• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Kajian Livelihood Pasca Konflik Caritas Czech Republic (CCR)

Kajian Livelihood Pasca Konflik Caritas Czech Republic (CCR)

KAJIAN LIVELIHOOD PASCA KONFLIK
Caritas Czech Republic (CCR)

Pendahuluan

Konflik yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) selama lebih kurang tiga dekade telah menyimpan duka yang mendalam di kalangan masyarakat Aceh. Tidak hanya efek psikologis yang dialami masyarakat tapi juga terganggu dan hilangnya mata pencaharian mereka. Petani tidak berani ke sawah, kebun dibiarkan tanpa pernah peduli lagi untuk mengurusnya, dan pada akhirnya pendapatan tidak sebanding dengan kebutuhan keluarga. Kondisi ini dialami oleh hampir sebagian besar masyarakat Aceh tak terkecuali di Kecamatan Sampoiniet Kabupaten Aceh Jaya yang menjadi lokasi kajian.

Kepedihan masyarakat semakin bertambah ketika musibah gempa bumi dan gelombang tsunami melanda tanah rencong ini pada tanggal 26 Desember 2004. Rumah hancur, ratusan ribu orang meninggal, infrastruktur rusak berat, dan mata pencaharian masyarakat hilang. Banyak bantuan berdatangan dari berbagai belahan dunia sebagai respon dan rasa empati yang mendalam bagi korban musibah ini. Ada bantuan yang bersifat darurat (makanan, pakaian, dan tempat tinggal darurat) dan berjangka panjang seperti pembangunan infrastruktur dan pemulihan mata pencaharian.

Menanggapi kondisi masyarakat Aceh seperti hal tersebut di atas, Republik Ceko memberikan bantuan baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam pelaksanaannya bantuan Republik Ceko terfokus pada 3 kegiatan utama, yaitu pembangunan kembali Sekolah Menengah Atas (SMA), penyembuhan trauma anak-anak yang berada di kamp-kamp pengungsi lewat belajar seni tradisional Aceh, serta pemulihan mata pencaharian yang berkelanjutan. Untuk mengurangi dampak yang dialami masyarakat Aceh, terutama dampak pasca konflik, Republik Ceko bekerjasama dengan Bina Swadaya Konsultan melakukan program pemulihan mata pencaharian masyarakat di wilayah Kecamatan Sampoiniet selama sebulan (April 2008). Kecamatan Sampoiniet merupakan salah satu wilayah  yang belum pulih kondisi sosial-ekonomi masyarakatnya.

Tujuan

Tujuan umum proyek ini adalah membantu pengembangan mata pencaharian yang berkelanjutan dalam mendukung pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati di desa-desa di Kecamatan Sampoiniet yang terkena dampak konflik. 

Kemudian kajian Livelihood Pasca Konflik bertujuan untuk:

  1. Mengadakan studi penjajakan mata pencaharian masyarakat di 21 desa dengan bekerja sama dengan petugas lapangan Caritas Czech Republic (CCR), staf proyek dan Program Manager
  2. Pemetaan potensi dan masalah dalam masyarakat dan memberikan rekomendasi program mata pencaharian yang sesuai untuk dikembangkan di 21 desa di Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya
  3. Memberikan rekomendasi program mata pencaharian untuk 21 di Kecamatan Sampoiniet dalam bentuk matriks dan rencana kerja untuk periode Mei 2008 sampai dengan Desember 2009

Metodologi

  1. Metodologi yang diterapkan dalam kajian penjajagan ini adalah:
  2. Studi penjajagan data pendudukung
  3. Konseptualisasi dan Instrumentasi
  4. Mencari data utama
  5. Focus Group Discussion (FGD)
  6. Triangulasi data
  7. Analisis data

Sasaran dan Lokasi Program

Sasaran atau target group kajian adalah masyarakat yang berada di 21 Desa di Kecamatan Sampoiniet. Dari 38 jumlah desa di Kecamatan Sampoiniet, hanya 21 Desa yang ditetapkan menjadi lokasi sasaran program. Kajian mata pencaharian di 21 desa ini dilaksanakan oleh 8 orang fasilitator Bina Swadaya Konsultan, dan masing-masing fasilitator bertanggung jawab atas 2 – 3 desa.

Tahapan Kegiatan

Studi penjajagan dilaksanakan selama 5 hari di semua desa sasaran program dengan tahapan kegiatan sebagai berikut:

  1. Sosialisasi program kepada masyarakat
  2. Pelaksanaan kegiatan (pengumpulan data, penyusunan data, analisa data)
  3. Membuat matrik log-frame dan matrik rencana kerja
  4. Penulisan laporan

Hasil yang Dicapai

  1. Rendahnya pendapatan masyarakat akibat terbatasnya sumber-sumber mata pencaharian
  2. Petani tidak mempunyai kemampuan teknis dan manajerial dalam pengolahan pertanian
  3. Kurangnya pengetahuan  masyarakat tentang agro-forestry sehingga tanggul yang tidak ditanami tanaman penahan berpotensi datangnya bencana alam.
  4. Tingginya partisipasi perempuan dalam kegiatan pertanian.

Peran Bina Swadaya Konsultan

Peran Bina Swadaya Konsultan dalam program Kajian Livelihood Pasca Konflik ini adalah: a) melakukan studi penjajakan di lapangan, b) pengumpulan data lewat wawancara dengan sumber-sumber informasi yang terkait dengan pengolahan sawah, pengolahan kebun, kegiatan sehari-hari masyarakat, agro forestry, perikanan, dan aquakultur, c) menyusun dan menganalisa data yang sudah terkumpul, dan d) membuat laporan hasil kajian berikut rekomendasi-rekomendasi yang perlu ditindaklanjuti.  

admin-webbsk

Leave a Reply