• +62-21 4204402
  • bswadaya@bsk.co.id

Author Archive admin-webbsk

Mama Belandina : Pelita di Tengah Keluarga

mama

Mama Belandina

Siang itu matahari berpendar dengan gagahnya, membuat peluh seolah berlomba keluar dari rongga kulit setiap orang yang terkena sinarnya. Suara lantang seorang ibu mengajak beberapa orang di kebun untuk beristiahat sejenak, tiba-tiba memecah siang yang cerah namun sejuk di daratan Pulau Timor.

Mama Belandina, begitu wanita itu dipanggil, adalah ketua kelompok Adikka Dusun 3 Desa Nakfunu, TTS, NTT.  Hampir seluruh anggota kelompok berkumpul di kebun belajar kelompok dusun 3. Ya, hari itu adalah jadwal kerja kelompok di lahan belajar yang merupakan manifestasi perencanaan warga Desa Nakfunu pasca kegiatan kajian PRB lalu.

Rasa lelah mulai terasa setelah setengah harian anggota kelompok bekerja membersihkan lahan untuk persiapan tanam. Mama Belandina bergegas mengambil satu teko air minum dari rumahnya–yang kebetulan letaknya dekat dengan lokasi lahan belajar, untuk anggota kelompok yang saat itu beristirahat di bawah pohon rindang. Seakan tidak kenal lelah, Mama Belandina kembali menuju rumah dan tak lama kemudian muncul membawa singkong rebus dan sambal luat yang baru saja dimasaknya untuk dimakan besama.

Penggerak Semangat

Sejak awal kajian, saya sudah mulai tertarik memperhatikan wanita 41 tahun yang begitu sering bercerita dan berani mengungkapkan pendapatnya di sela-sela diskusi kajian ini. Belandina adalah seorang ibu tiga orang anak yang dikenal gigih dan aktif dalam setiap kegiatan di desanya, Desa Nakfunu. Tak jarang pernyataan yang diungkapkannya selama kajian, memancing diskusi dan perdebatan dengan peserta kajian lainnya saat itu. Salah satunya adalah ketika fasilitator mengajak warga untuk berdiskusi mengenai peranan pihak-pihak yang ada di dalam desa untuk menyusun diagram venn. Saat itu Mama Belandina menyatakan bahwa dukungan pemerintah desa dinilai kurang terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan warga desa karena kepala desa yang jarang tinggal di desa. Hal lain juga terjadi saat diskusi mengenai kalender musim, akses control, dan alat kajian lain.

Ditemui di beberapa kesempatan, wanita yang juga menjadi kader kesehatan desa ini sebenarnya sangat bersemangat jika ada pihak luar yang mau mendorong warga untuk mencapai kehidupan yang lebih maju. ‘Lebih maju’ dalam pemahamannya, tidak melulu hidup sebagai petani miskin dan pasrah saja. “Beta senang memang dengan ada program-program begini karena dong kami bisa tau pengetahuan banyak supaya maju..”, tuturnya dengan wajah penuh senyum.

Tak ada jalan mudah yang ditempuh, dibalik kegembiraannya terselip nada pesimis, terselip nada pesimis terhadap warga dusunnya yang cukup ‘sulit’ untuk diajak berkelompok. Hal ini diungkapkannya ketika ia mengingat program yang lalu juga pernah menjadikan kelompok sebagai pendekatan dalam pelaksanaan program. “..warga dong pernah juga bentuk kelompok, tapi setelah program habis, kelompok dong tidak jalan lagi. Ada warga yang memang cuma mau kerja kalau ada program saja..

Di antara warga desa lainnya, Mama Belandina memang memiliki cita-cita dan semangat yang tinggi untuk memajukan kehidupannya. Semangat ini juga datang dari anak-anaknya yang saat ini menempuh pendidikan tinggi di Politeknik dan Universitas Terbuka. Pernah dalam suatu waktu ia berbincang dengan sang anak, “..mama dong biar tinggal di desa tapi tetap harus bisa maju dari yang lain. Jangan hanya mau hidup begini saja..” celoteh sang anak. Hal itu pula lah yang kemudian menjadi semangat bagi Mama Belandina untuk mengusahakan kehidupan yang baik. Berbekal semangat dan pengetahuan yang dimiliki, ia mengusahakan beberapa kebun sayur yang dikelolanya juga bersama keluarga.

*****

Singkong dan sambal telah habis dari piringnya. Satu teko air pun tandas bersamaan dengan itu. Sementara anggota kelompok …. masih asik berbincang sembari mengunyah sirih pinang sebagai salah satu kebiasaan sebagian besar warga desa. Mama Belandina dibantu dua orang ibu lainnya sibuk merapikan gelas dan piring untuk dibawa kembali ke rumah. Seperti juga matahari, semangat Mama Belandina bisa jadi adalah pelita yang tidak pernah redup bagi keluarga dan lingkungannya. Semoga…

Fransisca Risky Mayang Arum

(Program Partners for Resilience di Desa Nakfunu, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT)

 

IOM Training

APHEDA Training

imgp1316

imgp1265

imgp1220

Video Gallery

Galeri Video

NAKERTRANS Training

Berau Training

Resources BSK

Resources owned in part reflects the potential, experience and learning Bina Swadaya Konsultan in handling projects/programs of community empowerment in the form of best practices, project leaflets, bulletins project, publishing a book or availability of experts who owned and involvement in a number of networks.

Sumberdaya

Sumberdaya yang dimiliki  mencerminkan sebagian potensi, pengalaman dan pembelajaran Bina Swadaya Konsultan dalam menangani proyek/program pemberdayaan masyarakat baik berupa best practice, leaflet proyek, bulletin proyek, penerbitan buku maupun ketersediaan tenaga ahli yang dimilki dan keterlibatan di sejumlah jejaring.

TRAINING OF POST-HARVEST

TRAINING OF POST-HARVEST and comparative study of processing bananas for groups to Food Production Center of Loa Kulu in Kutai Kartanegara District, East Kalimantan