• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Penelusuran Kebutuhan Pelatihan di Kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Rambutan-Parit

Penelusuran Kebutuhan Pelatihan di Kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Rambutan-Parit

PENELUSURAN KEBUTUHAN PELATIHAN

DI KAWASAN KOTA TERPADU MANDIRI (KTM) RAMBUTAN-PARIT

Pendahuluan

Kota Terpadu Mandiri (KTM) merupakan pembangunan kawasan transmigrasi yang sejak awal  dirancang menjadi pusat pertumbuhan baru yang memiliki fungsi perkotaan melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan menjadi strategi program andalan di bidang ketransmigrasian di lingkup Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia. Konsep pembangunan KTM dilandasi pemikiran bahwa kebutuhan dan orientasi kehidupan masyarakat kita telah berkembang yang menuntut adanya sarana prasarana perekonomian yang memadahi.  Program ini digulirkan melalui Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No 214 tahun 2007. KTM dibentuk karena selama ini banyak daerah lokasi penempatan transmigrasi yang kurang berkembang, walaupun ada sebagian yang berhasil. KTM Rambutan-Parit, Kabupaten Ogan Ilir merupakan salah satu program KTM Provinsi Sumatera Selatan yang akan dikembangkan menjadi pusat pertumbuhan secara berkelanjutan.

Program pembangunan KTM di wilayah Kabupaten Ogan Ilir menempati areal seluas 34.393 ha dan  diharapkan menjadi pusat pertumbuhan baru yang memiliki fungsi perkotaan melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Sifat dan karakteristik perkotaan dalam kawasan KTM mengharuskan pembangunan berbagai fasilitas penunjang, baik untuk kegiatan perekonomian, industri maupun jasa. Dalam kawasan tersebut juga akan dibangun satu pusat pengembangan hulu yang disesuaikan dengan potensi yang ada seperti sektor-sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan.

Agar pertumbuhan dan pembangunan KTM dapat berjalan dengan baik, maka peran serta masyarakat transmigrasi sebagai subyek pembangunan menjadi faktor penting dalam proses pembangunan. Pelibatan masyarakat transmigran dimulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi. Pelibatan ini mencerminkan adanya upaya pemberdayaan dan kemandirian masyarakat transmigran dalam persiapan dan pelaksanaan pembangunan. Pemberdayaan ini diawali dengan kegiatan penjajagan kebutuhan pengembangan masyarakat yang mencakup pelatihan, pendampingan, pembangunan sarana fisik dan stimulan. Dalam rangka mewujudkan program tersebut, Bina Swadaya Konsultan masih diberikan kepercayaan oleh Balai Besar Pengembang Latihan Ketransmigrasian (BBPLK) Depnakertrans untuk menangani dan mengelola pekerjaan layanan ”Penelusuran Kebutuhan Pelatihan di Kawasan Kota Terpadu Mandiri”. Kegiatan tersebut berlansung selama 3 (tiga) bulan, yakni dimulai bulan Oktober sampai dengan bulan Desember 2008.

Tujuan Program

Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah:

  1. Mengkaji sumberdaya dan kondisi lingkungan di Kawasan KTM Rambutan-Parit
  2. Memformulasikan rencana pengembangan masyarakat di Kawasan KTM Rambutan-Parit
  3. Memformulasikan kebutuhan pelatihan transmigrasi untuk Kawasan KTM Rambutan-Parit

Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam pengkajian masyarakat desa adalah pendekatan partisipasi dengan memfasilitasi masyarakat dalam proses pembelajaran dan pemahaman yang memadahi untuk mengkaji potensi, masalah dan kebutuhan mereka. Pendekatan ini dimaksudkan dalam upaya meningkatkan rasa memiliki, tanggungjawab dan kepedulian masyarakat terhadap rencana program.   

Lokasi Program

Lokasi kajian adalah Kawasan Kota Terpadu Mandiri Rambutan – Parit Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan yang mencakup 5 desa (Desa Rambutan, Parit, Lorok, Bakung, Purnajaya) dan 2 UPT (UPT Rambutan dan UPT Parit).

Sasaran Program

Sasaran program kegiatan adalah masyarakat yang berada di lima desa tersebut (petani sawit, petani karet, petani karet, petani sayur, peternak sapi, peternak ayam) dan instansi terkait (Bappeda Kab. Ogan Ilir, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Ketahanan Pangan).

Tahapan Kegiatan

Tahapan kegiatan penelusuran kebutuhan pelatihan ini adalah sebagai berikut:

  1. Presentasi laporan pendahuluan
  2. Survei pendahuluan
  3. Lokakarya desa tahap I
  4. Lokakarya desa tahap II
  5. Lokakarya di pusat KTM
  6. Lokakarya di kabupaten
  7. Seminar hasil kajian lapangan
  8. Presentasi draft laporan akhir

Hasil yang Dicapai

Dari kegiatan penelusuran ini diperoleh hasil kebutuhan masyarakat akan pengembangan infrastruktur, komoditas unggulan masyarakat, dan industri kecil. Disamping itu juga ditemukan persoalan lain berupa kebutuhan peningkatan kapasitas sumber daya manusia pada lima bidang, yaitu:

  1. Bidang Ekonomi

Tantangan yang dihadapi dalam pengembangan SDM adalah meningkatkan kemampuan petani, pengurus KUD, kelompok tani, dan kelompok simpan pinjam

  1. Bidang Sosial Budaya

Tantangan yang dihadapi dalam pengembangan SDM adalah meningkatkan kemampuan SDM dalam sub bidang pendidikan (keterampilan mengajar dan manajemen penyelenggaraan PAUD), kesehatan (pelatihan kader posyandu dan sanitasi), serta pembinaan generasi muda (pelatihan tari)

  1. Bidang Mental Spiritual

Tantangan yang dihadapi dalam pengembangan SDM adalah meningkatkan pengetahuan dan kemampuan ustadz/da`i dalam menyampaikan materi dakwah yang lebih mengena.

  1. Bidang Kelembagaan

Persoalan yang dihadapi dalam bidang ini adalah masih rendahnya kemampuan SDM dalam pembentukan dan pengembangan KUD, penyusunan peraturan desa, serta mengelola kelompok tani, PKK, karang taruna, dan BPD

  1. Bidang Keamanan

Tantangan yang dihadapi dalam pengembangan SDM adalah meningkatkan kemampuan SDM dalam bela diri anggota Linmas, dan penanganan CBDRM (Community Based Disaster Risk Management)

Peran Bina Swadaya Konsultan

  1. Melakukan kajian lapangan kebutuhan pelatihan di Kota Terpadu Mandiri Rambutan-Parit
  2. Menyusun pelatihan-pelatihan di 5 aspek, yakni ekonomi, sosial-budaya, mental- spiritual, kelembagaan, dan keamanan.
admin-webbsk