• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Cerita

Salina: Belajar di Bina Swadaya untuk Timor Leste

Rarahana Salina

Rarahana Salina

Ketika lepas sambut direktur Bina Swadaya Konsultan (BSK), tampak Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya Bambang Ismawan dan istri hadir bersama sosok perempuan muda eksotis berambut panjang berbaju hitam. Ia duduk berdampingan satu meja dan begitu terlihat akrab.

Tatkala rangkaian kegiatan sampai di penghujung acara, barulah Pak Bambang mengenalkannya. “Namanya Rarahana Salina dari Timor Leste, sedang belajar (magang) bersama kita selama 2 bulan”, ucap Pak Bambang sambil meminta Salina kedepan untuk cerita kegiatannya.

Perempuan yang biasa dipanggil Salina ini, mengenal Bina Swadaya ketika aktif kegiatan pemberdayaan. “Pengalaman saya paling banyak di pemberdayaan masyarakat saat di Oxfam selama 5 tahun. Kemudian mengenal nama Bina Swadaya, dan mendapat informasi dari Romo Eduardo, Kepala Sekolah Kolese Kanisius Jakarta” cerita Salina.

Ia menjelaskan, tujuannya belajar di Bina Swadaya adalah konsepnya yang sesuai dengan visi misi dan keinginannya dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, untuk dikembangkan di negaranya Timor Leste.

“Waktu baca profil Bina Swadaya, saya rasa banyak kesamaan dengan visi misi saya sebagai aktifis pemberdayaan”, tuturnya.  Selain itu, ingin belajar di Bina Swadaya, karena Ia sebagai bagian dari masyarakat, mau mengabdi dan bermanfaat untuk negaranya,

Menurutnya, di Bina Swadaya ada satu konsep yang ditekankan dalam kegiatan pemberdayaan adalah masyarakat bisa mandiri dan kesadaran sosialnya di bangun. Hal ini yang sangat dibutuhkan untuk masyarakat di Timor Leste.

“Pengalaman setelah Timor Leste merdeka dan mengalami proses berkembang, hanyalah bersifat politis. Tidak ada kebijakan terkait, bagaimana berkembangnya potensi masyarakat disana,” ucap perempuan yang menempuh studi Sosiologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini.

Ia menambahkan, kebanyakan program atau proyek 80 % berasal dari perusahaan asing. Dana dari pemerintah pun semuanya terserap ke fisik atau infrastruktur, sehingga potensi masyarakat di Timor Leste kurang berkembang.

Lebih lanjut, masalah lain pun muncul. Kebanyakan pemuda-pemudi ke luar Timor Leste untuk kerja, ke Eropa semua. Akhirnya perhatian pada masyarakat sendiri untuk membangun desa yang lebih makmur dan lebih baik kedepannya, ini menjadi isu utama di Timor Leste.

“Ini akibat, tidak adanya konsep yang jelas bagaimana membangun Timor Leste yang lebih baik”, tuturnya.

Menurutnya, ini menjadi tantangan bagi Timor Leste yang hadir di tahun millennium, diwaktu yang penuh kerumitan, dengan system ekonomi yang sangat kapitalis serta orientasi negara baru merdeka yang ingin mengembangkan potensi rakyatnya, menjadi suatu kendala yang besar sekali.

Belajar di Bina Swadaya, baginya menjadi tempat untuk belajar menghadapi berbagi tantangan-tantangan itu. Kemudian, belajar bagaimana cara mengabdi pada masyarakat, dan bagaimana turut membangun suatu negara yang idealis. “Kongkritnya, saya akan banyak belajar di lapangan nanti”, katanya.

Harapannya, setelah banyak belajar di Bina Swadaya, Salina akan share ke teman-temannya di Timor Leste. “Setelah di Bina Swadaya, saya akan banyak informasi untuk teman-teman dan komunitas di sana”, harapnya.

Akhir sambutannya, Salina merasa senang bisa saling berbagi wawasan, dan terima kasih untuk kesediaan Pak Bambang dan teman-teman di Bina Swadaya yang banyak memberikan motivasi dan pengetahuan, bagaimana mengembangkan memberdayakan masyarakat yang berkelanjutan, membangun solidaritas dan kesadaran sosial.

Septian Ginanjar

Inspirasi dari Lembah Kemuning

Sudarmoko

Sudarmoko

Daerah yang subur sudah pasti masyarakatnya makmur. Begitulah padangan banyak orang tatkala melintas di pedesaan subur dan masyarakatnya mampu membangun daerahnya serta pandai memanfaatkan alam sekitar.

Tampak landscape Gunung Ciremai mempersembahkan keindahan panorama alam pegunungannya, serta memberi sumber penghidupan bagi masyarakat, termasuk Desa Cigugur yang berdad di bawah kaki sang gunung terbesar di Jawa Barat ini.

Desa Cigugur terlihat ramai dikunjungi. Karena disinilah tersedia Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) yang dijadikan education tourism dan diminati banyak orang.

Disinilah kita bisa belajar pertanian dan perkebunan. Kemudian peternakan sapi serta produksi susu sapi murni pun banyak dihasilkan. Tempat inipun menjadi tujuan kami untuk belajar banyak hal, terutama pada sang empunya yakni Pak Sudarmoko, atau sering di panggil Pak Moko.

Tahun 2007, Pak Moko membeli lahan di desa Cigugur lalu perlahan dan pasti membangun Lembah Kamuning Farm (LKF). Ketertarikannya pada usaha ternak sapi, hanya karena berpapasan dengan truk pembawa sapi melewati jalan desa. Kemudian Pak Moko telusuri, dan tampak rongrongan tengkulak yang membawa kesengsaraan untuk peternak sapi. Pembayaran yang tidak benar serta pengelolaan ternak selama di perjalanan sangat merugikan. Peternak hanya menerima sekitar 50% hasil penjualan, sedangkan yang tidak laku dikembalikan.

Diskusi bersama Pak Sudarmoko di lokasi training

Diskusi bersama Pak Sudarmoko di lokasi training

Pak Moko memulai usaha ternak sapi. Walaupun selama 6 tahun (2006 – 2013), sempat ditinggalkan untuk bekerja di Counterra New Zealand sebagai direktur koperasi peternak susu sapi perah. Setelah pensiun dari Counterra, mulailah serius usaha ternaknya dan membangun fasilitas yang diperlukan seperti bangunan pendingin susu, maupun sarana penelitian.

Selama perjalanan membangun ternak sapi, Pak Moko menginisiasi berdirinya Koperasi Gapura Sehat (Gabungan Pelindung Usaha Rakyat Sing Eling Hirup Ayak Tutugna). Sekarang anggota koperasi sudah ada sekitar 200 orang. Jumlah sapi yang ada sekitar 1200 ekor.

Peternakan sapi yang dibangunnya, tidak hanya sekedar peternakan sapi biasa, melainkan menggunakan pendekatan integrated mix farming seperti, 1) produk susu sapinya untuk dijual, 2) Kotorannya untuk pupuk (feces dan kencing), 3) Produk olahan susu seperti yogurt dan sabun, 4) Menyediakan pakan ternak sendiri dan 5) Membuat pusat penelitian: pupuk cair untuk tanaman, udang, jahe merah

Untuk pusat penelitian LKF bekerjasama dengan IPB. Hasil penelitian pupuk cair dikembangkan di Sulawesi untuk tanaman coklat, di Tumpang untuk budidaya udang, tanaman padi dan lain-lain. Bekerjasama juga dengan East West Seed (EWS) untuk supervise.

Saat ini LKF menjadi pusat pelatihan swakarsa untuk integrated mix farming. Di sekitar lokasi ada peternakan sapi, bio flog untuk lele, pengolahan produk olahan susu. Banyak tamu yang datang dan belajar baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Hasil kunjungan kami di LKF, banyak yang dapat kami saksikan secara langsung bagaimana dari seekor sapi dapat menghasilkan berbagai manfaat seperti; susu dan daging untuk dikonsumsi, kotoran dan air seni digunakan sebagai pupuk maupun bahan bakar keperluan memasak dan lain-lain, sehingga sangatlah tepat jika Lembah Kemuning dijadikan wisata agro dan edukasi di Kabupaten Kuningan.

Ana Budi Rahayu

(Kegiatan Pembelajaran di Lembah Kamuning Farm, Desa Cigugur- Kuningan-Jawa Barat)

Berkebun di Kantor, Urban Farming ala BSK

Ana Budi Rahayu menikmati kegiatan urban farming di kantor BSK

Ana Budi Rahayu menikmati kegiatan urban farming di kantor BSK

Kegiatan berkebun di perkotaan (urban farming) menjadikan berkebun bisa dilakukan di mana saja dan oleh siapa saja. Ketersediaan lahan terbatas bukanlah suatu halangan untuk patahkan semangat ingin berkebun.

Selama ada keinginan dan kemauan keras, dimanapun tempatnya bisa digunakan untuk berkebun.  Salah satunya memanfaatkan lahan kantor, seperti yang dilakukan Ana Budi Rahayu di kantor Bina Swadaya Konsultan (BSK) lantai 4 Gedung Wisma Janakarya Jakarta Pusat.

Ide berkebun di kantor menurut Ana, berawal memanfaatkan waktu luang dari rutinitas kerja. “Biar gak monoton urusin kerja terus, senang bisa sambil berkebun, yang penting kerjaan kan beres” tutur Ana penuh semangat.  Kemudian adanya ruang hijau kantor enak dipandang dan bisa membantu menjaga produktifitas kerja kita.

Ana menambahkan, berkebun itu tidak hanya penghias saja, tentunya memiliki manfaat. “Ini bisa jadi alternatif penghilang kepenatan saya dan teman- teman lainnya dari menatap layar komputer selama berjam-jam saat pekerjaan kantor menumpuk” tambah Ana.

Selain itu, berkebun di kantor bisa menyuplai udara segar nan sejuk, serta tidak ketinggalan yakni memperindah kantor menjadi lebih hijau, membuatnya menjadi lebih asri dan nyaman.

Meski baru mengawali, Ana yang di bantu Pak Herman tampak semangat dan senang melakoni kegiatan barunya ditengah rutinitas pekerjaan. Toko Trubus pun ia sambangi bolak-balik buat cari kebutuhan berkebun, seperti beli tanah, polybag, benih untuk penyemaian, sekop, dan lainnya. Tidak lupa biourine disiapkan sebagai nutrisi tanaman dari proses biogas urin sapi yang difermentasi, di dapat langsung dari Ciomas Bogor.

Saat ini, tanaman sawi yang di tanam akhir tahun lalu sudah berapa kali panen dan kini tersedia banyak di beberapa pot dan polybag dengan tumbuh dan mekar. Selanjutnya, rencana kedepan beberapa sayuran disiapkan seperti kangkung, cabe, terong dan lainnya. Hasil panen dari kegiatan berkebun di kantor bisa dinikmati oleh seluruh karyawan.

Apa yang dilakukan Ana, mencoba ikut andil dengan memberikan kontribusi untuk lingkungan, yang diwujudkan dengan memanfaatkan lahan di kantor. Ana mewujudkan aksi hijaunya dengan membuat suasana yang lebih nyaman dan enak di pandang. Selain itu, untuk menyebarkan semangat positif peduli lingkungan di perkotaan dengan program urban farming yang juga bisa diterapkan di perkantoran.

Berkebun selain mengasyikkan, juga membantu memberikan ruang terbuka hijau dan ketahanan pangan. Untuk saat ini, berkebun bukan hanya pekerjaan petani yang konvensional saja, tetapi bisa menjadi budaya baru bagi karyawan kantoran yang tak hanya bermanfaat secara ekologi tetapi punya nilai ekonomi dan estetika.

Berkebun di kantor tidak hanya soal tren semata, melainkan menjadi kesadaran untuk mewujudkan budaya baru yang ramah lingkungan.

Septian Ginanjar

Belajar Ternak ditempat Sersan Kambing

Tendi (baju putih) memberikan informasi tentang pemasaran kambing dan domba di Bangun Karso Farm (BKF)

Tendi (baju putih) memberikan informasi tentang pemasaran kambing dan domba di Bangun Karso Farm (BKF)

Udara sejuk dan gerimis hujan menyambut kami saat tiba di Bangun Karso Farm (BKF), Kampung Babakan Desa Palasari Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor.

Dikomandani Ibu Frida, saya, Mas Unik, Mas Anto dan Mba Ana antusias nikmati belajar di BKF. Saat menjejakan kaki dan sejauh mata memandang, kami terpukau pada pandangan pertama lihat peternakan ini. Meski suasana renovasi, tapi aura kesuksesan tampaknya terhampar luas, seluas peternakan yang katanya terbesar di Bogor milik tentara aktif Pak Bangun Dioro.

Teh Rina (Staf BKF) menghampiri dengan ramahnya mempersilahkan kami istirahat di rumah panggung berdinding kayu. “Rumah yang pas sekali dengan nuansa peternakan desa dan pepohonan yang rindang”, ucap saya.

Sambil tunggu Pak Bangun yang lagi keluar karena ada keperluan, saya sempatkan lihat foto Bangun Dioro dan berguman, bagaimana bisa seorang tentara aktif dengan pangkat Sersan Kepala mampu membagi waktu sebagai prajurit dan aktivitasnya sebagai pengusaha ternak kambing.

Penasaran pun menyeruak, saya tanya Mbak Ana yang sebelumnya pernah berkunjung ke sini. “Pak Dioro itu luar biasa dari susah dan dari bawah banget dengan memelihara 2 kambing hingga bertambah banyak dan sukses seperti sekarang”, tutur Mba Ana.

Haus informasi ini rasanya tak hilang dan penasaran tetap mendekap, hingga saya bersama teman-teman tetap berupaya menunggu Pak Bangun sambil kukurilingan melihat usaha ternak yang terhampar seluas 19 Ha, luar biasa.

Kami beranjak melihat langsung peternakan kambing dan domba. Tampak tiga kandang megah dengan konstruksi dan dinding besi beralaskan kayu beratap biru legam. Saya fikir, kandang ini baru dibangun dan diperuntukkan tampung kambing dengan jumlah banyak.

Desainnya sangat available, tempat pakan efektif dan langsung menghadap kambing, minumnya otomatis dari pompa melalui pipa 3/4” langsung tersalurkan kesetiap kandang. Kandang itu sangat terbuka dengan atap menjulang tinggi dan ada sekat besi bagi ragam kambing etawa, sapera, jawa randu dan domba.

Tak lupa menarik perhatian, setiap kandang ada lorong yang muat mobil pick up masuk ke bawah kandang, gunanya untuk ambil kotoran dan tentu dibuat pupuk kandang. Kandang itu begitu mentereng di lahan atas, sehingga kami luput ada satu kandang lagi di lahan bawah yang konstruksinya masih berupa kayu. Kemudian terlihat di seberang, ada satu kandang berisi beberapa sapi gemuk yang sehat.

Melihat langsung peternakan kambing dan domba di tempat kandang baru

Melihat langsung peternakan kambing dan domba di tempat kandang baru

Para pekerja sibuk dengan pakan dan renovasi, kami pun hanya sekedarnya bertanya teknis pemeliharaan kambing dan kandangnya. Seperti tiga kandang baru itu berukuran 36 x 6 meter, dengan sekat besi untuk koloni, kawin, individu, dan ukuran 2 x 2 untuk peranakkan/melahirkan.

Terdengar sahut-menyahut dengan khasnya suara embeee…, lalu kami pun hampiri ribuan kambing dan domba di kandang baru itu. Tampaknya mereka asyik dengan koloninya, bermain bersama anak-anaknya dan mungkin betah dengan suasana kandang baru.  Meskipun bau kandang, tapi tak mantap rasanya bila kami belum bercengkrama atau sekadar menyapa, mengusap dan memotret kawanan kambing serta domba yang begitu sehat.

Kami pun bertemu dengan Marketing BKF Tendi Ristiandi. Tendi menjelaskan dari tiga kandang baru yang di bangun itu menampung empat ribu kambing dan domba. Jadi per kandangnya total ada seribuan.

Tendi menuturkan, areal seluas 19 Ha memang diperuntukan peternakan domba dan sapi potong yang diarahkan untuk memenuhi permintaan menjelang Idul Kurban dan acara lainnya. “Kita jual hidup untuk kebutuhan kurban untuk kambing atau domba jantan dan acara seperti akikah atau spesialis kambing guling”, tutur Tendi.

“BKF juga menyuplai untuk kebutuhan PSK (Pojok Sate Kiloan) di Sentul, Puncak, dekat UI dan tempat lainnya dengan harga sate 45.000/kg hidup, beda dengan harga kurban sekitar 70 – 80.000/kg hidup”, ucapnya.

Selain itu, menurut Tendi, keunggulan BKF adalah dalam rentang usia 5 sampai 6 bulan itu, bobot 25 sampai 30 kg, salah satunya karena kita crossingan domba priangan dengan teksel seperti dari domba Wonosobo yang gemuk.

Mengenai pemasaran, baiknya figur Pak Bangun dan mudah diterima tiap kalangan serta publikasi media yang banyak, membuat BKF gampang dikenal publik dan jadi langganan masyarakat bahkan pemerintah “Kebetulan saya bagian pemasarannya, tapi sebelum ada saya, nama Pak Bangun sudah banyak orang tahu, jadi pemasarannya pun terbantu dengan kuatnya sosok beliau. Banyaknya liputan media yang datang ke BKF juga turut bantu promosi dan pemasarannya” kata Tendi.

Harapan untuk ketemu pun urung terlaksana, karena sibuknya Pak Bangun diluaran sana. Rasanya tak kenal maka tak sayang, saya searching profil beliau yang inspiratif. Akhirnya saya mendapati “Kiat Sukses Berternak oleh BKF” dari Mba Ana sewaktu pertama datang ke BKF.

Awal mula pria kelahiran Banyumas itu menggeluti sektor peternakan adalah harga hewan tak pernah turun mengikuti perkembangan zaman serta inflasi, lalu warisan leluhur dan tentunya berternak adalah sunnah Rosul.

Sersan yang saat ini bertugas di Kesatuan Kompi Denmabesad TNI AD ini dikenal sebagai pekerja keras. Sampai ia membuat petuah bijak, “barang siapa tidak bekerja keras di waktu muda, maka dijanjikan akan bekerja keras di masa tua. Begitulah spirit awal yang dibangun dengan niat dan dorongan yang kuat untuk mengembangkan peternakan BKF.

Semenjak tinggal di Bogor dan jadi anggota TNI, Pak Bangun memulai usahanya dengan wajib menguasai cara berternak dengan baik. Salah satunya mengasah kemampuan berternak dengan magang di Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi Bogor. Kemudian rajin jalin hubungan antar sesama peternak dan pandai mencari mitra usaha serta kerja sama saling menguntungkan jadi kunci suksesnya dalam usaha ternaknya.

Komitmen dan pengabdian sebagai prajurit pun tetap kuat dan bangga. Beberapa sumber yang didapat, di kesatuannya juga ia membantu rekan-rekan dari memelihara kambing. Bahkan Presiden ke-6 SBY, sempatkan menyambangi lokasi usahanya setelah mendengar popularitasnya sebagai anggota TNI yang mampu mengembangkan usaha peternakan kambing. Kemudian, meminta Bangun Dioro untuk memberikan pelatihan usaha ternak kambing ke masyarakat di beberapa daerah.

Tentara aktif ini, kini sering dijuluki sebagai Sersan Kambing. Sersan yang sukses dengan usaha peternakannya dan mampu memasok kambing ke masyarakat luas. Mungkin bisa kita sebut Sersan berpenghasilan melebihi Jendral.

 

Septian Ginanjar

(Kegiatan belajar Tim Marketing BSK tentang Peternakan di Bangun Karso Farm, Bogor) 

 

 

Tak Ada Kata Tidak Untuk Mencoba

Agustinus Bety

Agustinus Bety

Kira-kira begitulah judul yang tepat untuk menggambarkan pribadi seorang Agustinus Bety, wakil ketua KSM Sejati Desa Noebesa. Bertahun-tahun lalu, lahan seluas 7 hektare miliknya tak pernah bisa ia tanami apapun, bahkan tanaman jagung yang notabene tanaman utama masyarakat Pulau Timor.

Bertahun-tahun lamanya lahan itu menjadi lahan tidur. Padahal, dengan lahan seluas itu, ia bisa menanaminya dengan jagung dan kacang-kacangan. Namun apa daya, lahannya itu seolah “mandul”. Kala itu, Agus tak memiliki keyakinan pasti apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi.

Cerita mulai berubah ketika Bina Swadaya Konsultan memilih Desa Noebesa sebagai salah satu desa dampingan mereka. Tergabung dalam FPRB dan KSM membuat masyarakat Desa Noebesa memiliki wawasan lebih luas dengan pemikiran yang lebih terbuka. Begitu pula dengan pria yang berparas tegas ini. Setelah mendapat berbagai pengetahuam tentang budidaya sayuran, dari mulai tahap persiapan lahan sampai pada tahap panen, ia mulai berpikir untuk mencoba menanami lahan matinya tersebut. Segala teknik persiapan lahan, seperti pembuatan teras, rorak, dan jebakan air, mulai ia terapkan di lahan tidurnya.

Dengan lahan seluas itu, ia berpikir untuk mengajak kedua mamak-mamak yang juga anggota KSM, yaitu Efronsina Liunima dan. Mengajak mereka berarti turut mengembangkan pengetahuan sehingga praktik ini bisa dilakukan bersama-sama. Selama proses menerapkam praktik budidaya sayur ini, ia juga tak lupa berdoa agar kesempatan kali ini ia bisa menuai hasil.

Benar saja, lahan tidur yang semula menolak menumbuhkan apapun dari dalam tanahnya, kini mulai memperlihatkan hasil yang nyata. Perlahan-lahan benih mulai berubah menjadi bibit dan memperlihatkan bentuk.

Keyakinannya untuk tetap mencoba menanami lahan yang sempat tertidur sampai kini terbukti membuahkan hasil yang manis, menjadi satu pelajaran penting bagi masyarakat Noebesa. Oleh karena itu, tak berlebihan rasanya jika menjadikan Agustinus Bety sebagai salah satu motivator yang patut diapresiasi.

Fransisca Risky Mayang Arum

(Program Partners for Resilience di Desa Noebesa, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT)

Keuletan yang Berbuah Manis

Thomas Taek, Petani Motivator Desa Netutnana

Thomas Taek, Petani Motivator Desa Netutnana

Bagi salah satu tokoh adat di Desa Netutnana ini, tak ada kata malas. Sehari-hari ia rajin ke kebun untuk menyirami tanaman dan mencari rumput untuk ternak-ternaknya. Tanaman yang selalu ada di kebunnya berupa jagung dan tanaman kacang-kacangan, tanaman “sejuta umat” bagi masyarakat NTT karena menjadi makanan pokok mereka. Namun, beberapa tahun terakhir, lahan kebunnya tak melulu dihiasi jagung dan kacang-kacangan. Sejak diperkenalkan budidaya tanaman sayur melalui kegiatan Program for Resilience dari Bina Swadaya Konsultan (BSK), ia mulai menanam berbagai jenis sayuran.

Thomas Taek adalah salah satu tokoh adat Desa Netutnana yang terpandang, meski begitu ia tidak nampak seperti tokoh adat yang lekat dengan kesan berwibawa, menyeramkan, dan hemat gerak atau bicara. Lelaki yang akrab disapa TT, yang merupakan dua inisial dari nama panjangnya, justru berperilaku sebaliknya. Ia adalah sosok yang ramah, humoris, dan bisa dikatakan romantis, terlihat dari bagaimana ia sering bercanda bersama istri tercintanya.

Tiga tahun lalu, sebelum BSK mendampingi masyarakat Netutnana dalam program PfR, Pak TT dan masyarakat Desa Netutnana lainnya masih terbiasa menanam tanaman jagung dan kacang-kacangan, seperti kacang-kacangan hijau dan kacang panjang. Sistem pertanian yang masih diterapkan kala itu adalah sistem tebas bakar. Mereka juga belum pernah menanam sayur dan belum tahu bagaimana melakukan budidaya sayur. Hal tersebut salah satunya dipicu oleh terbatasnya sumber air di desa ini, sedangkan melakukan pemeliharaan tanaman sayur sangat membutuhkan air.

Sebenarnya, Desa Netutnana meemiliki beberapa sumber air, seperti mata air, sumur, dan juga sungai. Akan tetapi, beberapa sumber daya air tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara optimal karena akses yang sulit, jarak yang cukup jauh, dan debit air yang terbatas, terutama ketika musim kemarau tiba. Hambatan itu kiranya yang masih membuat masyarakat enggan menanam sayur.

Namun, setelah diperkenalkan dengan program-program pengurangan risiko rencana yang terintegrasi dan membentuk sebuah Forum Pengurangan Risiko Bencana, masyarakat perlahan mulai mengetahui hal-hal yang bisa mengembangkan desa mereka. Misalnya, mereka mulai paham bagaimana melakukan tindakan-tindakan antisipasi terhadap berbagai ancaman yang ada di desa, mereka tahu cara memaksimalkan daerah tangkapam air untuk meningkatkan kuantitas air, dan juga mereka tahu bagaimana mengolah budidaya sayur yang bisa meningkatkan ekonomi mereka.

Salah satu yang selalu semangat bergerak dan berupaya menyukseskan kegiatan adalah TT. Selain berusaha bergerak untuk melakukan hal-hal yang bisa meningkatkan kapasitas lingkungan desa, ia juga mulai mencoba meningkatkan kapasitas dirinya melalui budidaya sayuran. Baaginya, kesempatan belajar dalam fprb ini adalah kesempatan baik, sedangkan ketersediaan lahan dengan sumber air yang tidak terlalu jauh membuat TT lebih mudah untuk mencoba bertanam sayur, seperti kangkung, sawi, tomat, dan cabai. Dengan berbagai pelatihan mulai dari persiapan lahan, pembibitan, penyemaian, TT mulai mengembangkan budidaya sayur.

Di samping itu, bakat tekun yang memang sudah ada di dalam dirinya memudahkan ia untuk terus mencoba mengembangkan budidaya pertanian organik. Dalam waktu satu tahun, TT telah berhasil mengembangkan budidaya pertanian tersebut dan mampu menambah penghasilannya. Berkat kegigihannya, ia mampu meningkatkan perekonomian keluarganya tanpa luput untuk selalu menjaga lingkungannya.

Kini, keberhasilannya mulai diikuti oleh anggota masyarakat yang lain. Dengan semakin banyaknya orang yang bergerak seperti TT, semakin banyak pula upaya konservasi yang dilakukan masyarakat desa ini.

D. Citra Larasati

(Program Partners for Resilience di Desa Netutnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT)

Izak Selan: Penggerak Anak-Anak Sekolah

Izak Selan

Izak Selan

Sehari-hari, lelaki berusia 52 tahun ini menjalani kehidupannya sebagai penjaga sekolah di salah satu sekolah negeri di Desa Oinlasi. Pria ramah yang selalu membingkai wajahnya dengan seutas senyum ini merupakan salah satu anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana Desa Oinlasi. Kesan sederhana terlihat dari penampilannya sehari-hari. Akan tetapi, di balik kesederhanaannya itu, Izak Selan memiliki semangat yang sangat kaya untuk terus bekerja dan bergerak membangkitkan Forum PRB di desanya.

Sebelum mengenal PfR dan bergabung bersama FPRB, lelaki yang biasa disapa Om Izak atau Pak Izak ini bekerja sebagai tukang jika segala kewajibannya di sekolah sudah ia lunasi. Dengan penghasilan tambahan dari bekerja sebagai tukang ini, ia masih bisa membiayai seorang istri, dua anak kandungnya, dan empat anak sekolah yang ia asuh. Kebaikan hatinya ini membuat ia dekat dengan siapa saja, terutama anak-anak sekolah.

Ketika BSK datang pertama kali ke Oinlasi, Om Izak merupakan salah seorang yang langsung tertarik dan bersemangat untuk bergabung dalam program ini. Ketertarikannya berawal dari rasa ingin tahunya karena inilah pertama kalinya desa mereka mendapat kesempatan untuk berkembang lewat pemberdayaan.

Pengalamannya selama bergabung dengan FPRB tidak bisa dikatakan mudah. Jatuh bangun dalam mendorong masyarakat, penolakan dari berbagai pihak, sempat mewarnai lika-liku perjalanannya di FPRB. Meskipun begitu, ia tetap yakin bahwa dengan semangat dan niat tulus ia bisa mendorong masyarakat Oinlasi bersama-sama berkegiatan dalam naungan forum PRB untuk menuju masyarakat yang tangguh. Ia juga mulai memanfaatkan lahan untuk dijadikan kebun sayur dengan menerapkan sistem pertanian organik yang ia pelajari selama mengikuti FPRB. Akan tetapi, bekerja sendiri bukanlah tujuan utama dari kegiatan ini. Oleh karena itu, ia rajin mengajak tetangga dan para anggota FPRB yang lain untuk menanam sayur di lahan masing-masing dan lahan kelompok KSM.

Semangatnya itu tak hanya ia tularkan ke orang-orang dewasa, tetapi juga ke sekolah-sekolah. Profesinya sebagai tenaga pekerja di sekolah membuat ia memiliki potensi yang besar untuk menyosialisasikan program ini ke anak-anak. Ia juga turut menyosialisasikan kerangka resiliensi di sekolah-sekolah. Hal yang patut diapresiasi karena anak-anak adalah tonggak kemajuan. Jika sedari dini anak-anak tersebut sudah dibekali paradigma tentang kerangka resiliensi, nantinya anak-anak tersebut akan menjadi agen-agen penerus tangguh yang semakin mengembangkan desanya.

Tak hanya itu, Om Izak  juga mengajari mereka cara menanam sayur yang bisa diterapkan anak-anak tersebut di rumah atau di demplot sekolah. Bahkan anak kandungnya dan keempat anak asuhnya kini memiliki bedeng sayur masing-masing dan bisa membiayai keperluan sekolah mereka sendiri, seperti membeli alat tulis dan sepatu.

D. Citra Larasati

(Program Partners for Resilience di Desa Oinlasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT)

Ketika Perempuan Tak Lagi Hanya Sebatas Kasur, Sumur, dan Dapur

Mak Lin

Mak Lin

Suaranya teramat lantang. Matanya terkadang teduh terkadang menggambarkan ketegasan. Wanita paruh baya ini memang tidak seperti wanita desa pada umumnya. Ia mampu berlaku gagah bak pengacara atau proklamator, “bersuara”, dan “bergerak”. Seorang wanita desa yang menjunjung tinggi semangat kartini, semangat perjuangan kaum hawa yang masih terkesan minor, terutama bagi wanita NTT yang masih harus bertahan di bawah lekatnya budaya patriarki. Belandina, atau yang akrab disapa mak Lin, dinobatkan sebagai petani motivator Desa Nakfunu oleh Bina Swadaya Konsultan.

Sehari-hari, Mak Lin bekerja di kebun sayur miliknya. Selain itu, ia juga merupakan seorang kader posyandu di Desa Nakfunu. Mak Lin memang terhitung sebagai seorang yang aktif di desanya. Ketika BSK masuk pun ia salah satu orang yang memiliki semangat dan kepercayaan bahwa kegiatan ini kelak akan bermanfaat bagi desanya.

Mak Lin merupakan Ketua KSM Adikka yang terletak di dusun 2. Berbagai kegiatan dan pelatihan yang diberikan BSK semua ia ikuti dengan baik. Ia juga menggerakkan masyarakat dusun 2 untuk bergabung bersama kegiatan ini. Dia bisa menggerakan anggota kelompoknya dengan baik untuk terus bekerja bersama-sama membangun kelompok, walaupun tentu saja di tengah perjalanannya ia menemui kerikil-kerikil tajam. Kedua, ia juga bisa mengajak anggota kelompok untuk bekerja di demplot dan membuat bedeng-bedeng sayur sehingga sampai saat ini, setiap anggota kelompok telah memiliki bedeng-bedeng sayur masing-masing.

DI samping pencapaian di bidang livelihood, Mak Lin juga telah memiliki kesadaran bahwa lingkungan tempat mereka tinggal rawan terhadap ancaman longsor dan kekeringan. Oleh karena itu, ia bersama-sama dengan anggota KSM rajin melakukan kegiatan penanaman di daerah-daerah rawan longsor. Berkat kegigihan dan niat yang tak pernah pudar, mereka akhirnya bisa mendapatkan bantuan dana Dinas Kehutanan sebesar 40 juta. Demi kemajuan anggotanya, Mak Lin bahkan merelakan tanahnya untuk dijadikan demplot dan untuk ditanami anakan dengan luas 4 ha. Hal yang tentu tidak mudah mengingat masyarakat NTT yang masih menerapkan sistem pertanian tebas bakar ketika musim tanam jagung tiba. Sistem tebas bakar mengharuskan mereka menebang semua pohon dan membakarnya untuk ditanami jagung yang merupakan makanan pokok masyarakat Pulau Timor. Mereka lebih baik menebang pohon daripada tidak bisa menanam jagung.

Kelantangan Mak Lin tidak hanya terbatas di lapangan saja, tetapi juga ketika berhadapan dengan para aparat pemerintahan. Ia tidak pernah malu dan tidak pernah gugup ketika harus berdiri di depan untuk menjelaskan sesuatu. Melihat kepercayaan diri mak Lin yang seperti itu, siapa pun pasti akan terkagum-kagum. Ada kartini yang bersemayam dalam dirinya yang membuat ia mampu bekerja dan bersuara layaknya seorang pria. Hal yang sudah tentu masih jarang dilihat mengingat ia hidup dan besar di desa yang masih menjunjung tinggi patriarki. Oleh karena itulah, sudah sepantasnya Mak Lin dinobatkan sebagai petani motivator Desa Nakfunu.

D. Citra Larasati

(Program Partners for Resilience di Desa Nakfunu, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT)

Kemolekan Gunung Api Purba Nglanggeran jadi Community Based Tourism

Landscape Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran

Kegiatan staff development program di Yogyakarta berlanjut menuju Desa Nglanggeran. Perjalanan dari Yogya menuju Desa Nglanggeran begitu mempesona. Tampak kiri-kanan jalan bukit-bukit hijau asri terbuai angin sejuk menuju utara Gunung Kidul. Terlihat dari jauh landscape Gunung Api Purba berdiri tegak dan tangguh, namun begitu manis karena dikerumuni hijaunya pohon yang rimbun.

Saya fikir Yogya hanya memiliki satu gunung api. Ternyata, Daerah Istimewa ini memiliki dua buah gunung api jutaan tahun lalu yaitu Gunung Merapi dan Gunung Nglanggeran. Hanya saja, Gunung Api Nglanggeran kini sudah tak aktif lagi dan hanya menyisakan bongkahan batu raksasa yang berderet gagah dengan pemandangan yang sangat indah.

Jalanan aspal yang begitu mulus, perjalanan pun begitu cepat tak terasa. Padahal sudah menempuh kurang lebih 20 km dari kota Wonosari dan 25 km dari kota Yogya. Tiba di desa, senyum hangat pun terpancar dari sambutan Pemdes (Pemerintah desa) Nglanggeran Kecamatan Patuk Kabupaten Gunung Kidul, tatkala Bina Swadaya Konsultan (BSK) menyambangi desa itu. Balai desa dengan ukuran kurang lebih 9 m x 15 m, dan dinding terbuka berhiaskan peta desa inilah tempat pertemuan BSK dengan Pemdes Nglanggeran.

Pada saat diskusi berlangsung, BSK mendapat leaflet lipat tiga tentang profil Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba dan Desa Wisata Nglanggeran. Leaflet itu bagian dari promosi usaha BUMDes dalam bidang jasa pariwisata lokal.

Menarik untuk disimak, leaflet tersebut cukup menyedot perhatian saya dan mungkin teman-teman BSK juga. Materinya dikemas apik dan bervariatif, seakan menunjukan konsistensi wisata lokal yang begitu menarik untuk dikunjungi wisatawan.

Pandangan pertama pada kemolekan Gunung Api Purba tadi diperjalanan dan tentunya diperjelas lagi di leaflet, saya meyakini kawasan ekowisata ini akan terus digandrungi wisatawan lokal maupun luar daerah dan bahkan mancanegara.

Pejelasan tentang pengembangan ekowisata dipaparkan oleh oleh teman-teman Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Nglanggeran. Dengan seragam hitamnya, teman-teman Pokdarwis  tampak antusias berbagi pengalaman bersama kita. Menurut Pokdarwis, pengembangan wisata alam ini dikelola secara profesional dan mandiri. Maksudnya mandiri adalah cara pengelolaan dengan pemberdayaan masyarakat. “Masyarakat yang ada disekitar ikut mengelola objek wisata. Ini termasuk dengan pengembangan home stay atau penginapan yang disediakan oleh warga untuk pengunjung”, ucap Pokdarwis.

Kelompok ini adalah pemuda dan pemudi setempat yang tergabung dalam  Sentra Pemuda Taruna Purba Mandiri, Pokdarwis dan karang taruna Bukit Putra Mandiri. Melalui misi untuk membangun dan meningkatkan ekonomi produktif, Pokdarwis pun melibatkan peran semua anggota karang taruna dalam setiap program kerja yang disusun.

Ucapan salut dan apreciate pokoknya buat pemuda pemudi atau remaja yang mempunyai kepedulian pada daerahnya, terlebih berkaitan dengan kelestarian lingkungan. Kemudian menjadi wahana perluasan kerja bagi masyarakat serta peningkatan pendapatan desa.

Pengembangan objek wisata Ngalnggeran telah menjadi community based tourism. Dengan memberikan askes dan kesempatan bagi masyarakat, tentunya ini akan memaksimalkan peran serta masyarakat dalam berbagai aspek pembangunan objek wisata secara berkelanjutan.

Saya fikir Inilah gerakan desa dalam mensejahterakan masyarakat. Artinya masyarakat terlibat dalam skema perencananan dan pelaksanaan pembangunan potensi desa, sehingga BUMDes ini bisa menjadi lokomotif penggerak ekonomi perdesaan dan masyarakat menjadi masinisnya yang didukung oleh Pemdes setempat.

Selanjutnya, kita diajak Pokdarwis untuk mendaki kemegahan gunung api purba Nglanggeran. Sepanjang jalan tatapan kita seakan berputar kiri-kanan, terpesona melihat pemandangan deretan batu besar terukir alami.

Sampai ditujuan, kita disambut semilir angin sejuk dan tentunya disuguhkan landscape gunung yang mengagumkan. Tampak banyak orang menggunakan kamera guna berfoto ria. Kita pun langsung merogoh kamera agar tidak menyia-nyiakan kesempatan berfoto dengan background gunung api purba.

Masih di kawasan sekitar gunung, terdapat embung (tampungan air) yang terlihat seperti telaga di puncak bukit. Jika ingin mencapainya, kita harus mendaki puluhan anak tangga yang berkelak-kelok.Menurut Pokdarwis, dijadikan telaga tadah hujan supaya bisa mengairi kebun buah rakyat seluas 20 ha yang ada di sekitarnya. Selain berasal dari air hujan, embung ini juga menampung air dari Sumber Sumurup yang terletak di Gunung Nglanggeran.

Mumpung masih berada di sekitarnya, saya dan teman-teman BSK tidak melewatkan kesempatan ini, untuk berlanjut menuju embung. Pokdarwis menambahkan, bahwa  Embung Nglanggeran merupakan salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan sunset di atas langit Yogyakarta.

Pada akhirnya mentari perlahan tenggelam dan membiaskan cahaya kemerahan. Tampak banyak pengunjung begitu riang mengabadikan panorama itu dengan foto, hingga saya dan yang lainnya pun ikut larut menikmati pesona alam, dengan tak hentinya memotret angle menarik sebagai kunci mendapatkan foto yang bagus.

Permukaan air telaga yang bias mentari senja dan gugusan gunung api purba di sisi kanan akan menjadi orkestra alam yang indah serta Gunung Api Purba Nglanggeran laksana benteng penjaga telaga.

Septian Ginanjar

(Kegiatan staff development program tentang UU Desa dan BUMDes di Yogyakarta)

 

Mama Belandina : Pelita di Tengah Keluarga

mama

Mama Belandina

Siang itu matahari berpendar dengan gagahnya, membuat peluh seolah berlomba keluar dari rongga kulit setiap orang yang terkena sinarnya. Suara lantang seorang ibu mengajak beberapa orang di kebun untuk beristiahat sejenak, tiba-tiba memecah siang yang cerah namun sejuk di daratan Pulau Timor.

Mama Belandina, begitu wanita itu dipanggil, adalah ketua kelompok Adikka Dusun 3 Desa Nakfunu, TTS, NTT.  Hampir seluruh anggota kelompok berkumpul di kebun belajar kelompok dusun 3. Ya, hari itu adalah jadwal kerja kelompok di lahan belajar yang merupakan manifestasi perencanaan warga Desa Nakfunu pasca kegiatan kajian PRB lalu.

Rasa lelah mulai terasa setelah setengah harian anggota kelompok bekerja membersihkan lahan untuk persiapan tanam. Mama Belandina bergegas mengambil satu teko air minum dari rumahnya–yang kebetulan letaknya dekat dengan lokasi lahan belajar, untuk anggota kelompok yang saat itu beristirahat di bawah pohon rindang. Seakan tidak kenal lelah, Mama Belandina kembali menuju rumah dan tak lama kemudian muncul membawa singkong rebus dan sambal luat yang baru saja dimasaknya untuk dimakan besama.

Penggerak Semangat

Sejak awal kajian, saya sudah mulai tertarik memperhatikan wanita 41 tahun yang begitu sering bercerita dan berani mengungkapkan pendapatnya di sela-sela diskusi kajian ini. Belandina adalah seorang ibu tiga orang anak yang dikenal gigih dan aktif dalam setiap kegiatan di desanya, Desa Nakfunu. Tak jarang pernyataan yang diungkapkannya selama kajian, memancing diskusi dan perdebatan dengan peserta kajian lainnya saat itu. Salah satunya adalah ketika fasilitator mengajak warga untuk berdiskusi mengenai peranan pihak-pihak yang ada di dalam desa untuk menyusun diagram venn. Saat itu Mama Belandina menyatakan bahwa dukungan pemerintah desa dinilai kurang terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan warga desa karena kepala desa yang jarang tinggal di desa. Hal lain juga terjadi saat diskusi mengenai kalender musim, akses control, dan alat kajian lain.

Ditemui di beberapa kesempatan, wanita yang juga menjadi kader kesehatan desa ini sebenarnya sangat bersemangat jika ada pihak luar yang mau mendorong warga untuk mencapai kehidupan yang lebih maju. ‘Lebih maju’ dalam pemahamannya, tidak melulu hidup sebagai petani miskin dan pasrah saja. “Beta senang memang dengan ada program-program begini karena dong kami bisa tau pengetahuan banyak supaya maju..”, tuturnya dengan wajah penuh senyum.

Tak ada jalan mudah yang ditempuh, dibalik kegembiraannya terselip nada pesimis, terselip nada pesimis terhadap warga dusunnya yang cukup ‘sulit’ untuk diajak berkelompok. Hal ini diungkapkannya ketika ia mengingat program yang lalu juga pernah menjadikan kelompok sebagai pendekatan dalam pelaksanaan program. “..warga dong pernah juga bentuk kelompok, tapi setelah program habis, kelompok dong tidak jalan lagi. Ada warga yang memang cuma mau kerja kalau ada program saja..

Di antara warga desa lainnya, Mama Belandina memang memiliki cita-cita dan semangat yang tinggi untuk memajukan kehidupannya. Semangat ini juga datang dari anak-anaknya yang saat ini menempuh pendidikan tinggi di Politeknik dan Universitas Terbuka. Pernah dalam suatu waktu ia berbincang dengan sang anak, “..mama dong biar tinggal di desa tapi tetap harus bisa maju dari yang lain. Jangan hanya mau hidup begini saja..” celoteh sang anak. Hal itu pula lah yang kemudian menjadi semangat bagi Mama Belandina untuk mengusahakan kehidupan yang baik. Berbekal semangat dan pengetahuan yang dimiliki, ia mengusahakan beberapa kebun sayur yang dikelolanya juga bersama keluarga.

*****

Singkong dan sambal telah habis dari piringnya. Satu teko air pun tandas bersamaan dengan itu. Sementara anggota kelompok …. masih asik berbincang sembari mengunyah sirih pinang sebagai salah satu kebiasaan sebagian besar warga desa. Mama Belandina dibantu dua orang ibu lainnya sibuk merapikan gelas dan piring untuk dibawa kembali ke rumah. Seperti juga matahari, semangat Mama Belandina bisa jadi adalah pelita yang tidak pernah redup bagi keluarga dan lingkungannya. Semoga…

Fransisca Risky Mayang Arum

(Program Partners for Resilience di Desa Nakfunu, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT)