• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Cerita

Geliat Asa di Pesisir Marunda

Terik pagi mulai menampakan hangatnya di Gunung Sahari tiga. Terlihat pula gumpalan awan abu menjadi payung naiknya panas matahari menjelang siang. Cuaca ibukota hari ini memang tampak panas meskipun langit berawan dan tidak cerah. Kamis (20/6), jam menunjukan pukul sembilan, dipelataran parkir telah kumpul bersama yakni Nina, Anang, Ispriambodo, Indah dan Septian. Agendanya adalah Tim Bina Swadaya Konsultan (BSK) berangkat ke Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara guna menjadi tim studi Yayasan Danamon Peduli (YDP).

Selama pejalanan ke Marunda, selain harus melawan macet juga harus beradu cepat dengan banyaknya kendaraan kontainer. Hawanya Jakarta begitu menyengat hingga meluruhkan keringat. Panas banget ya.. cuacanya melebihi panas di Surabaya” tutur Nina. “Maklum Mbak, selain Jakarta memang panas, perjalanan kita kan ke wilayah pesisir yang khas dengan hawa panasnya” jawab Septian.

Setelah sampai di kawasan paling timur Jakarta Utara itu, kami disambut Ibu Ida dan Pak Abdul pemilik kontrakan yang kami sewa untuk penginapan di Marunda. Mata memandang dinding rumah tersebut terlihat menempel dengan air rawa di belakang, “Hmm..pantesan warga menyebutnya ini wilayah Marunda Empang”, ungkap Septian. Rumah tipe 45 itu pun tampak dihuni beberapa mahasiswa STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran). Jadi kami pun melebur bergabung.

Sejenak rebahan istirahat sambil ngobrol ringan sama Ibu Ida, Indah mengajak laporan ke Pak RW. Yuk.. kita laporan dulu ke Pak Aman Bogor (Ketua RW 7) kita udah disini untuk memulai kegiatan”, ajak Indah. Kemudian Indah dan Nina berangkat menuju rumah RW yang memang tidak jauh lokasinya dari kontrakan.

Sekilas setelah membaca beberapa sumber informasi, Marunda  itu seperti pertautan legenda dan cerita nyata. Di kawasan yang terbilang tua itu, cerita Si Pitung dan Masjid Al Alam menyeruak dengan beberapa versi warga. Kemudian situs sejarah itu berserakan dan seolah menunggu ditata. Sebagai salah satu kawasan tua di Jakarta, Marunda memang hampir putus digerus roda zaman. Selain lingkungan alam yang mulai tidak nyaman, tingkat kepedulian masyarakatnya terhadap aset sejarah juga terhitung kurang.

YDP hadir menggandeng BSK guna melakukan program pengembangan Ikon Regional dan konservasi lingkungan di Marunda. Melalui metode Partisipatory Assesment (PA) ingin menyuguhkan pendekatan diskusi FGD (Focus Group Discussion) kepada warga. Harapannya, cara melibatkan warga dalam FGD ini, bisa memberikan informasi penting dan potensial bagi perkembangan Marunda kedepannya.

Cakupan peserta FGD yakni dari kelompok pemuda, campuran perempuan dan laki-laki, kelompok kesenian, kelompok perempuan, anak-anak dan kelompok dari tokoh masyarakat setempat serta, FGD dengan format lenong bagi kelompok masyarakat umum. Tujuannya guna mendapatkan gambaran secara spesifik dan jelas terhadap permasalahan, potensi dan usulan solusi secara partisipatif dari masyarakat Marunda.

Saat FGD, muncul geliat asa perbaikan Marunda yang diharapkan peserta. Isu ekonomi, lingkungan dan budaya begitu mengemuka saat diskusi. Tentunya ini cerminan adanya semangat perubahan kearah yang makin baik. Cuma aspek teknis dan dukungan yang minim dari pemerintah terkait.

Dalam FGD, muncul potensi ekonomi yang menyentuh kepada usaha berbasis wisata dan budaya betawi seperti membuat kerajinan miniatur Rumah Pitung dan Masjid Al Alam, pembuatan kapal Pinisi di dalam botol serta membuat souvenir tas. Meskipun masih terkendali pemasaran tapi para calon usahawan potensial ini bersedia untuk mengajarkan keterampilannya kepada warga lain sehingga berpeluang menjadi usaha berskala kelompok.

Selanjutnya, potensi budaya dari Kelompok Marawis remaja dan qasidah yang memang masih menonjol berada di RT 3 Masjid Al Alam. Kemudian semangat untuk kembali mengembangkan pencak silat sebagai bagian dari pelestarian budaya Betawi. Selain masih berminat untuk mengembangkan pencak silat, penghadiran kelompok lenong juga disambut baik oleh warga Marunda

Hasil FGD dipaparkan dalam bentuk sketsa wilayah dan diagram penghidupan atau pentagon asset livelihood masyarakat. Temuan FGD adalah sebagai dasar analisis untuk rekomendasi dari rencana aksi dalam rangka pengembangan rumah Si Pitung dan Masjid Al Alam kedepan. Sementara wawancara mendalam dan observasi berfungsi sebagai penguat data secara mendalam tentang fenomena yang terjadi serta di dukung oleh pengamatan terhadap segala kondisi yang ditemukan dan dirasakan.

Ketika FGD diwilayah RT 1 dan 2 Marunda Pulo, pandangan mata ini begitu berat dan lesu, tatkala melihat cagar budaya Rumah Si Pitung disekitarnya begitu banyak sampah. Pesisir laut dan empang di sepanjang jalan seperti jadi wadah raksasa dalam menampung sampah warga. Bahkan gorong-gorong rumah dan permainan anak-anak pun tak luput dari luapan sampah. Hingga malam tiba, air laut (rob) seakan “piknik” ke kawasan padat penduduk.

Selanjutnya persolanan MCK dengan tingginya minat warga Marunda menggunakan jamban “helicopter”, terkait adanya persepsi bahwa BAB di sungai lebih leluasa ketimbang BAB di jamban pribadi yang rasanya seperti BAB dimangkuk. Pertimbangan lain yang masih menahan warga untuk tidak mendirikan jamban pribadi adalah soal biaya dan luas ruang yang tidak memadai untuk dibangun jamban.

Mengutip ucapan Pak Tarmizi ketua RT 1 mengatakan, wilayah sekitar Rumah Si Pitung dulu begitu hijau, pepohonan pesisir masih rapat, pohon-pohon bakau, kaktus, bunga sepatu dan bougenvile cukup banyak, Tak heran lokasi ini jadi favorit industri perfilman di era tahun 70 an dan jadi tempat dimana kegiatan shooting film-film betawi sering dilakukan. “Dulu disini neh favorit shooting artis dan film betawi, udeh banyak judul film dibikin lokasinya disini” bangga Pak Tarmizi.

Namun menurutnya, sekarang dengan lingkungan kotor banyak sampah dan maraknya pabrik serta diuruknya empang alam untuk pembuatan rumah susun, jadi membuat daya tarik Marunda pudar. “Jangankan buat shooting film kayak dulu, buat wisata dan ziarah aje pengunjungnya sedikit” keluhnya.

Harapannya, melalui program pemberdayaan masyarakat ini bisa memberikan pemahaman dan penyadaran pada masyarakat akan nilai penting Rumah Si Pitung dan Masjid Al Alam sebagai pusat kegiatan masyarakat, yang nantinya bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, baik secara lingkungan, budaya dan sosial-ekonomi. “Target yang harus dicapai dahulukan perubahan perilaku masyarakatnya baik di bidang lingkungan dan kesehatan. Soalnya Ini penting jadi penentu kesejahteraan masyarakat. Udah tu pelestarian budaya dan pengembangan sosial-ekonomi dan infrastruktur” terangnya.

Saat diskusi, warga RT 1 dan 2 pun memang menyadari perilaku salah dalam membuang sampah seenaknya dan berakibat lingkungan pun kotor. Warga terpaksa karena TPS (Tempat Pembuangan Sampah) minim, jika ada pun sudah rusak, dan lokasi TPS berdekatan dengan pinggiran laut, jadi akhirnya laut terkontaminasi dengan tumpukan sampah. Fasilitas memadai untuk TPS, infrastruktur jalan, pelestarian budaya, serta paling utama peningkatan usaha ekonomi warga menjadi aspirasi utama warga dalam diskusi.

Berjarak sekitar 200 meter dari Rumah Si Pitung masih kawasan Marunda Pulo, terdapat Masjid Al Alam. Perjalanan dari Rumah Si Pitung ke Masjid Al Alam membuat miris mata. Sampah seakan mengikuti langkah ini, lalu hitam pekatnya empang menandai beratnya polusi di Marunda. Tapi saat itu, kami tidak berani berkegiatan sampai malam di RT 3 dan 4 sekitar Masjid Al Alam, karena rob akan menghampiri dan menyulitkan perjalanan kami. Meskipun lingkungan kotor disekitar Masjid, tapi terlihat beberapa peziarah masih ada yang datang ke masjid Al Alam.

Menurut warga di RT 3, Masjid Al Alam sangat miskin sentuhan perawatannya. Warga secara sukarela melakukan perawatan terhadap Masjid tua yang konon dibangun oleh Fatahillah dan balatentara gabungan Demak-Cirebon itu. Kini Masjid Al Alam lebih baik setelah Pemerintah Kota Jakarta Utara telah menetapkan sebagai cagar budaya.

Masjid Al Alam memang sedikit berubah dibanding aslinya dulu. Itu terjadi dikarenakan masjid bercorak campuran Jawa, Cina, Eropa dan Arab itu sudah mengalami sekitar 7 kali renovasi. Mungkin yang masih dianggap asli adalah 7 lubang angin yang terbuat dari batu giok berwarna hijau kebiruan dan tiang-tiang utama penyangga.”Umurnya sudah ratusan tahun,”ujar M. Sambo, salah satu pengurus Masjid Al Alam.

Mengutip Pak Basni, tokoh masyarakat Marunda menuturkan, kampung kita ada daya tarik melebihi dari kampung lain, ini merupakan warisan budaya dan sejarah dari nenek moyang yang perlu kita lestarikan. Masyarakat marunda harus bangga dan harus mampu mempertahankan agar tetap menjadi lestari…”

Septian Ginanjar

(Program pengembangan Ikon Regional dan konservasi lingkungan di Marunda)

Berkat Ketulusan, Kini Lahirkan Ahli Perunggasan

Kang Didin

Kang Didin

Kesan pertama saat perkenalan begitu biasa, tapi tatkala perkenalan lebih lanjut dan ajang curhat semata, bapak kalem asal Ciamis ini dengan lembut penuh senyuman menuangkan kata-kata semangat serta perjuangan yang luar biasa, berharap selalu mampu membantu masyarakat tidak mampu.

Pertemuan saya berawal saat lokakarya Technical Service (TS) yang di selenggarakan SAFE (Strategies Againt Flu Emergence) gandeng Bina Swadaya Konsultan (BSK). Kegiatan dilaksanakan selama dua hari (23-24/5) di Hotel Santika di Jln. Yudanegara Tasikmalaya.

Obrolan kecil dimulai pertama di mobil travel menuju proyek percontohan peternakan untuk teaching farm, di daerah Sadangherang Ciamis. Kemudian obrolan berlanjut di hari kedua saat rehat makan siang dan sholat.

Saat rehat menikmati sejuknya udara dan desiran angin di pool side lantai dua hotel, serta indahnya landscape gunung Galunggung, mulailah mengalir pembicaraan serius nan santai. Saya nikmati alur cerita pria yang biasa dipanggil Akang itu. Namanya Kang Didin, sehari-hari akang yang murah senyum ini bergelut dengan usaha peternakan.

Saat ditelisik lebih jauh, ternyata kang Didin profesinya adalah guru di SMK Nurul Huda di Jln. Desa Sindangmukti Kecamatan Penumbangan Ciamis. Menurutnya, menjadi guru itu adalah dedikasi dan ketulusannya guna membagi pengalaman perunggasan.

Berangkat dari rasa prihatin terhadap masyarakat tidak mampu disekitarnya, Kang Didin bercerita tentang perjuangan membagi ilmu perunggasan yang telah lama ia tekuni kepada masyarakat di kampungnya. “Niat saya hanya ingin membagi ilmu perunggasan dengan tetangga dan masyarakat sekitar, amanat saudaranya yang ia terima guna mengelola sebidang tanah wakaf, lalu ingin membangun sekolah kejuruan dengan jurusan Agronomi bersama Pak Kuswara yang saat ini jadi kepala sekolahnya “, harap Kang Didin.

Dibangunlah sekolah kejuruan bernama SMK Nurul Huda. Sekolah yang ia rintis 4 tahun lalu bersama Pak Kuswara yang saat itu menjabat Kepala Dinas Peternakan Ciamis. Sekolah inilah yang pertama di Jawa Barat berbasis agronomi.

“Ciamis adalah kabupaten yang memiliki potensi bagus jika memiliki sekolah SMK dengan jurusan Agronomi. Selain menjadi perintis, ini bisa meningkatkan produktifitas ternak ayam di Ciamis” ungkapnya. Namun perjuangan ini tidak ringan, karena minat masyarakat ternyata begitu rendah melihat masa depan usaha ternak ayam. Inilah perjuangaan berat Didin 4 tahun lalu yang disikapi dengan ketulusan tanpa kenal menyerah.

Kang Didin dan peserta lainnya dalam pelatihan Technical Service SAFE DAI, Tasikmalaya

Kang Didin dan peserta lainnya dalam pelatihan Technical Service, Tasikmalaya

Dengan misi ingin memperbaiki kondisi ekonomi kampungnya, Didin bergerak mencari donator pembangunan sekolah. Karena pergaulan yang luas di dunia peternakan ayam, akhirnya mengantarkannya bertemu dengan perusahaan ayam besar Poultry Shop Tanjung Jaya. Perusahaan ternak inilah yang menggelontorkan kebutuhan pembangunan sekolah. Kemudian munculnya peran masyarakat sekitar pun dan dana yang hadir dari mana-mana, menjadikan kokohnya semangat generasi Penumbangan yang lebih baik.

Ternyata masalah pun belum surut, sebagian masyarakat Penumbangan masih berfikir SMK Agro tidak memiliki masa depan. “Karena kurang minatnya jurusan Agro, akhirnya saya, pak Kuswara dan teman di Poutry berfikir guna membuka kelas teknik kendaraan ringan dan jaringan komputer sebagai pancingan agar warga sekitar mau”, tegas Didin. Tapi berjalannya waktu Didin selalu bersosialisasi dan membuka media pertemuan tentang peternakan dengan masyarakat Penumbangan. “Selain itu, saya mengajak teman yang sukses dibisnis ayam untuk membuka mind set masyarakat soal peternakan, agar dapat memberi kepuasan diri menuju kesuksesan menjadi pengusaha peternak ayam” harap Didin.

Sekarang menurutnya sudah ada 300 siswa lebih yang didominasi oleh masyarakat Penumbangan dan Panjalu. “Alhamdulillah, sekolah ini didirikan untuk menampung siswa tidak mampu dan selama 4 tahun berjalan, mampu menampung siswa dari Ciamis bahkan dari daerah lain di Jabar dengan program beasiswa yang ada” jelas Didin.

Dikutif dari beberapa sumber, lulusan Nurul Huda mulai menikmati hasil. Kurang lebih 49 lulusan pertama tahun 2011 saja, 90 persen di antaranya bekerja di berbagai perusahaan peternakan ayam di Pulau Jawa dan Kalimantan. Selain itu, sudah ada beberapa siswa berprestasi yang sekarang melajutkan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), bahkan perusahaan banyak menawarkan pekerjaan kepada sekolah untuk siswanya.

Berlanjut pada lulusan tahun 2012. Meski belum lulus, 66 siswa sudah diincar oleh beberapa perusahaan. Jumlah lulusan itu jauh dari total permintaan 88 orang. Mereka rata-rata bekerja sebagai penyuluh peternakan, tenaga pemasaran, dan komputerisasi manajemen perusahaan. Tujuan utama lainnya adalah memperkenalkan peternakan ayam modern kepada generasi muda Ciamis. Saat ini, 50 persen dari 240 siswa berasal dari daerah sentra ternak ayam, yakni Kecamatan Panumbangan dan Kecamatan Panjalu. Ciamis adalah sentra utama peternakan ayam Jawa Barat. Sebanyak 8.000 peternak menghasilkan 400.000 ayam yang dikirim ke berbagai kota besar, seperti Jakarta dan Bandung.

Menariknya lagi, di sekolah ini siswa seperti memasuki perusahaan peternakan unggas. Siswa harus disemprot desinfektan saat masuk dan keluar kandang. Tujuannya menjaga kebersihan kandang dan menjamin tidak ada sisa aktivitas di kandang yang terbawa ke luar. Hal ini sesuai dengan standar kesehatan kandang yang diterapkan Badan untuk Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).

Begitu banyak Didin berbagi pengalaman di tengah sempitnya waktu istirahat siang. Ia berharap kegiatan lokakarya SAFE kali ini bisa menunjang kinerjanya sebagai guru dan usahanya di peternakan. Bersama peserta lainnya, ia tampak semangat disetiap kegiatan workshop. Katanya hanya ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah dan usaha ternaknya.

Sepulangnya dari kegiatan lokakarya, Didin berharap supaya tidak hanya dirinya bersama peserta yang mendapat pelatihan, tapi ada penyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat tidak mampu untuk bidang agronomi, sebagai usaha peran serta dalam membangun SDM (Sumber Daya Manusia) yang handal dan mengarah kepada pembentukan SDM cerdas dan mampu mengembangkan keahliannya guna dapat hidup mandiri.

Septian Ginanjar

(Pelatihan Technical Service dan pengembangan biosecurity, Tasikmalaya)