kelompok ini melakukan ujicoba pola tanam padi organik jajar legowo di lahan sawah seluas seperempat hektare.

Sigit Agustiyono Team Leader PIB (Pusat Inkubasi Bisnis) Bojonegoro menjelaskan, sistem jajar legowo adalah cara menanam padi dengan jarak tanam 10 meter x 20 meter. Benih padi yang ditanam merupakan benih padi pilihan. Selain itu, selama masa tumbuh tanaman diberi pupuk organik.

Pola tanam dengan jajar legowo ini menghasilkan bulir padi lebih mentes, tidak mudah terserang hama penggerek tanaman, dan juga menghasilkan gabah yang berkualitas. “Setelah 90 hari tanaman padi ujicoba jajar legowo ini sudah bisa dipanen dan hasilnya bagus,” jelas Sigit.

Semetara itu, Salim anggota kelompok Bumi Lestari mengatakan sistem ini menambah wawasan dan pengalamannya. “Saya bisa belajar dan mendapatkan pengalaman baru dari sistem tanam jajar legowo ini. Selain itu, saya juga belajar memanfaatkan sumber daya dari lingkungan sekitar,” ujar Salim.

Kelompok Tani Bumi Lestari merupakan kelompok binaan PIB yang selama ini didampingi Bina Swadaya, yang fokus pada pendampingan pertanian, peternakan, dan perikanan

Bambang Ismawan Dianugerahi Lifetime Achievement Award

Bambang Ismawan raih Lifetime Achievment Award dari Syamsi Dhuha Foundation dalam ajang Anugerah Jawara Wirausaha Sosial Bandung (AJWSB) 2015

Bambang Ismawan raih Lifetime Achievment Award dari Syamsi Dhuha Foundation dalam ajang Anugerah Jawara Wirausaha Sosial Bandung (AJWSB) 2015

Pendiri Yayasan Bina Swadaya Bambang Ismawan, mendapatkan penghargaan Lifetime Achievement Award dari Syamsi Dhuha Foundation, tepat di Hari Pahlawan 10 November 2015 dalam ajang  Anugerah Jawara Wirausaha Sosial Bandung (AJWSB) 2015 di Auditorium Balai Kota Bandung.

Bambang Ismawan menurut mereka adalah pelopor berdirinya LSM Yayasan Bina Swadaya, yang cikal bakalnya sudah dimulai sejak tahun 1967. Pada saat didirikan bernama Yayasan Sosial Tani Membangun.

Komitmen Bambang Ismawan tak diragukan lagi, sejak masih menjadi mahasiswa FE UGM hingga kini telah membawahi sekitar 17 perusahaan terbatas yg bergerak dalam lima bidang, yakni keuangan mikro, agribisnis, komunikasi pembangunan, wisata alternatif, dan pemberdayaan masyarakat. Yayasan Bina Swadaya telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 7000 pimpinan LSM pemberdayaan masyarakat, memiliki omzet lebih dari 20 milyar/tahun dan mempekerjakan lebih dari 1000 orang karyawan.

Ditempat terpisah saat mengisi acara di Sankalp Forum. Bambang Ismawan mengapresiasi penghargaan yang diberikan kepadanya. “Bagi saya ini kehormatan bagi Bina Swadaya. Saya dengan Bina Swadaya tidak mungkin dilepaskan, karena begitu saya, bahkan sebelum saya selesai studi saya sudah memutuskan akan bergabung dengan gerakan pemberdayaan”, ucapnya.

Bambang-raih AJWSB 2015

AJWSB adalah kompetisi Social Preneurs (SP) yg digagas Syamsi Dhuha Foundation untuk berkembang menjadi Venture Philanthropy Organization bekerjasama dengan BaSIC (Bandung Social Innovation Circle) & didukung oleh Pemerintah Kota Bandung. Kompetisi ini terbuka bagi SP yg miliki ide usaha atau usaha yg telah berjalan yg berikan dampak atau perubahan positif bagi warga Kota Bandung khususnya & Jawa Barat pada umumnya.

Para jawara yang berhasil lolos dari beberapa tahapan seleksi sejak awal yg diikuti 293 pendaftar, disaring menjadi 50 nominator & kemudian terpilih 12 finalis. Proses penilaian serta seleksi yang ketat telah dilakukan dewan juri didukung oleh fasilitator dari berbagai kalangan, diantaranya Ari Sutanti (British Council), Romy Cahyadi (UnLtd Indonesia), Dewi Meisari (UKM Center Universitas Indonesia) & Juwanda (Dewan Smart City Kota Bandung).

Salah satu tahapan yg harus dilalui para finalis adalah lakukan penggalangan dana dari masyarakat (crowd funding). Panitia melakukan kunjungan untuk monitoring kegiatan operasional para finalis di daerahnya masing-masing. Dampak sosial dari usaha yg dijalankan merupakan faktor penting dari kriteria penilaian, selain faktor-faktor lainnya seperti pengelolaan & perencanaan pengembangan usaha yangg dapat jaga keberlangsungan usaha untuk tetap pertahankan misi sosialnya.

PIB Kembangkan Budidaya Kroto

Ifa melakukan pengamatan terhadap perkembangan telur kroto

Ifa melakukan pengamatan terhadap perkembangan telur kroto

Pusat Inkubasi Bisnis (PIB) Bojonegoro mengembangkan budidaya semut rangrang (kroto) sebagai alternatif sumber penghasilan keluarga.

Ifa Zumrotun Naimah (34), merupakan salah satu penerima manfaat program budidaya kroto. “Saya senang, karena sekarang dapat membantu perekonomian keluarga dengan berjualan kroto. Hasil beternak kroto juga cukup memuaskan. Kami dapat menjual hasil panen kroto ke Asosiasi Rangrang Abang dengan harga Rp 250.000 per kilogram” ujar Ifa.

Ifa menambahkan, kini sudah ada saluran pemasaran kroto kami ke sebuah koperasi di Bogor yang memberi kuota untuk memasok kroto sebanyak 100 kilogram per hari. “Sangat menjanjikan”, ucap Ifa.

Sejak mengikuti program di bulan Maret 2015, wanita asal Desa Ngraho itu mendapat pelatihan meliputi teori Kroto Bon Bogor, tempat perkembangbiakan kroto, pakan dan studi pengamatan atau analisa terhadap perkembangan telur, jenis-jenis kroto hingga pengamatan suhu yang cocok untuk beternak kroto.

Saat ini Ifa menjadi bendahara Asosiasi Rangrang Abang di Desa Sudu. Asosiasi Rangrang Abang beranggotakan 30 orang dari empat desa yaitu Desa Katur, Begadon, Sudu dan Ngraho di Kabupaten Bojonegoro.

Saat Pameran Bojonegoro Expo, Sigit Agustiyono Team Leader PIB mengatakan, kroto merupakan salah satu jenis usaha budidaya yang sedang di kembangkan, Harapannya, kehadiran koloni ini bisa menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat untuk menggeluti budidaya kroto sebagai alternatif sumber penghasilan keluarga.

PIB merupakan perkumpulan yang mewadahi berbagai asosiasi usaha di Bojonegoro, saat ini sudah ada 8 asosiasi usaha yang masuk menjadi anggota di PIB salah satunya adalah asosiasi usaha budidaya kroto Rang Rang Abang yang bergerak dibidang usaha budidaya kroto.

PIB salah satu rangkaian program pemberdayaan ekonomi masyarakat, dibentuk untuk mewadahi kegiatan kewirausahaan di Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. PIB menjadi upaya untuk meningkatkan  perekonomian sekaligus menumbuhkan kemandirian masyarakat.

Membangun Spirit Kewirausahaan melalui PIB

Sigit team leader PIB menunjukan usaha produk kroto pada pengunjung saat Pameran di Bojonegoro Jawa Timur

Sigit Agustiyono Team Leader PIB menunjukan usaha produk kroto pada pengunjung saat pameran di Bojonegoro Jawa Timur

Pusat Inkubasi Bisnis (PIB) dibentuk untuk mewadahi kegiatan kewirausahaan masyarakat di Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. PIB menjadi upaya pengembangan guna meningkatkan perekonomian sekaligus menumbuhkan kemandirian masyarakat.

Project Supervisor Bina Swadaya Ayu Bulan menuturkan, program ini dikembangkan untuk memfasilitasi aspirasi masyarakat yang ingin belajar usaha dan mengembangkan usahanya mulai dari skala mikro, kecil hingga menengah.

Selain itu, PIB di gagas sebagai sarana memudahkan kelompok usaha masyarakat dalam pengembangan usaha, kegiatan pelatihan teknis bagi pelaku usaha, pengembangan jaringan, dan pemasaran produk.

Sigit Agustiyono Team Leader PIB menjelaskan, PIB sbg wahana pembelajaran bagi wirausaha kecil-menengah & pemula. “Program ini sebagai learning untuk menjadi wirausaha yang mandiri dan profesional di Bojonegoro” jelas Sigit.

Kegiatan ini ditujukan juga untuk mempercepat capaian program PMM (Pengembangan Mata pencarian Masyarakat), yang saat ini tengah berjalan, serta menampung dan menumbuhkan inisiatif dan peluang usaha masyarakat. Untuk pelaksanaanya pun PIB akan selalu terintegrasi dengan kegiatan PMM.

Selain itu, kegiatan PIB akan menggandeng tokoh penggerak, agar terdapat sinergi yang saling menguntungkan dan terbukanya kesempatan bagi para calon wirausaha untuk belajar dan ikut serta dalam kegiatan usaha yang ditumbuhkan.

Pengembangan usaha PIB akan difasilitasi melalui strategi pengembangan model supply-chain yang dapat menghubungkan kepentingan pelaku usaha dan proses akselerasi baik dari hulu (production) sampai hilir (marketing).

Selanjutnya, untuk mengakomodir kegiatan PIB diadakan pelatihan teknis berupa marketing, produksi (packaging), suppy chain management, keuangan, pertanian, peternakan dan manajemen kelembagaan. Membangun investasi bisnis, dalam bentuk kerja sama dan penanaman modal kepada usaha-usaha yang memiliki potensi. Kemudian kegiatan lokakarya, pameran produk dan temu usaha kalangan wirausahawan lokal dan regional guna membangun jaringan.