• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Aktivitas saat ini

Bambang Ismawan: Jadilah Lembaga yang Efektif, Jangan Berharap Jadi Lembaga Besar

Pengembangan Wawasan bersama Pak Bambang Ismawan

Pengembangan wawasan bersama Pak Bambang Ismawan

Pengembangan wawasan, Selasa (28/4) Bina Swadaya Konsultan (BSK) sharing bersama Pak Bambang Ismawan. Tema yang diangkat seputar startegi dan peluang BSK dalam mengadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).

Cerita singkat semangat berdirinya Bina Swadaya menjadi pengantar awal Pak Bambang membuka diskusi. “Bulan Maret 1965 saya ditunjuk menjadi Ketua Umum Ikatan Petani Pancasila. Saat itu saya belum berpengalaman, tapi saya terima dan jalankan. Saya jalankan mulai tahun 1965, lalu ikut Mubes (Musyawarah besar) tani dengan Bung Karno” kenang Pak Bambang.

Kedudukan sebagai ketua umum tersebut di tahun 1967, Pak Bambang mendirikan Bina Swadaya. “Saya bersama I Sayogo dan Ir Suradiman mendirikan yayasan yang pada awalnya bernama Yayasan Sosial Tani Membangun” tuturnya.

Cerita semangat berdirinya Bina Swadaya tersebut menjadi landasan kita, bahwa main set kita adalah pekerjaan sebagai panggilan, dan bagaimana menciptakan kita supaya kerja. Dalam kutipan buku “I like Monday” karya Arvan Pradiansyah, Pak Bambang menyampaikan bagaimana paradigma kita mengenai pekerjaan. Apa hanya setumpuk tugas (job), Karir (carieer), atau sebuah panggilan (calling)?

“Jika kita melakukan pekerjaan sebagai panggilan, bekerjalah dengan happy. Kita tidak perlu khawatir soal gaji atau kecukupan hidup, semua tergantung dengan mindset kita” ucapnya. Panggilan dalam bentuk apa, menurut Pak Bambang bisa dalam bentuk bakat, hasrat dan nilai yang kita bangun serta ingin dikenang seperti apa.

Prinsip ini pun diterapkan Pak Bambang dalam kehidupannya. Meski tidak mengendalikan Bina Swadaya secara langsung, namun tetap melakukan urusan pemberdayaan. Inilah yang dinamakan dengan beyond Bina Swadaya, dalam arti basisnya masih tetap di Bina Swadaya. Tapi mungkin kegiatannyaa bisa melampaui Bina Swadaya. Menurutnya, Beyond Bina Swadaya sangat erat hubungannya dengan kegiatan konsultansi.

Terkait membangun lembaga Pak Bambang menuturkan, jadikanlah lembaga yang efektif bukan berharap jadi lembaga yang besar.  Kegiatan konsultansi harus mampu berkembang tidak hanya local community development, tapi merambah sampai ASEAN.

Menurut Pak Bambang, saat ini Bina Swadaya membangun gerakan guna menantang system ekonomi kapitalis, yakni gerakan ASEC.  Gerakan yang dilaksanakan empat tahun sekali ini di gagas oleh lima negara, Malaysia, Fhilipina, dan Indonsia (Mafilindo).

Gerakan ASEC akan menjadi momen bagaimana kita menghadapi MEA, terutama membangun ekonomi bagi masyarakat ASEAN. “semangat MEA ini menjadi peluang dan tantangan konsultansi dalam merambah community ASEAN” tuturnya.

Pak Benito, anggota AKSI dari Universitas Indonesia dan merupakan asisten Pak Bambang menyampaikan, saat ini kita harus mengembangkan potensi individu kita. Salah satunya dunia pendidikan melihat dunia NGO setara, artinya saat ini banyak potensi-potensi yang muncul dari NGO.

“Saatnya konsultan banyak memunculkan potensi-potensi baru dan menjadi bintang dalam dunia baru dengan apa yang disebut sebagai ASEAN mind set” ungkap Pak Benito.

Dalam mengadapai MEA, menurut Pak Bambang manfaatkan seoptimal mungkin dan seimbangkan hubungan internal dan eksternal kita. Aspek internal, banyaklah kita bersinergi antar unit di Bina Swadaya agar bisa saling mengembangkan usaha di tiap unit, serta seringlah hadir dan berkumpul bersama diantara kita. Sedangkan aspek ke luar, tingkatkan dari waktu ke waktu hubungan keluar, salah satunya forum ASEC.

Revolusi Mental Antara Indonesia dan Korea

Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya Bambang Ismawan memberikan kuliah umum di Graduate School of International Studies di Universitas Yonsei di Seoul Korea Selatan

Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya Bambang Ismawan, memberikan kuliah umum di Graduate School of International Studies di Universitas Yonsei di Seoul Korea Selatan

”Indonesia harusnya lebih baik dari hari ini. Korea (Selatan) saja bisa maju, mengapa Indonesia tidak?” kata Koh Young-hun, seorang profesor di Program Studi Melayu-Indonesia dari Universitas Hankuk, saat ditemui di Seoul, baru-baru ini.

Bambang Ismawan selaku pendiri sekaligus Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya, sebuah lembaga swadaya masyarakat tertua di Indonesia, diundang untuk memberikan kuliah umum di Graduate School of International Studies di Universitas Yonsei di Seoul, Selasa (24/3). Bambang Ismawan berbagi pengalaman dalam pembangunan masyarakat dan pengentasan masyarakat dari kemiskinan. Selain itu, dia juga mengajak masyarakat dunia untuk berkolaborasi membangun dunia yang lebih baik dari sisi moral dan ekonomi.

”Tiga puluh tahun yang lalu, saya mendengar dari profesor saya di ruang kelas bahwa Indonesia punya potensi besar dengan kekayaan sumber daya alam dan manusianya. Tiga puluh tahun sudah lewat, saya sudah menjadi profesor, tetapi saya masih mengatakan hal yang sama ke murid-murid saya,” kata Koh.

Koh mulai khawatir dirinya akan mengulang-ulang pernyataan bahwa Indonesia punya potensi besar. Tentu saja tidak salah apabila negeri ini punya potensi besar. Persoalannya, buat apa memiliki potensi besar jika tidak mampu direalisasikan?

Apabila indikatornya Laporan Daya Saing Global (Global Competitiveness Report) versi World Economic Forum, tahun 2014-2015, Korea Selatan menempati peringkat ke-26. Peringkat Korea Selatan lebih baik dibandingkan dengan Indonesia di peringkat ke-34. Padahal, ”modal” Indonesia lebih baik. Populasi Indonesia mencapai 250 juta orang, lima kali lebih banyak dari penduduk Korea Selatan. Korea Selatan juga tergolong miskin ”sumber daya alam” dengan hanya ada sedikit bahan tambang dan areal pertanian yang sempit. Jangan bandingkan dengan Indonesia, yang dikaruniai Tuhan dengan aneka macam sumber daya alam.

Dalam perjalanan rombongan Yayasan Bina Swadaya—peraih penghargaan dari Yayasan Posco 2015—dan Kompas ke Seoul pada Maret 2015, sesungguhnya dijumpai banyak kesan positif dari warga Korea. ”Saya paham Indonesia negara besar,” kata Yul Sohn, Dekan Program Studi Internasional dari Universitas Yonsei.

Sohn terkesan dengan modal sosial orang Indonesia. Suatu hari, dia berkunjung ke sebuah pabrik di Bandung, tetapi mobil yang dikendarainya terjebak banjir. ”Tiba-tiba ada beberapa orang yang mendorong mobil kami tanpa diminta sehingga baju mereka sampai benar-benar basah. Saya sangat terkesan dengan bantuan itu,” katanya.

”Kami namakan itu dengan gotong royong,” kata Bambang Ismawan, pendiri dan Ketua Pembina Bina Swadaya. Menurut Bambang Ismawan, sifat itu melekat pada warga Indonesia.
Setelah Bambang Ismawan memberi penjelasan, jujur saja ada suasana hening. Dalam benak Kompas, dan mungkin juga di benak anggota rombongan lain, terngiang-ngiang pertanyaan, ”benarkah bangsa Indonesia masih memiliki sifat gotong royong dan nilai-nilai adiluhung lain?”
Manusia Korea

Nilai-nilai adiluhung bangsa memang tiada salahnya dilestarikan dan diterapkan dalam kehidupan, becermin pada pengalaman Korea Selatan. Sejak 1970-an, kata Koh, Pemerintah Korea Selatan membangun empat karakter manusia Korea Selatan.

Pertama, sikap rajin bekerja, yang lebih menghargai kerja tuntas daripada pidato yang muluk-muluk tanpa realisasi. Kedua, sikap hemat sebagai buah dari sikap rajin bekerja. Ketiga, sikap self-help yang berusaha mengembangkan sifat mandiri dan rasa percaya diri. Keempat, sikap mau bekerja sama mempersatukan individu dan masyarakatnya.

Sosiolog Universitas Indonesia, Profesor Paulus Wirutomo, yang juga Ketua Pengurus Yayasan Bina Swadaya, mengatakan, bangsa Indonesia jangan kehilangan harapan untuk tumbuh lebih baik. ”Pemimpin kita Joko Widodo telah memperkenalkan ’revolusi mental’. Itu saja dulu dijalankan jika kita ingin negara kita ’melejit’ seperti halnya Korea Selatan,” kata Paulus.

Internalisasi nilai memang harus diseriusi oleh bangsa Indonesia jika ingin mengekor, bahkan menyalip keperkasaan Korea Selatan. Hari proklamasi kemerdekaan RI, misalnya, hanya telat dua hari dari Korea Selatan. Namun, tanpa determinasi diri yang kuat, kini Indonesia tertinggal.

Bicara soal internalisasi nilai, Korea Selatan luar biasa. Bina Swadaya dan Kompas sempat melihat langsung pabrik baja Posco di Pohang (255 kilometer dari Seoul). Posco mengagumkan karena menjadi salah satu pabrik baja terbesar di dunia walau sumber dayanya terbatas. Bahan baku bijih besi (iron ore) antara lain diimpor Posco dari Brasil, selain juga batubara sebagai penggerak mesin.

Kemajuan Posco mencerminkan kemajuan Korea Selatan. Kemajuan itu buah dari determinasi pendiri Posco, Park Tae-joon, yang ucapannya dituliskan di gerbang Posco. ”Resources are limited, creativity is unlimited, ’sumber daya terbatas, tetapi kreativitas tidak terbatas’,” ujar Park.

Nilai-nilai positif yang diterapkan pekerja Posco, dan kini oleh sebagian besar orang Korea, yang sukses menumbuhkan industri kreatifnya, tidak ditanamkan dalam semalam. Bambang Ismawan, yang pertama kali mengunjungi Korea Selatan pada 1976, mengenang betapa internalisasi nilai-nilai luhur manusia Korea Selatan dikerjakan sejak bangku sekolah dasar.

Masyarakat madani

Nilai-nilai yang diinternalisasikan dalam payung revolusi mental, kata Paulus, sebaiknya mampu diukur dalam indikator-indikator yang mampu dianalisis setiap akhir tahun. ”Ambil satu nilai dulu, misalnya gotong royong dalam perekonomian, politik, dan kehidupan beragama,” ujarnya.

Tanpa revolusi mental, internalisasi nilai atau apa pun namanya, terjadilah paradoks dalam kehidupan berbangsa. Republik ini mendirikan Komisi Pemberantasan Korupsi, tetapi koruptor bermunculan bak jamur di musim hujan. Dulu ada masanya ketika budaya militeristik dimusuhi, tetapi setelah lebih dari satu dekade ternyata budaya kekerasan belum menghilang.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama juga mengalami dilema saat melakukan penertiban. Masyarakat yang sudah ditertibkan kerap kembali berjualan secara ilegal lagi. ”Kami ini jadi mirip Tom dan Jerry (dengan masyarakat dan PKL yang ditertibkan),” ujar Basuki.

Dari mana harus memulai revolusi mental? Waktu masih menjadi calon presiden, di harian ini Joko Widodo pernah menulis, ”harus dimulai dari lingkungan keluarga, tempat tinggal, lingkungan kerja, dan kemudian meluas menjadi lingkungan kota dan lingkungan negara”.

Tentu saja, lebih baik lagi jika nilai-nilai luhur diinternalisasikan saat negara dalam stabilitas yang baik. Stabilitas sangat penting supaya pemerintahan yang baru seumur jagung ini dapat merealisasikan janji-janji. ”Ya, lebih baik dibiarkan kerja dulu. Baru mulai, belum bisa dievaluasi,” kata Koh.

Ketika partai-partai politik sibuk cakar-cakaran, para birokrat digoyang ke kanan ke kiri, sebenarnya masih ada masyarakat madani. Kelompok-kelompok masyarakat sipil tersebut yang seharusnya dapat menjadi agen perubahan bagi internalisasi nilai-nilai luhur bangsa. Hanya dengan internalisasi nilai-nilai tersebut, kita dapat mengatasi ketertinggalan dari Korea Selatan. (HARYO DAMARDONO, dari Seoul)

Sumber: http://print.kompas.com/baca/2015/04/02/Revolusi-Mental-Antara-Indonesia-dan-Korea

Malam Penghargaan Posco Tj Park Prize

Yayasan Bina Swadaya, yang diwakili pendiri sekaligus Ketua Pembina Bambang Ismawan, menerima penghargaan Posco TJ Park yang diserahkan Pemimpin Posco TJ Park Foundation Oh-Joon Kwon (kanan) di Seoul, Korea Selatan

Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya Bambang Ismawan bersama Pemimpin Posco TJ Park Foundation Oh-Joon Kwon

Bina Swadaya diwakili Bambang Ismawan semalam (25/3) menerima piagam penghargaan Posco Tj Park Prize dalam kategori Pengembangan Masyarakat dan Filantropi. Bina Swadaya mendapat penghargaan karena merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tertua yang sudah lebih dari 48 tahun melayani masyarakat, secara konsisten dan berkesinambungan dalam pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan di Indonesia.

“Kami, saya, dan beberapa teman di Indonesia, mendengar kabar ini, merasa bersyukur ada LSM dari Indonesia yang mendapat penghargaan dari institusi sebuah negara berpengaruh di Asia,” kata Bambang Ismawan.

Dalam orasinya, Bambang mempertanyakan alasan sebuah pabrik baja memberinya penghargaan? “Saya sempat berpikir, bukankah lebih baik Posco memberi penghargaan bagi pencipta mesin atau desainer mobil? Namun, Posco pasti dipimpin para tokoh yang berpikir luas dan memikirkan masa depan dari kemanusiaan,” katanya.

Bambang meyakini, dunia harus dikelola oleh orang-orang yang berpikir luas dan lintas sektor. “Pembangunan sosial juga harus mampu memberdayakan pekerja-pekerja produktif, membangun integrasi sosial, hingga mengentaskan rakyat dari kemiskinan,” tuturnya.

Selama 48 tahun berkarya, lanjut Bambang, Bina Swadaya juga merasakan indahnya jaringan dan kolaborasi dalam membangun masyarakat. “Ketika Bina Swadaya bekerja sendiri, hanya terbangun 3.500 kelompok. Namun, ketika bekerja dengan pemerintah, LSM, dan profesional, terbentuk lebih dari satu juta kelompok,” ujarnya.

Bambang Ismawan didampingi putrinya Irsa Ismawan, diapit oleh Ade Iwan, Suryo Dwianto Agung Nugroho, Paulus Wirutomo, Rony Palungkun dan F. Benny Lopulalan.

Bambang Ismawan didampingi putrinya Irsa Ismawan, diapit oleh Ade Iwan, Suryo Dwianto Agung Nugroho, Paulus Wirutomo, Rony Palungkun dan F. Benny Lopulalan.

Satu juta kelompok itu kemudian menjangkau 25 juta keluarga (sekitar 100 juta jiwa), yang akhirnya terbantu dengan program pemberdayaan. Skema kelompok oleh Bina Swadaya tersebut dinamakan kelompok swadaya masyarakat.

Malam penganugerahan dihadiri oleh Ketua Pengurus Yayasan Paulus Wirutomo, Koordinator Bidang Niaga Rony Palungkun, Direktur Niaga Swadaya Ade Iwan, Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Warga dan Pengembangan Keuangan Mikro Suryo Dwianto Agung Nugroho.

Semoga Bina Swadaya memberikan inspirasi bagi warga Bina Swadaya, serta bagi pelaku pengembangan pemberdayaan masyarakat guna kemajuan bangsa dan negara tercinta Indonesia.

Bina Swadaya Raih Penghargaan di Korsel

Yayasan Bina Swadaya, yang diwakili pendiri sekaligus Ketua Pembina Bambang Ismawan, menerima penghargaan Posco TJ Park yang diserahkan Pemimpin Posco TJ Park Foundation Oh-Joon Kwon (kanan) di Seoul, Korea Selatan

Yayasan Bina Swadaya, yang diwakili pendiri sekaligus Ketua Pembina Bambang Ismawan, menerima penghargaan Posco TJ Park yang diserahkan Pemimpin Posco TJ Park Foundation Oh-Joon Kwon (kanan) di Seoul, Korea Selatan

Yayasan Bina Swadaya, lembaga swadaya masyarakat di Indonesia, meraih penghargaan dalam bidang Pembangunan Masyarakat dan Filantropi “Posco TJ Park” dari perusahaan baja Korea Selatan, Posco. Bina dinilai berhasil membantu masyarakat pinggiran, memberdayakan masyarakat miskin, dan mendorong kewirausahaan sosial.

Penghargaan diberikan Pemimpin Posco TJ Park Foundation Oh-Joon Kwon, kepada pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Bina Swadaya Bambang Ismawan, di kantor pusat Posco di Seoul, Korea Selatan, Rabu (25/3). Penghargaan juga diberikan kepada tokoh dan lembaga pendidikan di Korea Selatan, yaitu Profesor Bae-ho Park dari Universitas Konkuk (dalam bidang ilmu pengetahuan) dan Universitas Global Handong (di bidang pendidikan).

“Bina Swadaya dan para pemenang lain yang akan membuat kita dapat menghadapi masa depan,” kata Wakil Perdana Menteri Korea Selatan Hwang Woo-yeo, seusai penganugerahan penghargaan Posco tersebut, sebagaimana dilaporkan wartawan Kompas, Haryo Damardono.

“Kami, saya, dan beberapa teman di Indonesia, yang mendengar kabar (penghargaan) ini, merasa bersyukur ada LSM dari Indonesia yang mendapat penghargaan dari institusi dari sebuah negara berpengaruh di Asia,” kata Bambang Ismawan.
“Penghargaan ini adalah penghiburan di tengah karut-marut perpolitikan di Indonesia,” kata Ketua Dewan Pengurus Yayasan Bina Swadaya Paulus Wirutomo, yang juga ditemui di Seoul.

Dalam orasinya, Bambang mempertanyakan alasan sebuah pabrik baja memberinya penghargaan? “Saya sempat berpikir, bukankah lebih baik Posco memberi penghargaan bagi pencipta mesin atau desainer mobil? Namun, Posco pasti dipimpin para tokoh yang berpikir luas dan memikirkan masa depan dari kemanusiaan,” katanya.

Kolaborasi bersama

Bambang meyakini, dunia harus dikelola oleh orang-orang yang berpikir luas dan lintas sektor. “Pembangunan sosial juga harus mampu memberdayakan pekerja-pekerja produktif, membangun integrasi sosial, hingga mengentaskan rakyat dari kemiskinan,” katanya.

Selama 48 tahun berkarya, lanjut Bambang, Bina Swadaya juga merasakan indahnya jaringan dan kolaborasi dalam membangun masyarakat. “Ketika Bina Swadaya bekerja sendiri, hanya terbangun 3.500 kelompok. Namun, ketika bekerja dengan pemerintah, LSM, dan profesional, terbentuk lebih dari satu juta kelompok,” ujarnya.

Satu juta kelompok itu kemudian menjangkau 25 juta keluarga (sekitar 100 juta jiwa), yang akhirnya terbantu dengan program pemberdayaan. Skema kelompok oleh Bina Swadaya tersebut dinamakan kelompok swadaya masyarakat.

sumber: http://print.kompas.com/baca/2015/03/26/Bina-Swadaya-Raih-Penghargaan-di-Korsel

Sosialisasi dan Pelatihan Risiko Bencana di SDN 03 Mekarsari

anak-anak SDN 03 Mekarsai belajar materi mengenai jenis-jenis bencana dan metode"school wathching", memantau risiko bahaya di sekolah.

Anak-anak SDN 03 Mekarsai belajar materi mengenai jenis-jenis bencana dan metode”school wathching” atau memantau risiko bahaya di sekolah.

Dalam rangka meningkatkan kepekaan anak terhadap risiko bencana, tim Emergency Response (ER) Bina Swadaya bersama tim Bandung Disaster Study Grup (BDSG) lakukan sosialisasi dan pelatihan pengurangan risiko bencana di SDN 03 Mekarsari, sabtu (7/3).

Dian MGP selaku koordiantor pelatihan menuturkan bahwa, sosialisasi dan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kepekaan anak terhadap potensi bahaya di sekolahnya. Selain melatih kepekaan dengan lingkungan sekolah, anak – anak juga dilatih berani mengutarakan langsung hasil pantauan mereka kepada kepala sekolah maupun guru.

Dalam sambutannya, Kepala Sekolah SDN 03 Mekarsari Ibu Anik menyambut baik kegiatan tersebut dan diharapkan Bina Swadaya bersama sekolah bisa terus kerjasama dalam rangka pemberdayaan anak – anak guna mewujudkan masa depan bangsa yang lebih baik

Sekitar 70 anak kelas 5 SDN 03 Mekarsari terlibat mengikuti pelatihan. Selama kurang lebih empat jam kegiatan, beberapa materi disampaikan yakni, belajar mengenal jenis bencana, melatih gerak (respon) jika terjadi bahaya atau bencana dan terakhir metode “school wathching”, memantau risiko bahaya di sekolah.

Pelatihan sosialisasi dan pengurangan risiko bencana pada anak ini merupakan kegiatan perdana bagi tim ER Bina Swadaya sebagai fasilitator. Sejak akhir tahun 2014 tim ER Bina Swadaya telah diberi pelatihan oleh tim BDSG yang akhirnya bisa diwujudkan langsung di sekolah SDN 03 Mekarsari.

Pembelajarannya, selain anak – anak, peran guru juga sangat penting karena gurulah yang memantau perkembangan anak di sekolah. Diharapkan tim juga bisa memberikan “Training of Trainers” (TOT) kepada guru agar bisa terlibat dan melatih anak – anak. Kedepannya, tim akan terus melakukan upaya kerjasama dengan sekolah dan lembaga lain.

Cibugel Terapkan Keswadayaan ala Bina Swadaya

Pak Aup

Kepala UPTD Peternakan dan Pertanian Kecamatan Cibugel Sumedang Aup Saeffullah

Dalam rangka kunjungan Bina Swadaya ke Cibugel jumat (13/2), Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Peternakan dan Pertanian Kecamatan Cibugel Sumedang Kang Aup Saefullah mengatakan, konsep keswadayaan dari Bina Swadaya telah diterapkan sebagai bagian dari pengembangan masyarakat menuju modernisasi peternakan dan pertanian di Cibugel.

“Tahun 2003, waktu pendampingan Bina Swadaya saya menjadi ketua kelompok kegiatan masyarakat. Kini setelah jadi Kepala UPTD, pelajaran tentang keswadayaan dari Bina Swadaya saya terapkan di birokrasi” tuturnya.

Salah satu yang diterapkan dan berjalan hingga kini adalah Kelompok Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Makmur di Desa Jayamandiri Cibugel. “Penggunaan istilah swadaya di P4S pun kita tiru dari Bina Swadaya, tiru dalam arti semangatnya dalam memberdayakan masyarakat” ucapnya.

Menurut Kang Aup, kegiatan kelompok ini dibangun atas dasar permasalahan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang, sehingga dibutuhkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dengan dibentuknya wadah PKBM dan P4S.

Kunjungan Bina Swadaya ke tempat PKBM Makmur di Desa Jayamandiri Cibugel, untuk melaksanakan kegiatan aksi sosial donasi buku oleh tim Orkes Bina Swadaya. Kelompok masyarakat tampak antusias adanya donasi buku tersebut, sebagai tambahan bacaan untuk perpustakaan PKBM makmur.

Kunjungi Cibugel, Bina Swadaya Gelar Aksi Sosial Donasi Buku

Foto Donasi Buku cibugel

Ketua Orkes Bina Swadaya Danny Carlo menyerahkan secara simbolis aksi sosial donasi Buku kepada Kepala UPTD Kecamatan Cibugel Aup Saefullah

Tim Orkes Bina Swadaya kunjungi Kelompok Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Makmur di Desa Jayamandiri Kecamatan Cibugel Kabupaten Sumedang. Kegiatan yang dilaksanakan Jumat (13/2) tersebut, untuk gelar aksi sosial berupa donasi buku.

Ketua Orkes Danny Carlo menuturkan, donasi buku adalah bentuk perhatian Bina Swadaya terhadap PKBM Makmur, sebagai kelompok binaan yang telah mandiri dan tetap aktif hingga kini. “Adanya donasi buku ini sebagai perhatian agar kegiatan kelompok masyarakat di Cibugel tetap aktif dan semangat belajar dimanapun dan kapanpun”, tutur Danny

“Mudah-mudahan buku-buku ini membantu kegiatan belajar masyarakat seperti belajar wirausaha, kesetaraan paket A, B dan C, kursus dan pelatihan yang diselenggarakan PKBM Makmur” tambah Danny.

Agung Prasetio yang menjadi team leader pendampingan Cibugel ditahun 2004 mengatakan, selain donasi buku, kunjungan Bina Swadaya adalah membina silaturahmi dan hubungan baik yang terjalin selama ini.

“Kita ingin menjaga ikatan emosional dan silaturahmi yang baik dengan kelompok binaan di Cibugel, kemudian kita juga ingin melihat dan mengikuti perkembangannya”, kata Agung.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Peternakan dan Pertanian Kecamatan Cibugel Kang Aup Saefullah merasa antusias dan semangat atas donasi yang diberikan Bina Swadaya. “Saya sebagai ketua UPTD dan PKBM makmur merasa senang atas donasi ini dan akan menambah koleksi perpustakaan disini”ucapnya.

Menurut Kang Aup, selain bermanfaat bagi masyarakat Cibugel, buku-buku bertemakan peternakan, pertanian dan perikanan ini akan jadi referensi para mahasiswa yang sering berkunjung ke PKBM Makmur.

Dengan adanya donasi buku, Aup berharap masyarakat bisa meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai modal tercapainya modernisasi peternakan dan pertanian di Cibugel.

Tingkatkan SDM, P4S Makmur Laksanakan Pelatihan Agribisnis Pertanian

Pelatihan P4S Cibugel

Tim Bina Swadaya hadir dalam pelatihan agribisnis pertanian yang diselenggarakan Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) di Jalan Cibugel Patrol No. 23 Desa Jayamandiri Kecamatan Cibugel Sumedang.

Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Makmur, memfasilitasi kelompok tani untuk pelatihan agribisnis pertanian Jumat (13/2), di wilayah kerja P4S Jalan Cibugel Patrol No. 23 Desa Jayamandiri Kecamatan Cibugel Sumedang.

Ketua pelaksana harian P4S Kang Iim menjelaskan, tujuan pelatihan adalah meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi pengelola/pengurus Kelompok Tani binaan P4S Makmur. “Pelatihan ini sangat penting untuk tingkatkan SDM, supaya petani tahu bagaimana dapat sumber modal, teknik pertanian, masa panen, dan distribusi untuk pemasaran” jelasnya.

Kang Iim menambahkan, pelatihan ini menjadi upaya P4S dalam mengatur dan memimpin kelompok serta melaksanakan pengembangan usaha oleh para pegurus kelompok tani. Kemudian, dapat mengukur kekuatan dan menyadari kelemahan dalam menghadapi permasalahan.

Mengutip sambutan Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Peternakan dan Pertanian Cibugel Kang Aup Saefullah mengatakan, kebijakan UPTD tentang program-program di Kabupaten Sumedang akan dialokasikan dan dilaksanakan secepatnya di wilayah Cibugel.

Dalam pelaksanaannya, peserta hadir 36 orang dari 11 kelompok dan 1 Kelompok Wanita Tani (KWT). Pelatihan ini merupakan tahap pertama yang dilaksanakan di kantor sekretariat P4S.

P4S merupakan kelompok binaan Bina Swadaya yang mandiri dan tetap aktif hingga kini. Program yang dilaksanakan P4S adalah hasil pendampingan oleh Bina Swadaya dari tahun 2003 sampai 2006. Menurut Kang Aup, penggunaan istilah swadaya di P4S pun meniru dari Bina Swadaya, meniru dalam arti semangatnya dalam memberdayakan masyarakat.

Semangat KPC Terima Bantuan Peduli Ciliwung

Babe Umar

Babe Umar, Pengurus KPC KPMJ (Komunitas Petani Masyarakat Jakarta)

Dalam kegiatan serah terima Bantuan KPC (Komunitas Peduli Ciliwung), Babe Umar dari KPC KPMJ (Komunitas Petani Masyarakat Jakarta) merasa semangat dan senang atas bantuan untuk kegiatan peduli Ciliwung.

Menurut Babe Umar, Bina Swadaya hadir mengupayakan membuat saung komunitas, meskipun kita sudah ada saung. “Alhamdulillah Bina Swadaya saat itu menyodorkan membuat saung, dan ini jadi semangat dan upaya action lebih jauh dalam kepedulian terhadap Ciliwung” ucap Babe.

Selanjutnya babe menambahkan, KMPJ adalah komunitas relawan orang-orang gila yang begitu cinta dengan lingkungan. “Kami adalah orang-orang gila yang peduli lingkungan, bahkan kami beberapa kali turut serta mencari korban yang hanyut di kali Ciliwung” tambah Babe.

Selain itu, Sarmili dari KPC Lenteng Agung fokus dengan komunitas bank sampahnya. Bantuan yang diterima adalah sejumlah tempat sampah volume 20 liter dan mesin pencacah sampah.

Menurut Sarmili, sampai saat ini perkembangan bank sampah dampingan Bina Swadaya sudah bertambah besar kawasannya. “Saat ini bank sampah makin luas dan berkembang di komunitas kita, lalu bantuan mesin pencacah baru ini dapat menghasilkan pupuk bagi tanaman sekitar Ciliwung” harap Sarmili.

Begitupun semangat KPC Tanjung Barat atas bantuan yang diterima, yakni perahu dengan spesifikasi bahan alumunium. Mewakili KPC Tanjung Barat Sarmuli menuturkan, dengan spesifikasi yang beda dari perahu karet dan kuat dari gesekan sampah dan bambu, mudah-mudahan bantuan perahu ini bisa lebih aktif dan berkonstribusi membangun Ciliwung makin bersih.

Serah Terima Bantuan Peduli Ciliwung

Tanda tangan Serah Terima Bantuan oleh Ari Primantoro (BSK) dan Perwakilan KPC H. Bachtiar, disaksikan Taruli Aritonang dari PT. HM Samoerna

Tanda tangan Berita Acara Serah Terima Bantuan oleh Direktur BSK Ari Primantoro dan Perwakilan KPC H. Bachtiar, disaksikan Manager Contributions & CSR PT. HM Sampoerna Taruli Aritonang.

Jumat (30/2), PT. HM Sampoerna bersama Yayasan Bina Swadaya (YBS) melakukan serah terima bantuan kepada Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) di Laboratorium Tari dan Karawitan, Jl. Balai Rakyat Condet Jakarta Timur.

Ketua Pengurus Bina Swadaya Prof. Paulus Wirutomo menuturkan, program kegiatan pemberdayaan ini telah selesai lalu kedepannya bisa menjadi kemandirian bagi KPC. “Pemberdayaan ini tinggal kita tarik manfaatnya dan setiap kesempatan kita tetap bisa bekerja sama” tutur Prof. Paulus.

Selanjutnya Ari Primantoro selaku Direktur Bina Swadaya Knsultan (BSK) mengungkapkan, Bina Swadaya memiliki komitmen untuk terus mendampingi KPC yang memang ingin berkembang. Khususnya terkait pelatihan Disaster Risk Reduction (DRR), Bina Sawadya memiliki tim Emergency Respons (ER) yang bisa membantu KPC jika nantinya dibutuhkan, mengingat wilayah Ciliwung rawan bencana banjir.

Manager Contributions & CSR PT. HM Sampoerna Taruli Aritonang mengatakan, program yang berhubungan dengan Ciliwung ini kedepannya semoga ada keberlanjutan. “ Program ini baru pertama kali, jadi baru sebatas perkenalan dan harapannya ada keberlanjutan. Kemudian kegiatan ini bisa copy atau dilaksanakan juga oleh para pelaku usaha lainnya” harap wanita yang biasa dipanggil Uli.

Penerima bantuan adalah 8 KPC yang tersebar di 5 kelurahan, dari Lenteng Agung sampai Kalibata. Melalui sejumlah proses, hanya 6 KPC yang menerima bantuan. Jenis bantuan disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing KPC, antara lain Perahu LCR, perahu ekowisata, mesin tempel, saung komunitas, gergaji mesin, mesin pencacah sampah dan tempat sampah.

Acara penyerahan bantuan secara simbolis oleh Taruli Aritonang kepada wakil camat atau lurah ditiap KPC, kemudian diserahkan kepada pengurus KPC. Harapannya, nanti KPC akan dapat mempertanggungjawabkan bantuan ini kepada pemerintah setempat.

Rangkaian kegiatan dilaksanakan sejak tahun 2014 adalah pelatihan manajemen organisasi, urban farming, daur ulang sampah pelastik, DRR, manajemen marketing, pembuatan demplot urban farming, studi banding produk daur ulang sampah plastik, pendampingan, workshop program serta kegiatan SAPA Ciliwung.