• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Aktivitas saat ini

Inspirasi Pemberdayaan dari Bupati Bojonegoro

Kunjungan Bupati Bojonegoro Suyoto ke Toko Trubus Bina Swadaya, ditemani Pembina Bina Swadaya Bambang Ismawan

Kunjungan Bupati Bojonegoro Suyoto ke Toko Trubus, ditemani Pembina Bina Swadaya Bambang Ismawan

Dalam kunjungannya ke Bina Swadaya Kamis (20/8) di Wisma Hijau Cimanggis Depok, Bupati Bojonegoro Suyoto membahas pola pemberdayaan yang ia kembangkan di Bojonegoro. Sejumlah hal startegis diungkapkan guna mengubah citra Bojonegoro sebagai salah satu kabupaten termiskin di Jawa Timur.

Kang Yoto sapaan akrab Bupati menuturkan, banyak cara dilakukan supaya dapat memberdayakan warga lebih produktif. Terkait kebutuhan dana, setiap desa mendapat bantuan akses keuangan untuk pelaksanaannya.

Aspek pendidikan, Kang Yoto menjadikan sekolah pusat pemberdayaan masyarakat. Ia menginisiasi program sekolah bermitra dengan desa tertentu sehingga terjadi transfer pengetahuan dari sekolah ke warga desa. “Saya ingin betul – betul sekolah menjadi sentra dari gerakan pemberdayaan” ucap Kang Yoto.

Salah satu cara membangun Bojonegoro adalah melalui sekolah. Ia akui banyak sekolah punya lahan kosong yang bisa digunakan sebagai gerakan membangun penghijuan. “Saya lihat sekolah ini banyak lahan kosong, saya kan selalu baca Trubus, kalau saya baca Trubus saya selalu punya ide. Ibu Yoto (istri) mempunyai gerakan smart school bagaimana memaksimal mungkin lahan yang ada di sekolah” ucapnya.

Selanjutnya Kang Yoto menggulirkan program optimalisasi lahan pekarangan untuk atasi gagal panen akibat kerap banjir. Menurutnya, musibah banjir yang sering menggagalkan produksi pangan diatasi dengan konsep living harmony with flood.

“Jadi pengaturan pola tanam disesuaikan dengan periode banjir. Sebelum banjir sudah panen, setelah banjir mulai tanam lagi,” ujar Bupati kelahiran 17 Februari 1965 ini.

Gagasannya lainnya, di sejumlah wilayah dibuatkan embung alias penampungan air untuk atasi bencana kekeringan. Luasnya 1 hektare per embung dengan target 500 embunng sampai 1.000 embung.

Selain itu, dijadikannya kebun warga sebagai lokasi argowisata untuk upaya promosi yang selama ini sulit dipasarkan serta mendongkrak harga jual di tingkat petani. Salah satunya adalah pengembangan kebun belimbing warga.

Pertemuannya dengan Bina Swadaya menurut Kang Yoto ingin mengenal lebih jauh tentang kegiatan Bina Swadaya dan produk-produknya. Selama ini, ia kenal Majalah Trubus sebagai produk Bina Swadaya dan ia sering membacanya, karena diakui Majalah Trubus lebih kearah pemberdayaan.

Bagi Kang Yoto, menjadi bupati sebuah jalan untuk melakukan pemberdayaan. Inspirasi dari Bupati inilah menjadi masukan bagi Bina Swadaya untuk program pemberdayaan sebagai pengabdian terhadap masyarakat.

Saat ini, Bina Swadaya menjalankan program livelihood melalui pengelolaan sumber daya alam secara mandiri dan berkelanjutan di Bojonegoro dan Tuban. Harapannya, mampu meningkatkan penghidupan masyarakat dan menyentuh setiap kebutuhan yang sesungguhnya dirasakan masyarakat, sehingga saat program dilaksanakan masyarakat ikut memiliki dan merasakan hasil dari kegiatan program.

Dukungan Bupati TTS di Pameran Membangun Ketangguhan

Bupati TTS (kanan) bersama Ketua DPRD saat panen sayur organik di demplot Desa Noebesa

Bupati TTS (kanan) bersama Ketua DPRD saat panen sayur organik di demplot Desa Noebesa

Kamis (9/7) lalu, menjadi hari penting keempat desa dampingan Bina Swadaya Konsultan (BSK). Sebuah pameran yang merupakan ajang publikasi model sistem pertanian organik terintegrasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB), adaptasi perubahan iklim dan restorasi manajemen ekosistem diselenggarakan di dua desa,  mewakili Kecamatan Amanatun Selatan dan Kecamatan Amanuban Tengah, yaitu di Oinlasi dan Noebesa.

Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) Paulus VR Mela yang hadir dalam pameran mengatakan, pemerintah terus mendukung kegiatan pendampingan BSK, sesuai dengan program yang berkaitan dengan ketangguhan bencana, pertanian dan lainnya melalui SKPD terkait. “Saya harap empat desa yang dapat ilmu, supaya jadi pendamping untuk desa lainnya, sehingga kedepan ilmu itu dimiliki semua masyarakat TTS”. harap Bupati.

Bupati TTS mendorong masyarakat menggunakan potensi kapasitas yang mereka miliki saat ini untuk terus berupaya melanjutkan program dengan memanfaatkan dana dari pemerintah dan dari dana desa. Salah satunya, dengan mendorong masyarakat untuk bergabung bersama Gapoktan agar pendanaan mereka ke depannya lebih terjamin.

Selain itu, hadir juga Ketua DPRD Jean Neonufa, beberapa SKPD terkait, LSM dan pelaku usaha yang selama ini turut bekerja sama melakukan kegiatan Program for Resilience. Kehadiran pemerintah, LSM, dan pelaku usaha dimaksudkan untuk menyatukan keyakinan agar terjalin  kemitraan yang saling berhubungan dan mendukung satu sama lain.

Dalam acara tersebut, satu desa menyiapkan lima lokasi pameran berbeda yang masing-masing menampilkan satu praktik yang berkaitan dengan pertanian organik, yaitu lokasi proses pembuatan kompos, lokasi pembuatan pupuk cair, lokasi pembuatan pestisida nabati, lokasi pembibitan, dan lokasi tempat diterapkannya replikasi 3R (Recharge, Retention, Reuse).

Lokasi tersebut nantinya dikunjungi oleh kelompok, terdiri peserta dari SKPD yang hadir untuk melihat sendiri bagaimana proses kelima hal tersebut dilakukan.

Setiap lokasi terdapat satu pemandu yang merupakan anggota FPRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana) dan petani motivator KSM yang bertugas menjelaskan proses-proses pembuatan kelima hal itu. Para pemandu patut diapresiasi, karena mampu menjelaskan proses sistem pertanian organik dengan penuh antusias kepada peserta pameran pertanian.

Tingkatkan Ekonomi Masyarakat Melalui Pertanian Organik

Petani motivator Desa Noebesa memberikan hasil panen pertanian organik pada Ikasari

Petani motivator Desa Noebesa Agustinus Bety memberikan hasil panen pertanian organik pada Ikasari

Pertanian organik telah menampakan keberhasilan pada upaya peningkatan ekonomi masyarakat di Desa dampingan yakni Noebesa, Oinlasi, Nakfunu, dan Netutnana di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam pelaksanaannya, sistem pertanian organik diintegrasikan dengan tiga pendekatan, yaitu Pengurangan Risiko Bencana (PRB), adaptasi perubahan iklim dan restorasi manajemen ekosistem. Kemudian dilaksanakan melalui pendekatan komunitas dengan mengorganisasikan masyarakat dalam Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di setiap desa.

Manajer Program BSK Ikasari menuturkan, implementasi sistem pertanian organik ini guna menjaga kesehatan tanah dan tanaman melalui proses daur ulang limbah pertanian, kotoran ternak dan tidak memakai pupuk anorganik serta pestisida kimia.

Lanjut Ikasari, teknologinya sederhana dan mudah dikuasai masyarakat, sehingga bisa mengusahakan sendiri kebutuhan pupuk dan obat-obatan yang bahan bakunya diambil di lingkungan sekitar. Dengan pengelolaan pertanian organik yang ramah lingkungan, akan menjamin keberlajutan pertanian untuk tingkatkan sosial, ekonomi serta ketangguhan pangan masyarakat.

Kepala Desa Noebesa Danial Bau yang menghadiri Pameran Ketangguhan Masyarakat mengucapkan rasa terima kasih, karena program PfR (Partner for Resilience) dapat meningkatkan ekonomi masyarakat melalui pertanian organik. Danial menambahkan, kini pengetahuan petani semakin baik dan bahkan telah mampu membuat pupuk organik sendiri.

Selama ini, masyarakat NTT identik dengan sistem pertanian tebas bakar yang nyatanya sangat merugikan. Banyak pohon yang ditebang dan juga dapat merusak tanah. Dengan demikian, persiapan lahan menggunakan sistem terasering ini turut mendorong upaya konservasi.  Terasering mampu mengurangi potensi terjadinya tanah longsor.

Selanjutnya penerapan praktik 3R (Recharge, Retention, Reuse), yaitu memaksimalkan daerah tangkapan air untuk meningkatkan kuantitas air tanah di lahan pertanian. Dengan diterapkannya sistem 3R cadangan air dalam tanah dapat meningkat, sehingga mampu meminimalisir bencana kekeringan yang selama ini mengancam sebagian besar wilayah NTT.

Pertanian Organik sebagai Pertanian Berkelanjutan

KSM di Desa Nakfunu sedang membuat Pupuk Kompos

Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di Desa Nakfunu melakukan proses membuat pupuk kompos

Pada prinsipnya, pertanian organik sejalan dengan arah kebijakan Pembangunan Pertanian Nasional yakni dalam upaya menuju pembangunan pertanian yang berkelanjutan (sustainable agriculture). pertanian organik dikembangkan sebagai kegiatan produktif berkelajutan yang ramah lingkungan.

Banyak keuntungan yang didapat dari pertanian organik ditinjau dari, segi peningkatan kesuburan tanah dan peningkatan produksi tanaman, dari aspek lingkungan dalam mempertahankan ekosistem, sedangkan dari aspek ekonomi tidak perlu mengimpor pupuk, bahan kimia pertanian serta memberi banyak kesempatan lapangan kerja juga meningkatkan pendapatan petani.

Penerapan pertanian organik dampingan BSK pun telah memperlihatkan keberhasilan pada upaya peningkatan ekonomi masyarakat serta upaya integrasi pada program pengurangan risiko bendana, adaptasi perubahan iklim dan restorasi manajemen ekosistem yang sudah bertahun-tahun petani harapkan dan serukan. Sehingga kedepannya akan menjadi pertanian yang berkelanjutan dalam segi ekonomi dan pertanian yang ramah lingkungan.

Kegiatannya dilakukan di empat desa yakni Noebesa, Oinlasi, Nakfunu, dan Netutnana.  Permulaannya mempersiapkan lahan, dengan cara membuat bedeng-bedeng di lahan datar dan terasering di lahan yang miring.

Selama ini, masyarakat NTT identik dengan sistem pertanian tebas bakar yang nyatanya amat merugikan karena banyak pohon yang ditebang dan juga dapat merusak tanah. Dengan demikian, persiapan lahan menggunakan sistem terasering ini turut mendorong upaya konservasi.  Kemudian para petani mulai melakukan penyemaian dengan memaksimalkan bahan lokal seperti daun pisang karena harga yang terjangkau dan tersedia di daerah mereka.

Supaya tanaman terlindung dari serangan hama, para petani tidak menggunakan pestisida kimia, tetapi pestisida nabati yang mereka buat sendiri dari kombinasi dedaunan, seperti daun pepaya, daun mahogani dan daun gamal yang dicampur air dengan takaran yang tepat. Penggunaan pestisda ini diyakini dapat melindungi kesuburan tanah dan tidak membuat tanah rusak. Tak kalah penting, penggunaan pestisida nabati ini menghasilkan tanaman yang lebih sehat dan segar.

Sementara itu, untuk menyuburkan tanaman, mereka tidak lagi menggunakan pupuk kimia, tetapi bahan alami seperti EM4 dan pupuk bokashi. Pupuk EM4 dan pupuk bokashi dapat dibuat dengan mudah menggunakan bahan yang ada di sekitar mereka. Kemudian petani juga bisa membuat pupuk cair dari sampah organik dan kotoran ternak. Kini mereka dapat menghasilkan panen dengan kualitas terbaik tanpa biaya penyemaian dan pemeliharaan yang terlalu tinggi.

Mengungkap Krisis NGOs Indonesia

NGOs Indonesia

Krisis NGOs di Indonesia, berawal  dikuranginya bantuan lembaga-lembaga donor kepada NGOs Indonesia. Menurut Yayasan SatuDunia, mungkin sebagian lembaga donor menilai, Indonesia telah relatif demokratis dan maju secara ekonomi.

Lembaga donor mengalihkan bantuannya ke negara-negara lain yang dinilai belum demokratis secara politik dan belum maju secara ekonomi. Maju secara ekonomi bisa jadi berarti liberal menurut lembaga donor.

Selain itu, di tengah ketergantungan NGOs Indonesia terhadap lembaga donor, tentu dikuranginya bantuan tersebut dapat mengancam keberlanjutan organisasi. Bahkan kita menilai tidak jarang ada NGOs yang mati suri tapi tidak sedikit pula yang sudah mati.

Diskusi yang digelar SatuDunia ini terungkap, kondisi krisis juga dipengerahui dan diakibatkan oleh gagalnya NGOs Indonesia untuk memenuhi ekspektasi donor, kurang beradaptasi dan berinovasi advokasi terhadap kebijakan lembaga donor/pemerintah, terbatasnya akses ke lembaga donor.

Selanjutnya, tuntutan advokasi berbasis evidence dari lembaga donor menjadi isu penting dalam pendanaan. Bagi NGOs yang mampu menjawab tuntutan tersebut akan lebih mudah akses ke lembaga donor dan peluangnya lebih besar untuk mendapatkan bantuan.

Akhir diskusi, muncul sebuah pernyataan yang perlu disikapi dan menjadi perhatian bersama, bagaimana NGOs Indonesia bisa membuat program advokasi bagi kelas menengah untuk melakukan gerakan perubahan sosial atau berperan sebagai motor gerakan advokasi.

kegiatan diskusi “Kedai Pengetahuan” dengan tema Krisis NGOs Indonesia, Kemana Arah Gerakan Sosial? Dihadiri lembaga dari Yayasan SMERU, Plan International, The Asia Foundation, Bina Swadaya, Yayasan IBU Bandung, SDLT Aceh (Suara Danau Laut Tawar) di Café Retro, Kompleks Bidakara, Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (5/8).

Dialog Terbuka Bersama Mubins

Tim Mubins diskusi terbuka bersama Bina Swadaya di Wisma Janakarya, Jl Gunung Sahari III Jakarta Pusat

Tim Mubins diskusi terbuka bersama Bina Swadaya di Wisma Janakarya, Jl Gunung Sahari III Jakarta Pusat

Mubyarto Institute (Mubins) kunjungi Bina Swadaya guna melakukan dialog terbuka, saling memberi informasi dan mencari keterkaitan untuk kerjasama secara strategis dan efektif di Wisma Janakarya dan Wisma Hijau (15-16/6).

Datang dari Yogyakarta, Tim Mubins terdiri dari Rian, Anto, Toni, Budi, Junet dialog startegis terkait membuka jaringan dan kerjasama. Kemudian belajar banyak mengenai kegiatan Bina Swadaya.

Toni berharap pertemuan ini bisa belajar dari Bina Swadaya guna menghasilkan suatu gerakan, aksi, serta kerjasama tentang pengembangan yang berguna bagi masyarakat pedesaan

Sementara itu, Bambang Ismawan mengapresiasi pertemuan dengan Mubins. “Kami sangat bahagia menyaksikan sikap optimis yang terpancar dari wajah – wajah berseri diantara pegiat Mubins ketika menutup acara dialog strategis antara Mubins dan Bina Swadaya”, ucapnya.

Mubins di bawah naungan Yayasan Mubyarto telah 5 tahun berkiprah melanjutkan pemikiran dan perjuangan Profesor Mubyarto, dalam mengembangkan Sistem Ekonomi Pancasila dan memberdayakan ekonomi rakyat Indonesia. Hal tersebut dilakukan melalui berbagai kajian, pelatihan, advokasi kebijakan, dan berbagai program pemberdayaan di lapangan.

Mubins didirikan guna menghimpun, mengkaji, mengkembangkan, dan merealisasikan gagasan dan pemikiran Mubyarto baik di bidang keilmuan maupun praksis sosial.

Dalam upaya “Melanjutkan Mubyarto” tahun 2015 ini beberapa agenda dan produk pemikiran atau pemberdayaan yang akan digulirkan Mubyarto Institute dengan dukungan para mitra diantaranya adalah, sekolah Mubyarto, kuliah terapan ekonomi Pancasila, kuliah Mubyarto, sekolah pasar, Perguruan Tinggi Desa (PTDes), sekolah hijau, desa pintar, sekolah koperaasi, pengukuran indeks demokrasi ekonomi.

Pertanian Organik Terintegrasi PRB, Adaptasi Perubahan Iklim dan Restorasi Manajemen Ekosistem

Petani melakukan pengamatan iklim secara sederhana, salah satunya untuk menentukan kapan kegiatan pertanian dimulai dan tanaman apa yang cocok ditanam sesuai musim

Petani di Desa Netutnana melakukan pengamatan iklim secara sederhana, salah satunya untuk menentukan kapan kegiatan pertanian dimulai dan tanaman apa yang cocok ditanam sesuai musim

Pengelolaan pertanian organik telah berdampak pada upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB), adaptasi perubahan iklim dan restorasi manajemen ekosistem.

Salah satunya menerapkan praktik 3R (Recharge, Retention, Reuse), yaitu praktik memaksimalkan daerah tangkapan air untuk meningkatkan kuantitas air tanah, di lahan pertanian.

Dengan diterapkannya sistem 3R, cadangan air dalam tanah dapat meningkat sehingga mampu meminimalisasi bencana kekeringan yang selama ini mengancam sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur.

Petani juga melakukan pengamatan iklim secara sederhana, menggunakan gelas ukur dan mencatatnya dalam buku rencana pertanian terpadu dan kalender pasar. Data-data ini nantinya membantu mereka menentukan kapan kegiatan pertanian akan dimulai dan tanaman apa yang cocok ditanam sesuai musim dan kebutuhan pasar, sehingga mereka bisa mengantisipasi terjadinya gagal panen dan meningkatkan pendapatan.

Selanjutnya, sistem terasering pada lahan yang miring terbukti membuat tanah lebih subur, karena saat hujan humus tidak terbawa lepas oleh air hujan, tetapi mengendap di teras-teras tersebut. Teras-teras yang dibuat sejajar dengan garis kontur alam yang dilengkapi dengan saluran peresapan, saluran pembuangan air, dan tanaman penguat teras yang berfungsi sebagai pengendali erosi. Sehingga pola terasering mampu meminimalisir terjadinya tanah longsor yang kerap melanda wilayah Nusa Tenggara Timur.

 

Pameran Membangun Ketangguhan

Bersuara dan Berkarya dalam Langkah Nyata

Sambutan peserta pameran Pertanian organik oleh masyarakat di Desa Noebesa

Sambutan peserta pameran Pertanian Organik oleh masyarakat di Desa Noebesa

Seorang yang pandai pernah berkata “Tak ada kesuksesan yang tidak diawali dengan proses pembelajaran”. Kata-kata bijak tersebut  sesuai dengan apa yang tengah dirasakan keempat desa dampingan BSK, yaitu Noebesa, Oinlasi, Nakfunu, dan  Netutnana. Melalui acara Pameran Membangun Ketangguhan Masyarakat melalui Sistem Pertanian Organik  Terintegrasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB), Adaptasi Perubahan Iklim dan Restorasi Manajemen Ekosistem

Pameran tersebut menjadi momen penting dan menjadi ajang publikasi model sistem pertanian organik yang diselenggarakan di dua desa,  mewakili Kecamatan Amanatun Selatan dan Kecamatan Amanuban Tengah, yaitu di Oinlasi dan Noebesa.

Pameran ini dihadiri banyak pihak, dari pemerintah melalui beberapa SKPD terkait, LSM, dan pelaku usaha, yang selama ini turut bekerja sama melakukan kegiatan Program for Resilience.

Pameran ini dihadiri oleh banyak pihak, termasuk beberapa SKPD terkait, LSM, dan pelaku usaha, yang selama ini juga turut bekerja sama melakukan kegiatan Program for Resilience (PfR). Lebih membanggakan, pameran juga dihadiri Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) Paulus VR Mela dan Ketua DPRD Jean Neonufa. Kehadiran mereka menjadi hal yang penting, tidak hanya sebagai penegas bahwa kegiatan dalam PfR semakin dipandang para pemangku jabatan tinggi, yang tentu saja akan berdampak positif bagi keberlangsungan program ini, tetapi juga sebagai pemicu semangat masyarakat untuk terus bekerja meningkatkan kapasitas mereka demi menuju masyarakat yang tangguh.

Keberlanjutan, merupakan tujuan utama yang terus diupayakan oleh BSK dan desa dampingannya. Kegiatan-kegiatan mewujudkan ketangguhan masyarakat ini perlu disebarluaskan dan perlu menjadi fokus pemerintah TTS juga. Melalui pameran ini, tujuan tersebut semakin terlihat jelas. Sebagaimana disampaikan Bupati setelah mengikuti kegiatan pameran ini yang menyadari bahwa pembelajaran dan pengalaman para masyarakat dampingan BSK sangat bermanfaat. Oleh karena itu, Bupati TTS mendorong mereka menggunakan potensi kapasitas yang mereka miliki saat ini untuk terus berupaya melanjutkan program dengan memanfaatkan dana dari pemerintah dan dari dana desa. Akan tetapi, bupati lebih mendorong mereka untuk bergabung bersama Gapoktan agar pendanaan mereka ke depannya lebih terjamin. Kehadiran pemerintah, lsm, dan pelaku usaha juga dimaksudkan untuk menyatukan keyakinan agar terjalin  kemitraan yang saling berhubungan dan mendukung satu sama lain.

Peserta pameran diarahkan menuju pos-pos pameran yag telah disiapkan oleh paitia untuk mengetahui proses pertanian organik

Peserta pameran diarahkan menuju pos-pos pameran yag telah disiapkan oleh paitia untuk mengetahui proses pertanian organik

Dalam acara ini, satu desa menyiapkan lima lokasi pameran berbeda yang masing-masing menampilkan satu praktik yang berkaitan dengan pertanian organik, yaitu lokasi proses pembuatan kompos, lokasi pembuatan pupuk cair, lokasi pembuatan pestisida nabati, lokasi pembibitan, dan lokasi tempat diterapkannya replikasi 3R (Recharge, Retention, Reuse). Kelima lokasi tersebut dikunjungi kelompok yang terdiri atas peserta dari SKPD yang hadir untuk melihat sendiri bagaimana proses kelima hal tersebut dilakukan.

Dalam setiap lokasi terdapat satu pemandu yang merupakan anggota FPRB dan petani motivator KSM yang bertugas menjelaskan proses-proses pembuatan kelima hal tersebut. Para pemandu ini patut diapresiasi karena mampu menjelaskan bagaimana proses sistem pertanian organik dibangun dengan penuh antusias kepada para peserta pameran pertanian. Tentu saja untuk mencapai level seperti sekarang ini mereka telah melalui proses pembelajaran yang tidak sebentar dan mudah. Pengalaman suka dan duka mengiringi pembelajaran mereka sampai di titik ini.

Bersama Anak – anak Melukis Harapan untuk Ciliwung

Anak-anak di KPC Buluh perlihatkan hasil karya lukisannya tentang harapan Ciliwung kedepan

Anak-anak di KPC Buluh perlihatkan hasil karya lukisannya tentang harapan Ciliwung kedepan

Bina Swadaya Peduli bersama Komunitas Peduli Ciliwung minggu pagi (7/6) mengajak anak-anak untuk peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan melukis masa depan Ciliwung yang lebih baik.

Bertempat di Saung Komunitas, tempat yang biasanya anak-anak belajar pelajaran sekolah, belajar kesenian dan belajar tentang lingkungan, kini mereka beraksi dengan melukis keadaan Ciliwung sesuai keinginan mereka di masa depan.

Menurut Koordinator kegiatan Aip Saripudin, melibatkan anak-anak dalam acara peduli lingkungan adalah untuk meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga kelestarian lingkungan di sungai Ciliwung semenjak dini.

“Kita ingin ada interaksi dengan anak-anak lewat media menggambar, lalu ingin tahu apa yang mereka gambarkan/lukiskan di kertas, apa yang dirasakan dan di inginkan untuk masa depan Ciliwung” jelas Aip.

Aip menambahkan, nanti lukisan yang sudah selesai dikumpulkan dan akan dipresentasikan didepan. Kemudian bersama-sama, mereka akan memajang hasil karyanya untuk diperlihatkan.

Secara umum, anak-anak berharap sungai Ciliwung airnya bisa bersih, jadi tempat wisata, dan ada tempat bermain. Bahkan salah satu anak berharap, kelak di Ciliwung ada kincir angin seperti di Belanda, ada saung dan tempat bermain serta ada museum tempat benda-benda bersejarah khususnya di Buluh Condet.

Ditempat yang sama Ketua KPC Buluh H. Bachtiar mengungkapkan kebahagiannya, bisa memperingati hari lingkungan hidup dengan membagi ilmu pengetahuan lingkungan termasuk kegiatan menggambar bersama anak-anak.

Selama ini menurut H. Bachtiar, Saung Komunitas yang di bangun Bina Swadaya dimanfaatkan anak-anak untuk belajar seperti, matematika dan B. Inggris tiap hari Selasa dan Kamis dan malam jumat untuk kegiatan pengajian. Selebihnya dimanfaatkan untuk diskusi mengenai lingkungan.

Bu Dien: Bina Swadaya Layak Dapat Akreditasi

Sri Wrediningsih menjelaskan tentang akreditasi pelatihan Pemberdayaan Masyarakat

Sri Wrediningsih menjelaskan tentang akreditasi pelatihan Pemberdayaan Masyarakat

Dalam pengembangan wawasan Bina Swadaya Konsultan (BSK) tentang standarisasi pelatihan menurut pemerintah, Sri Wrediningsih menjelaskan, Bina Swadaya dengan banyaknya pengalaman, harusnya sudah layak terakreditasi.

Selama ini saya tahu pengalaman Bina Swadaya dengan segala kompetensinya dan ditunjang SDM (Sumber Daya Manusia) nya yang baik. Harusnya sudah terakreditasi” ujar wanita yang biasa disapa Bu Dien.

Menurutnya, pemerintah diwakili Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat ada standarisasinya salah satunya lembaga terkait harus sudah terakreditasi.

Akreditasi menjadi penting karena merupakan pemberian pengakuan formal, yang menyatakan lembaga telah memenuhi persyaratan untuk menyelenggarakan pelatihan pemberdayaan masyarakat, kegiatan standarisasi dan sertifikasi pelatihan.

Namun kita tahu, selama ini dasar hukum salah satunya PERMENDAGRI No 19 tahun 2007 tentang Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa/Kelurahan kurang tersosialisasikan dengan baik.

Wanita yang pernah menjabat Kepala Balai Pelatihan Ketenagakerjaan dan Transmigrasi ini menuturkan, buah dari tidak tersosialisasikannya aturan tersebut, BLK (Balai Latihan Kerja) yang justru dibawah Kemendagri pun belum ada yang terakreditasi.

“BLK pun saat ini belum terakreditasi. Hanya LPMJ (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Jakarta) yang baru dapat akreditasi dari KSP (Komite Standar Pelatihan)” katanya.

Bahkan Bu Dien yang aktif di LPMJ sampai sekarang membandingkan dengan Bina Swadaya. “Secara kualifikasi, Bina Swadaya lebih baik dari lembaga – lembaga lain bahkan jauh lebih baik dari LPMJ” ungkapnya.

Instrumen dan kriteria penilaian untuk memperoleh akreditasi dikembangkan oleh KSP. Aspek yang dinilai sarana prasarana, organiasai, SDM, administrasi kelembagaan, rencana kerja/program pelatihan, penggunaan dana serta panduan mutu. Bobot paling tinggi yakni sarana prasarana dan SDM. “Dengan segala potensinya, saya optimis Bina Swadaya bisa terakreditasi dengan baik” tuturnya.

“Namun saat ini apakah KSP masih jalan, pasca kepindahannya ke Kementerian Desa? Sebab KSP adalah bentukan dari Kemendagri” ucapnya.

Menurut Bu Dien, sudah saatnya Bina Swadaya menyiapkan langkah-langkah kedepan guna mendapatkan akreditasi dari pemerintah. Akreditasi akan menjadi pengakuan publik, bahwa lembaga telah memenuhi standar pelatihan, sehingga jadi jaminan dan acuan pelatihan bagi masyarakat.