• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Uncategorized

Alhamdulillah Berkat KSM di Program MURIA, Kami di Marunda Bebas dari Rentenir

Warga berdiskusi terkait aturan yang disepakati di kelompok UBSP RW 7 Marunda

“Bergabung di MURIA, saya mendapatkan ilmu yang banyak. Belajar menghargai orang lain, punya saudara yang banyak dan jeli melihat kesempatan yang ada…. Dengan adanya program-program dari MURIA, kita merasa jadi perempuan yang berguna walau hanya mengerjakan/ memilah sampah misalnya. Kita jadi sadar akan kebersihan lingkungan. Dan dengan adanya UBSP, kita jadi membantu ibu-ibu dan tetangga saya untuk tidak berurusan dengan rentenir dan bank titil yang bunganya sangat tinggi.. kalau menjadi anggota MURIA pasti menjadi perempuan yang pinter… Saya berterima kasih atas semua kesempatan yang sudah diberikan, dulu kami yang gak tau apa-apa sekarang jadi punya ilmu” kata Warni, Pengurus KSM Teratai dan info menarik lainnya silakan kunjungi Best Practice MURIA-Kolaborasi Multi Stakeholder Rev240918

Biogas: Mengolah Limbah jadi Berkah

Renita menunjukan kompor dan rice cooker biogas yang di hasilkan dari limbah kotoran manusia

Renita menunjukan kompor dan rice cooker biogas yang di hasilkan dari limbah kotoran manusia

Saat ini, biogas menjadi sumber energi alternatif yang mampu memenuhi kebutuhan manusia dan hargaya terjangkau. Keunggulan biogas ini, menuntun Tim Marketing Bina Swadaya Konsultan (BSK) berkunjung ke PT. Swen Inovasi Transfer pimpinan Sri Wahyuni di Jl. Cikerti Kelurahan Padasuka Kecamatan Ciomas Bogor Jawa Barat.

Biogas bisa jadi solusi membuat pupuk organik untuk pertanian, peternakan yang bersih dan ramah lingkungan, tanpa polusi udara, tanah dan pemanasan global. Selain itu bisa ciptakan peluang usaha yang ekonomis, mulai dari usaha skala kecil hingga besar. Pembahasan tentang pertanian, peternakan dan lingkungan sangat relevan dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat.  “Inilah misi kita untuk belajar biogas sebagai sarana untuk pemberdayaan di masyarakat”, ungkap Frida Widuratmi Manajer Marketing BSK.

“Biogas menjadi alternatif terbarukan di tengah krisis energi dan tentunya murah” ujar Kepala HRD PT. Swen Renita Sari saat membuka obrolan. Tim BSK yakni Manajer Marketing Frida Widuratmi bersama Ana Budi Rahayu, Unik Wimawan, Agus Suswanto dan Septian Ginanjar diajak oleh Renita untuk melihat energi yang dihasilkan dari limbah pertanian, peternakan, termasuk kotoran manusia.

Renita menunjukan biogas yang dihasilkan dari kotoran manusia (tinja). “Campuran tinja dan air mengalir menuju penampung gas (kubah), lalu gas metana yang dihasilkan di dalam kubah mengalir ke dapur melalui pipa dan tersambung pada kompor dan alat masak nasi (rice cooker) ini. “Gas biru tanpa rasa, bau, dan tanpa khawatir akan meledak” tuturnya sambil perlihatkan api yang menyala di kompor biogas.

Selanjutnya yang dituju tempat produksi peralatan biogas. Terlihat dari depan PT. Swen, terkumpul banyak peralatan biogas dari serat kaca (fiber glass) dengan khas warna biru. “Inilah peralatan digester biogas dari serat kaca yang dikembangkan. Ini menjadi visi kami sebagai produsen terkemuka, berkualitas, efisien, inovatif” kata Renita. Menurutnya, komponen reaktor biogas tersebut dengan berbagai tipe ukuran dan kapasitas yang kedap udara, ringan serta mudah dalam pemasangan dan perawatan.

Tak jauh disamping produksi fiber glass, ada kebun percontohan yang kata Sri Wahyuni sebagai tempat memulai mengembangkan biogas menuju kemandirian pangan dan energi. Tanaman dengan pucuk merah di kiri-kanan jalan masuk ke kebun seakan menyambut Tim BSK

Tim BSK kunjungi kebun percontohan. Dikebun inilah dikembangkannya potensi biogas menuju kemandirian pangan dan energi

Tim BSK kunjungi kebun percontohan. Dikebun inilah dikembangkannya potensi biogas menuju kemandirian pangan dan energi

Ruang terbuka kurang lebih 800 m2 itu, semua tanaman tertata rapi. Tampak buah mangga, jambu, macam sayuran kangkung, sawi dan lainnya bergitu berseri, baik yang di pot maupun di tanah dengan sistem vertikultur dan hidroponik. Adapun rumah jamur dengan berbagai jenis yang subur dan merekah. Kesuburan tanaman dan tanahnya ini tentunya dihasilkan dari pupuk organik olahan biogas limbah peternakan dan pertanian.

Terlihat ada empat ekor sapi tegap yang hanya ditugaskan untuk makan, tidur, dan keluarkan kotoran serta urinnya. Itu saja kewajibannya, makan kenyang, tidur sepuasnya, dan keluarkan kotoran sebanyaknya”, kata Renita.  Biasanya, seekor sapi per hari akan mengeluarkan kotoran sekitar 15 kilogram. Kemudian ada juga domba yang tugasnya sama saja dengan sapi, cuma domba harus rela serahkan bulu-bulunya yang panjang dan kriting, salah satunya buat boneka domba dan untuk kerajinan lainnya.

Kompaknya sapi dan domba diikuti pula oleh puluhan ayam kampung yang kandangnya dibuat dua baris memanjang sekitar empat meter dan posisinya melekat dengan tembok. Tugas ayam juga sama yakni makan, tidur, dan keluarkan kotoran. Meski begitu ayam boleh bangga, karena protein telurnya selalu dinanti.

“Kotoran sapi, domba, dan ayam ini nantinya diolah menjadi biogas,” ujar Renita sembari menunjuk tabung digester berupa tangki reaktor biogas terbuat dari fiber glass dengan posisi ditanam dalam tanah. Meski hanya kubahnya yang terlihat, namun ukuran tinggi aslinya adalah 2 m lebih dengan volume sekitar 4 m3.

Dalam digester inilah, kotoran ternak diubah menjadi gas biru tidak berbau. Bahkan, bukan hanya menjadi gas, limbahnya juga dapat dipergunakan sebagai pupuk cair maupun pupuk padat yang tidak tergantikan oleh pupuk kimia.

Urin sapi pun bermanfaat sebagai pupuk cair. Urin yang terlebih dahulu di fermentasi sebelum digunakan. Manfaatnya untuk kesuburan tanah, meningkatkan kapasitas serap air tanah, menjadi vitamin bagi tanaman, menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman dan tentunya ramah lingkungan. “Semua tanaman di sini hasil dari pengembangan biogas. Tidak ada yang dibuang percuma”, ucapnya.

Menurut Renita, selain berhasil menciptakan peralatan hebat seperti kompor biogas, rice cooker, lampu, Sri Wahyuni juga ciptakan traktor bajak untuk sawah, generator biogas, pompa air, oven, water trap, dan lainnya yang lagi-lagi menggunakan kekuatan super biogas. “BBM Naik !!! Ayo gunakan Biogas” itulah jargon yang menempel di karyanya.

Rasanya, melihat biogas yang dikembangkan Sri Wahyuni ini mampu menjawab segala kebutuhan manusia saat ini. Apalagi negara kita sampah atau limbah begitu banyak, baik limbah industri maupun rumah tangga. Namun sayangnya, banyak yang belum memanfaatkan limbah tersebut untuk energi alternatif.

Tim BSK sempatkan berembug dan bermimpi rasanya ingin tancap gas untuk kembangkan biogas, dengan harapan bisa berbagi dan memberi manfaat bagi pendampingan di masyarakat. Limbah yang berlimpah bisa jadi berkah.

 

Septian Ginanjar

(Kegiatan belajar Tim Marketing BSK tentang Biogas di PT. Swen Inovasi Transfer, Bogor) 

 

 

 

 

 

 

 

1